Pada musim tanam "walikan" ( MK I tahun 2013 ) yang lalu kelompoktani Tani Joyo Desa Sanan Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk melaksanakan program pengembangan metode SRI ( System of Rice Intensification ). Kegiatan tersebut merupakan pertama kalinya dilaksanakan oleh kelompoktani Tani Joyo, sehingga pada awal sosialisasi menemukan banyak kendala terutama pengenalan teknologi SRI yang masih sulit diterima oleh petani. Pepatah tak kenal maka tak sayang benar adanya, metode SRI yang dianggap ekstrim oleh petani banyak menimbulkan pro dan kontra, akan tetapi berkat kegigihan pengurus kelompoktani maka metode SRI dilaksanakan meskipun dengan luas tanam terbatas tetapi teknologi diterapkan semaksimal mungkin, dan seoptimal mungkin. Laboratorium Lapang (LL) yang digunakan sebagai arena belajar bagi petani dikelola dengan baik, mulai dari persemaian, pegolahan tanah, jarak tanam, pemupukan pengairan, pengendalian OPT, hingga Panen dan pasca panen. Meskipun masih ada keraguan tetapi dengan bekal pengetahuan dan bimbingan oleh penyuluh pertanian lapangan, anggota kelompoktani Tani Joyo yakin akan berhasil. Pada tahap persemaian dengan menerapkan persemaian kering atau menggunakan wadah besek dan menanam dengan umur bibit muda (12 HSS) sudah cukup mencuri perhatian petani di sekitar areal LL, keraguan dan pesimis berangsur-angsur berubah menjadi keyakinan setelah melihat pertumbuhan tanaman padi yang bagus. Menanam bibit pada umur muda, dengan pengairan yang ekstrim dan penggunaan pupuk organik yang lebih dari kebiasaan memberikan pengaruh yang sangat baik,antara lain adaptasi tanaman sangat baik selama perpindahan dari persemain (tanaman tidak sempat layu), jumlah anakan yang rata-rata 20-28 per rumpun dan vigor tanaman yang tampak sehat telah membuktikan bahwa metode SRI bukan hal yang mustahil dan pelaksanaan yang secara teori terlihat rumit ternyata sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan. Memasuki fase generative, tanaman tumbuh dan berkembang normal dan tidak berbeda dengan tananaman padi yang dibudidayakan secara konvensional, akan tetapi berbeda pada saat panen karena hasil yang diperoleh lebih tinggi dari musim tahun lalu yaitu 7,8 ton/ha sedangkan tahun lalu dengan system konvensional hanya mencapai 7,4 ton/ha. Dan jika berdasarkan analisa usahatani ada beberapa input yang dapat ditekan diantaranya kebutuhan benih, pupuk, air, tenaga kerja serta umur tanaman lebih pendek dengan persemaian kering. Hal inilah yang lebih menarik bagi petani di Desa Sanan karena pada saat ini petani tanaman pangan khususnya padi dinilai kurang menguntungkan karena harga saprodi dan upah tenaga kerja yang tinggi sehingga keuntungan menipis. Dengan adanya inovasi teknologi SRI merupakan solusi tepat untuk efesiensi usahatani padi dimasa sulit. Berbicara keuntungan memang menggiurkan akan tetapi bukan tanpa upaya dan kesungguhan, keuntungan ada ditangan karena kerja keras dan kesungguhan para petani untuk terus berusaha dengan tekad dan kemauan yang sungguh. Penulis: Rini Purwiyati, SP; Penyuluh Pertanian Pertama di Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian Daerah Kabupaten Nganjuk)