Sagu dapat dimanfaatkan sebagai makanan pokok alternatif pengganti nasi. Selain itu dapat dijadikan bahan baku agroindustri misalnya bahan baku penyedap makanan (monosodium glutamate), asam laktat (bahan baku plastik yang dapat terurai), gula cair (high fructose syrup) dan bahan baku energi terbarukan. Secara ekologis sagu berfungsi menyerap CO2 dalam jumlah besar sehingga dapat membantu mengatasi ancaman pemanasan global. Sagu mempunyai anakan yang banyak dan tidak perlu diremajakan, yang dapat mencegah penurunan permukaan tanah gambut (subsiden), sehingga dapat mencegah kerusakan lingkungan di sekitarnya. Pemerintah terus mengupayakan untuk melindungi dan melestarikan sagu melalui penataan dan pengembangan budidaya sagu. Pengembangan sagu merupakan kegiatan membudidayakan secara intensif pada kawasan yang sesuai dengan habitat /tempat tumbuh asli tanaman sagu. Pengembangan kebun sagu akan diarahkan ke tingkat petani dengan tujuan untuk menjaga kontinuitas sumber genetik, pelestarian komoditas unggul serta meningkatkan kesejahteraan petani di sentra-sentra produksi. Selain itu pengembangan sagu dapat dilakukan dengan menata hutan sagu menjadi kebun sagu.Dalam pengembangan sagu, harus diperhatikan persyaratan tumbuh dari tanaman sagu sehingga dapat berproduksi dengan baik, diantaranya adalah iklim dan tanah.Persyaratan iklimTanaman sagu memerlukan ketersediaan air yang cukup semasa pertumbuhannya. Curah hujan yang sesuai yaitu 2.000-4.000 mm/tahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Bulan basah antara 4-9 bulan berturut-turut dengan bulan kering tidak lebih dari dua bulan berturut-turut. Berdasarkan penggolongan menurut Schmidt dan Ferguson, kawasan yang cocok untuk pengembangan sagu sebaiknya mempunyai tipe A dan B dengan jumlah curah hujan 2.500-3.500 mm dan jumlah hari hujan 142-209 HH per tahun. Tanaman sagu tidak tumbuh baik jika tergenang permanen. Genangan yang terbaik yaitu genangan tidak permanen setinggi Suhu optimum 24.5-29O C dengan kelembaban 40-60% dan tertinggi yang diperlukan 90%. Intensitas dan lama penyinaran matahari juga cukup tinggi. Sebaran atau populasi tertinggi terdapat pada koordinat antara 10oLS – 15o LU dan 150o BT.Persyaratan LahanTopografi umum dari kawasan pertanaman sagu dari jenis Metroxylon spp, yaitu datar, landai hingga bergelombang. Tipe lahan rawa dan gambut atau sepanjang pinggiran sungai merupakan tempat tumbuh yang ideal bagi tanaman sagu jenis Metroxylon spp. Kawasan sagu yang mendapat genangan periodik atau pengaruh pasang surut atau penataan sistem drainase yang baik dapat meningkatkan penampilan sagu. Pergantian air segar yang masuk ke kawasan pertanaman sagu akan membawa beberapa unsur hara yang dibutuhkan sagu, seperti potassium, fosfat, kalsium, dan magnesium.Ketinggian optimal bagi tanaman sagu yaitu 70 %, dengan bahan organik 30% dan pH tanah 5.5 -6.5, tetapi sagu masih bisa beradaptasi dengan keasaman yang lebih tinggi.Jenis tanah seperti liat kuning coklat atau hitam dengan kadar organik tinggi , kemudian tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial dan hidromorfik kelabu tidak menjadi masalah bagi perkembangan sagu. Namun pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah liat kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi dan bereaksi sedikit asam (ph 5,5-6,5). Sagu sangat baik bila ditanam pada tanah yang mempunyai pengaruh pasang surut (diantaranya adalah lahan gambut), terutama bila air pasang tersebut merupakan air segar yang mengandung potassium, fosfat, kalsium dan magnesium. Lingkungan yang paling baik untuk pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur, dimana akar nafas tidak terendam, kaya mineral, kaya bahan organik, air tanah berwarna cokelat dan bereaksi agak asam. (Sri Widjiastuti, Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber: 1. Pedoman Budidaya Sagu (Metroxylon spp) yang Baik. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. 2014.2. Anhasansp.blogspot.com.