Lahan rawa yang dipengaruhi oleh gelombang pasang surut dinamakan lahan pasang surut sedangkan lahan rawa yang tergenang hampir sepanjang tahun, minimal 3 bulan, dengan tingkat genangan minimal 50 cm dinamakan lahan lebak. Negara kita memiliki potensi lahan rawa hingga mencapai 33.4 juta hektar, yang terdiri atas 20.19 juta hektar lahan pasang surut dan 13.28 juta hektar lahan lebak yang terdapat di Kepulauan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Lahan rawa merupakan lahan marginal yang rapuh dan memiliki keragaman kondisi biofisik. Masalah biofisik utama dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut antara lain genangan air, tingginya kemasaman tanah (pH tanah rendah), terdapat kandungan zat beracun (Al, Fe, H2S dan Na), kandungan bahan organic rendah, kahat unsur hara, khususnya P, Ca, dan Mg dan kandungan Al, Fe, dan Mn tinggi. Kendala lainnya dalam budidaya padi di lahan rawa adalah penyakit tanaman, seperti Hawar Daun Bahteri (HDB), dan busuk pelepah. Meskipun lahan rawa terdapat cukup luas, sumbangan lahan rawa terhadap pengadaan produksi padi nasional masih kecil karena belum dimanfaatkan secara intensif. Berbagai permasalah yang dihadapi dalam pengembangan padi di lahan rawa sangat beragam, diantaranya 1) tingkat kesuburan tanah beragam, 2) penerapan teknologi budidaya belum optimal, 3) tersingkapnya lapisan pirit ke permukaan, 4) gambut dalam kondisi tebal dan mentah, 5) cekaman air dan penyusupan air laut, 6) Serangan hama dan penyakit tanaman. Selain aspek teknis, aspek nonteknis juga menjadi penghambat pengembangan pertanian di lahan rawa, antara lain minimnya infrastruktur seperti jalan dan transportasi, kelembagaan petani dan kelembagaan keuangan. Untuk mengatasi sebagian dari masalah-masalah tersebut diatas, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BadanLitbang Pertanian) telah melepas sejumlah varietas unggul padi rawa yang tahan terhadap cekaman banjir, seperti Tapus (untuk lahan rawa dengan genangan maksimum 150 cm). Varietas Inpara 3, Inpara 4, dan Inpara 5 memiliki karakter khusus bila dibandingkan varietas padi rawa yang lainnya. Ketiga varietas tersebut dirakit untuk menghadapi cekaman banjir. Penurunan hasil yang disebabkan oleh banjir antara 30-60%. Varietas Inpara 3 mampu bertahan dan berproduksi setelah mengalami rendaman selama 7 hari, sedangkan Inpara 4 dan Inpara 5 mampu bertahan selama 10-14 hari. Inpara 3 toleran terhadap rendaman air, sehingga sesuai untuk dikembangkan pada lahan rawa lebak yang fluktuasi air pada agroekosistem ini sangat bervariasi. Inpara 3 juga dapat dikembangkan pada lahan sawah irigasi yang rawan banjir. Kebanyakan varietas padi akan mengalami puso jika terendam air selama 1 minggu, terutama pada fase vegetative. Varietas Inpara 3 mampu bertahan hidup dan mampu tumbuh normal pada kondisi demikian. Dilahan lebak, Inpara 3 dapat berproduksi 5,6 ton/ha GKG. Varietas ini juga tahan terhadap penyakit blas dan tekstur nasinya tergolong pera. Inpara 1, Inpara 3 dan Inpara 7 sama-sama toleran terhadap keracunan besi (Fe) dan alumunium (Al) yang menjadi kendala penting dalam pengembangan tanaman padi di lahan rawa pasang surut dan lebak. Pada lahan lebak, varietas Inpara 4 dan 5 mampu berproduksi 7.6 t/ha dan 7.2 t/ha. Varietas Inpara 4 agak tahan terhadap WBC biotipe 3 dan tahan terhadap penyakit HDB strain IV dan VII, tekstur nasi tergolong pera dan sedang. Pengembangan Varietas Unggul Baru (VUB) padi lahan rawa tersebut diharapkan menjadi pilihan oleh petani padi pada agroekosistem lahan pasang surut dan lebak, untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Dari uraian tersebut di atas diharapkan dapat memberikan informasi dan dapat dijadikan sebagai suatu acuan alternative untuk mengembangkan usahatani padi di lahan rawa dengan mempertimbangkan teknologi budidaya yang dikehendaki oleh sifat-sifaf atau karakteristik dari varietas padi rawa (Inpara 1 hingga Inpara 7), mengingat salah satu cara yang rasional dalam mengatasi masalah pengembangan lahan rawa untuk usahatani padi adalah dengan penggunaan varietas yang sesuai. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Serealia 2019, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Padi Untuk Rakyat Indonesia (PURI), Teknologi Bioindustri Padi Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan, 2013, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Sumber Gambar : https://www.google.com