PENDAHULUAN Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian telah banyak menghasilkan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Salah satu inovasi yang sedang didesimenasikan saat ini adalah Teknologi Jarwo Super. Penerapan teknologi jarwo super secara utuh diyakini mampu memberikan hasil minimal 10 ton GKG per ha. Teknologi Jajar Legowo (Jarwo) Super adalah teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1. Bagian terpenting teknologi ini adalah sistem tanam jajar legowo, Varietas Unggul Baru (VUB) padi potensi hasil tinggi, biodekomposer yang diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah, seed treatment dengan pupuk hayati dan pemupukan berimbang berdasarkan perangkat uji tanah sawah, pengendalian OPT menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali dan penggunaan alat dan mesin pertanian (Balitbangtan, 2016). Varietas unggul merupakan salah satu komponen utama teknologi yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani. Pemerintah melalui Balitbangtan telah melepas ratusan varietas unggul padi, petani dapat memilih varietas yang sesuai dengan kondisi daerah masing - masing. Pada kegiatan kaji terap di Kabupaten Cirebon tahun 2018 BPTP Jawa Barat telah mengenalkan Varietas Padi M70. Kaji terap merupakan uji coba teknologi yang dilakukan oleh pelaku utama untuk menyakinkan keunggulan teknologi anjuran dibandingkan teknologi yang pernah diterapkan, sebelum diterapkan atau dianjurkan kepada pelaku utama yang lainnya (Nugroho, 2015). Mungkin varietas padi M70D belum setenar Ciherang, Mekongga, ataupun Inpari. Namun jika anda mengetahui tentang Deskripsi padi M70D mungkin anda akan berpikir untuk mencoba menanam padi M70D. Varietas padi M70D adalah salah satu varietas padi yang di kembangkan oleh Himpunan Kerukanan Tani Indonesia (HKTI) melalui penangkaran benih yang di lakukan oleh M.Tani. Varietas Padi M70D di keluarkan berbarengan dengan varietas padi M400, dan kedua varietas padi tersebut di uji coba di Jember pada tahun 2017. Pada masa uji coba Varietas Padi M70D berhasil mencapai 9,6 ton/ha, dengan masa tanam hanya 63 hari setelah tanam. Jadi varietas padi M70D bisa 4 kali panen tiap tahunnya. Karena masa tanam yang singkat maka pemupukan padi M70D harus sudah selesai ketika padi ini berumur 25 hari, karena jika dilakukan terlambat maka akan mempermudah padi roboh dan terkena jamur. Kelebihan padi M70D adalah masa tanam yang super singkat hanya membutuhkan waktu kurang dari 80 hari, namun jika tanaman padi M70D tidak terkena hama dan penyakit maka masa panen hanya membutuhkan waktu 63 hari saja Selain unggul dari masa tanam yang genjah, padi M70D juga memiliki bobot yang berat, terbukti 1.000 bulir padi M70D menghasilkan bobot padi sebesar 28 gram. Tetapi padi ini miliki kekurangan, Kekurangan padi M70D adalah rentan terkena penyakit potong leher yang disebabkan oleh jamur. Kelurahan Pasalakan Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon memiliki luasa lahan sawah 54 Ha, sedangkan hanya bisa dua musim tanam yaitu MTI dan MT II untuk tanaman padi karena kesulitan air pada musim kemarau. Pada MT III petani kelurahan Pasalkan biasanya sumur pantek dan pompa air dan itu pun kurang maksimal untuk di tanami Padi. Pada Bulan Desember 2021 mendapat bantuan benih Padi M70D dari B dari Maka perlu melakukan Pengkajian dipilih metode yang digunakan untuk mengetahui persepsi petani terhadap Benih Padi M70D sehingga meningkatkan hasil Produktivitas Padi Pada Kelurahan Pasalakan. METODE PENGKAJIAN Kegiatan ini di laksanakan menggunakan metode Wawancara secara langsung tatap muka terhadap Petani / responden dan menggunakan Demplot Penanaman sampai Panen dan Pasca Panen Padi Varietas M70D di Gapoktan Sumber Jaya Pada bulan Desember 2021 sampai dengan bulan maret Tahun 2022 di Kelurahan Pasalakan Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya Padi Varietas M70 D Deskripsi Padi M70D Golongan : Cere Bentuk tanaman : Tegak Daun Bendera : Tegak Tinggi : 120 Cm Potensi Hasil : 12 ton/ha Rata-rata : 9.5 ton/ha Tekstur nasi : Pulen Pengolahan lahan Kegiatan pengolahan lahan yang dilakukan umumnya untuk padi sawah bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah sebagai media tumbuh tanaman padi. Tahapan pengolahan lahan, pada lahan basah/sawah: Bajak Pertama Membalik tanah sedalam lapisan olah/topsoil menggunakan alat bajak, berguna; Lapisan tanah bagian bawah diangkat untuk membongkar endapan mineral/Hara yang sulit diraih akar. Memperlancar sirkulasi udara, oksigen dimasukkan dan gas-gas yang dapat meracuni tanaman melalui perakaran dikeluarkan. Rumput, benih-benih gulma dan Sisa tumbuhan lainnya dibenamkan memperkaya bahan organik tanah Bajak Kedua Berselang 1 sampai 2 minggu dilakukan pembajakan kedua dengan memotong arah dari arah pembajakan pertama, berguna; Memperkecil bongkahan tanah menjadi remah. Meratakan/homogen campuran antara unsur liat, pasir, tanah dan bahan orgaik pada lapisan olah. Mematikan bibit-bibit gulma yang baru tumbuh. Garu Idealnya dilaksanakan 1-2 minggu berselang dari bajak kedua, berguna; Membentuk lapisan kedap air di permukaan tanah. Untuk lahan yang memiliki lapisan kedap air di bawah lapisan olah/top soil tujuan ini bisa diabaikan. Meratakan lahan agar tinggi permukaan air seragam di pertanaman. Membenamkan bagian-bagian tumbuhan yang masih tersisa. Pengolahan lahan pada lahan tegal/ladang dengan becocok tanam sistem gogo, pengolahan lahan menggunakan kaidah-kaidah yang sama dengan di lahan sawah, yaitu untuk memperbaiki komposisi lapisan olah/ top soil, melancarkan sirkulasi udara dalam tanah, mengurangi gulma, dan meratakan permukaan. selain itu pada sistem tanam gogo juga bisa kita lakukan budidaya padi tanpa olah tanah (ToT) Kelalaian dalam pegolahan lahan memungkinkan besar produksi yang ingin tidak tercapai. Bercocok tanam tanpa olah tanah dapat dilakukan pada lahan bukaan baru (Hutan) yang kesuburannya masih terjaga. Atau melalui pengolahan alamiah secara pertahap kesuburan di tingkatkan yaitu dengan mengembalikan sebagian besar sisa tanaman setiap panen pada permukan lahan di tambah pengaturan irigasi yang baik. Seleksi Benih Persiapkan air yang telah diisi sejumlah garam sampai telur mengapung kemudian dipakai untuk menseleksi benih. Caranya masukan benih padi ke dalam air bergaram tersebut, maka akan diperoleh kondisi benih tenggelam, melayang dan mengapung. Selain yang tenggelam jangan dipakai untuk benih, ambil benih yang tenggelam kemudian dibilas dengan air bersih sesegera mungkin sampai tidak ada rasa garam lagi bila dicicipi. Rendam selama 48 jam kemudian tiriskan dan peram selama 24 jam dan setelah itu siap sebar. Umumnya benih akan terseleksi pada kisaran 5 – 15%. Persemaian Umumnya petani membutuhkan benih sampai kisaran 35–40 kg per hektaree tetapi dengan sistem baru (SRI-System of Rice Intensification) cukup dipersiapkan 10 kg per hektaree. Persemaian dilakukan dengan menyebar benih padi secara merata pada bedengan dengan kandungan air jenuh tetapi tidak menggenang. Dalam tiga atau empat hari benih telah berkecambah. Bibit siap tanam pada kisaran 10 – 14 hss (hari setelah sebar) jika memakai sistem SRI tetapi dengan sistem biasa tanaman muda (bibit) yang berumur tiga minggu baru dikatakan siap tanam. Menghindari stagnasi setelah bibit di tanam seyogyanya tidak dicabut dan cukup diambil secara menyeluruh perakaran termasuk tanahnya kemudian dipindah tanamkan ke lahan sawah. Budidaya padi pada lahan berawa atau keasaman tinggi serta di lahan kering tidak memerlukan persemaian, tanam benih langsung (Tabela). 4) Penanaman Penanaman padi di sawah umumnya ditanam dengan jarak teratur. Yang paling popular di Pulau Jawa adalah berjarak 20 cm. Tanaman muda ditancapkan ke dalam tanah yang digenangi air sedalam 10 sampai 15 cm hingga akarnya terbenam di bawah permukaan tanah. Padi lahan kering ditanam langsung di ladang. Setelah tanah basah, benih disebar dalam larikan-larikan atau menggunakan alat tanam padi. Padi lahan kering umumnya mengandalkan hujan dalam penyediaan air. Tidak ada penggenangan dalam budidaya lahan kering. Dalam budidaya gogo rancah, benih bahkan disebar pada tanah kering, sebelum hujan turun. 5) Pemeliharaan Padi adalah jenis tanaman yang memerlukan perawatan untuk pertumbuhannya. Perawatan dapat berupa pemupukan dan penanggulangan hama ; pemupukan pada tanaman padi dapat menggunakan pupuk urea, pupuk Kcl, dan poshpat. Adapun tata cara pemupukan yang ideal untuk tanaman padi adalah dengan memperhatikan kondisi tanah dan tanaman itu sendiri. Kondisi tanah yang harus diperhatikan adalah keasaman tanah, sementara dari tanaman adalah dengan melihat seberapa besar pertumbuhan tanaman; dengan kata lain pertumbuhan harus sesuai dengan kriteria yang ada. Sementara itu untuk penanggulangan hama penyakit dapat digunakan berbagai macam obat2 an misal akodan, dencis dll. Pemupukan Pemupukan disesuaikan dengan rekomendasi Hasil uji Tanah pada lahan becocok tanam dan Hasil penelitian Varietas padi yang akan digunakan. Tanaman tumbuh membutuhkan karbon dioksida, mineral-mineral, air dan cahaya matahari. Untuk pertumbuhan yang baik diperlukan tersedianya hara tanaman tersebut terus menerus dan mencukupi. Beberapa unsur hara diserap oleh tanaman dalam jumlah yang besar dan disebut sebagai unsur makro. Termasuk di dalam unsur makro merupakan unsur hara yang banyak dibutuhkan tanaman adalah nitrogen (N), phospor (P), kalium K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan sulfur (S). Suatu ciri dari unsur hara makro yaitu apabila tersedianya sangat kurang akan menunjukkan gejala kelapran dan menurunkan hasil, sedangkan dalam keadaan berlebihan tidak akan meracun tanaman atau mengurangi hasil. Makanan atau unsur hara tanaman C, H dan O diperoleh dari udara, sedangkan N, P, K, Ca, Mg, dan S serta unsur hara mikro lainnya diperoleh dari tanah. Aktivitas produksi pertanian intensif pada suatu bidang tanah tertentu telah mengakibatkan penurunan kandungan hara pada tanah yang bersangkutan. Untuk mendukung produksi pertanian yang relatif tetap tinggi dibutuhkan penambahan hara tersebut melalui “pemupukan”. Pemupukan merupakan upaya penambahan kekurangan hara tanah dalam jumlah, waktu dan cara yang tepat. 7) Hama dan Penyakit Untuk pengendalian hama dan penyakit kita harus mengenal hama dan penyakit yang biasanya menyerang tanaman padi beserta dengan gejala serangan, sehingga kita tidak salah dalam hal pengendalian hama dan penyakit tersebut. Berikut hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman padi : Hama utama tanaman padi Penggerek batang padi putih (sundep),Scirpophaga innotata) Penggerek batang padi kuning (S. incertulas) Wereng batang punggung putih (Sogatella furcifera) Wereng coklat ( Nilaparvata lugens) Wereng hijau ( Nephotettix impicticeps) Lembing hijau ( Nezara viridula) Walang sangit ( Leptocorisa oratorius) Nganjur ( Achydiplosis oryzae) Lalat bibit ( Aprterigona ezigua) Ulat tentara (Ulat grayak) (Spodoptera lituradan ezigua) Keong Emas Tikus sawah ( Rattus argentiventer) Penyakit utama tanaman padi Tungro Busuk Batang Blas ( “Pricularia oryzae, “. grisea) Hawar daun bakteri (kresek), Xanthomonas oryzae p.oryzae) Bercak daun(Helmintosporium oryzae) Busuk Daun Pelepah (Rhizoctonia solani) Penyakit Fusarium (Fuzarioum moliniforme) 8) Panen Umur tanaman padi berbeda-beda antar varietas, Panen bisa dilakukan ketika bulir padi hampir keseluruhan telah menguning yang biasanya 33-36 hari setelah padi berbunga. Cara panen dapat dilakukan secara manual menggunakan sabit dengan memotong pangkal batang atau dengan mesin reaper harvester untuk menghemat waktu. Panen dilakukan serentak dalam satu lahan untuk mengurangi risiko diserang hama. Bantuan Benih M70 yang diterima oleh Kelurahan Pasalakan berasal dari dana APBN TP Provinsi Jawa Barat, Proses Penanman yang singkat selama 80-97 hari HST produktivitasnya meningkat dengan hasil sebagai berikut: Varietas : M70 D Umur : 97 HST Gapoktan : Sumber Jaya Kelurahan : Pasalakan Kec. Sumber Rata – rata hasil Ubinan : 4,94 kg Produksi : 7.904 kg/ha GKP PPL : Sri Musriyanah, SP BPP : Dukupuntang KESIMPULAN Demikian Pelaporan Pengkajian dari salah satu Demplot Pada Petani Kelurahan Pasalakan Kecamatan Sumber Kab. Cirebon sebagai bahan pelaporan di lapangan Wilayah binaan penyuluhan. Petani Kelurahan Pasalakan mengungkapkan bahwa Benih Bantuan yang di terima dengan respon yang baik sehingga ingin menggunakan Benih M70D untuk kedepannya. Penulis menyadari laporan pengkajian ini masih jauh dari sempurna dan semoga laporan ini dapat di gunakan sebagaimana mestinya Penyusun: Sri Musriyanah, SP