Larva BSF atau dalam nama ilmiah yaitu Hermetia illucens L. Black Soldier Fly (BSF) berwarna hitam dengan bagian segmen basal abdomen berwarna transparan (wasp waist) sekilas memiliki bentuk abdomen yang sama dengan lebah. Panjang lalat berkisar antara 15-20 mm dan mempunyai waktu hidup lima sampai delapan hari. Lalat dewasa tidak memiliki bagian mulut yang fungsional karena lalat dewasa hanya beraktivitas untuk kawin dan bereproduksi sepanjang hidupnya. Pada waktu lalat dewasa berkembang dari pupa, kondisi sayap dalam keadaan terlipat kemudian mulai mengembang sempurna hingga menutupi bagian torak. Berdasarkan jenis kelaminnya, lalat betina umumnya memiliki daya tahan hidup yang lebih pendek dibandingkan dengan lalat jantan. Larva BSF dapat mengonsumsi berbagai makanan dengan variasi rasa yang bervariasi. Larva BSF dapat diberi berbagai macam pakan, diantaranya adalah sampah dapur, buah-buahan, sayuran, hati, limbah ikan, limbah perkotaan, limbah manusia, dan kotoran hewan. Fleksibilitas dari pakan larva BSF dapat menjadi serangga yang ideal dalam memproduksi protein. Namun perbedaan pakan dapat mempengaruhi proses perkembangan dari larva BSF. Maka dibutuhkan formulasi yang tepat dalam pemberian pakan terhadap larva BSF agar memaksimalkan produksi dan e_isiensi. Beberapa mikroba yang digunakan sebagai proses pra perlakuan dapat meningkatkan kemampuan pencernaan dari larva BSF, proses perkembangan larva, serta peningkatan massa dari tahap pra-pupa. Solusi potensial dari penentuan pakan ini yaitu penggunaan Probiotik. Perkembangbiakan Larva BSF betina meletakkan telurnya pada beberapa variasi substrat organik, baik tumbuhan maupun hewan yang membusuk seperti buah-buahan, sayuran, kompos, humus, ampas kopi, bahan-bahan pangan (kecap, madu, polen), kotoran ternak, manusia, bangkai hewan dan manusia, serta di dalam sarang rayap. Telur BSF melewati masa inkubasi selama 72 jam atau 3 hari. Perubahan yang dapat diamati di bawah mikroskop stereo antara lain: (a) telur yang baru diletakkan; (b) dalam 24 jam telah terjadi embriogenesis, yang dapat terlihat antara lain segmentasi bakal tubuh larva; (c) dalam 48 jam bentuk tubuh larva mulai terlihat jelas, terdapat bintik mata merah dan bagian mulut yang mulai berpigmen; (d) dalam 72 jam tampak bagian-bagian yang lebih jelas seperti saluran spirakel yang memanjang dari lateral spirakel menuju posterior spirakel, serta bintik mata dan bagian mulut yang tampak semakin jelas, pergerakan tubuh embrio juga terlihat. Pada saat telur menetas, larva muncul dan langsung memasuki tahap makan. Laju pertumbuhan relatif larva sangat pesat hingga hari ke-8. Bobot tubuh juga terus bertambah sampai ketika hendak memasuki tahapan prepupa. Karena tahapan prepupa adalah tahapan ketika tidak lagi dilakukan aktivitas makan, maka ada kecenderungan ketika hendak memulai inisiasi pupa, bobot tubuh prepupa menjadi sedikit berkurang. Tahapan larva yang berkulit putih berlangsung kurang lebih 12 hari. Selanjutnya larva mulai berubah warna menjadi coklat dan semakin gelap seminggu kemudian. Prepupa sejak hari ke-19. Pupa 100% dicapai pada hari ke-24.Tahapan pupa berlangsung berikutnya selama 8 hari kemudian, Imago mulai muncul pada hari ke-32. Imago yang muncul dari pupa, yang kemudian diberi perlakuan pakan tambahan air dan madu, menunjukkan sedikit perbedaan lama hidup dan jumlah telur. Pada proses perkawinan setiap kali dibutuhkan, lalat yang keluar akan diambil dari kandang gelap. Hal ini dilakukan dengan cara menghubungkan kandang gelap ini dengan sebuah terowongan yang tidak gelap dan tergantung pada bingkai yang dapat dipindahkan. Hal ini karena merupakan tempat di mana perkawinan terjadi, maka kami menamakannya “love cage” atau kandang kawin (Gambar 2.5). Pencahayaan yang dipasang pada ujung terowongan akan menarik lalat untuk terbang dari kandang gelap ke kandang kawin. Kandang kawin secara berurutan dihubungkan dengan tiga sampai empat kandang gelap untuk mengumpulkan lalat yang baru keluar. Metode ini memungkinkan kepadatan lalat yang konstan dan stabil dalam kandang kawin. Selain itu, lalat-lalat yang telah diambil tersebut memiliki usia yang sama. Ada manfaatnya apabila di kandang perkawinan terdapat lalat-lalat yang berusia sama, yaitu lalat-lalat tersebut akan kawin dan bertelur pada waktu yang kurang lebih sama, dan oleh karena itu, jumlah telurnya akan bisa diprediksi sehingga pembiakan masal dapat dilakukan dengan lebih e_isien. Kandang kawin dilengkapi dengan kain basah untuk menjaga agar lalat-lalat di dalamnya tidak kekurangan kelembaban. Selain itu juga ada eggies dan sebuah kotak berisi atraktan. Maka, di sini siklus pemeliharaan berakhir. Pemeliharaan pada Larva BSF menghasilkan beberapa kadar protein yang dapat dimanfaakatan sebagai berikut: Kadar Protein Larva BSF pada Pakan Sampah Pasar Tradisional Hasil analisis kimia menunjukkan BSF kaya akan protein dan lemak yang bernilai ekonomi untuk pembuatan pakan ternak (Diener et al. 2011). Pada penelitian ini, guna menguji kadar protein larva, seluruh larva diberi pakan yang sama yaitu sampah organik campuran (agregat). Pengujian kadar protein larva dilakukan pada beberapa fase, yaitu fase larva prematur (1-14 hari) yang diwakili oleh larva berumur 9 dan 12 hari. Fase pra-pupa (15-26 hari) yang diwakili oleh larva berumur 16 dan 23 hari. Fase pupa diwakili oleh larva berumur 30 hari. Hasil pengujian kadar protein bahwa kadar protein larva berkisar antara 29,9-36,4%. Kadar protein larva tertinggi terdapat pada fase larva berumur 12 hari. Kadar protein larva terendah terdapat pada larva berumur 16 hari yaitu pada saat fase pra-pupa. Larva berumur 16 hari memiliki kadar protein yang rendah karena berada pada fase pra-pupa. Pada fase pra-pupa, larva sudah mulai berhenti memakan, sehingga larva cenderung memakai cadangan makanan pada tubuhnya. Kadar protein larva dapat mencapai hingga 40%. Kadar protein larva dapat berubah apabila diberi jenis pakan yang berbeda. Biokonversi merupakan sebuah proses alami yang melibatkan larva serangga untuk menyerap nutrien dari limbah organik menjadi biomassa larva serangga. Larva dijadikan sebagai sumber protein hewani dan lemak hewani yang dibutuhkan untuk pakan ikan. Budidaya larva BSF dapat dilakukan dengan menggunakan bahan organik dan berbasis limbah ataupun hasil samping kegiatan agroindustri. Proses ini dikatakan sebagai bentuk degradasi limbah. Hasil degradasi dapat menghasilkan beberapa nilai tambah dengan menjadikannya sebagai pakan ternak (larva), bahan stabil seperti kompos, dan biofuel. Potensi ini membuat pengolahan sampah menggunakan larva BSF memiliki manfaat tinggi. Kadar Protein BSF sebagai Sumber Pakan Hewan Ternak Larva BSF memiliki kadar protein yang tinggi, larva BSF mampu memiliki kandungan protein hingga 40%. Sumber pakan bagi hewan ternak saat ini menjadi perhatian penting karena tingginya harga bahan pakan, namun nutrisi yang terkandung lebih minim jika dibandingkan dengan pakan menggunakan larva BSF. Protein pada larva BSF berkisar antara 31,7 - 47,6%, tergantung pada pajan yang diberikan pada larva BSF. Analisis e_isiensi dari penggunaan pakan larva BSF bahwa serangga sebagai penghasil daging yang e_isien. Melalui 10 kg pakan hewan setara dengan 9 kg daging serangga, namun pada sapi hanya menjadi 1 kg daging. Hal ini berarti bahwa serangga lebih efektif dalam mencerna makanan, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan kandungan nutrisi yang lebih besar. Pada serangga, setelah dipanen dapat mengandung 72% protein, sementara pada hewan memamah biak hanya 52%. BSF sebagai serangga memiliki potensi yang lebih baik sebagai pakan hewan. Konversi terhadap analisis beberapa faktor yang dihabiskan selama proses menghasilkan protein pada beberapa jenis hewan. Perbedaan antara konversi protein pada beberapa hewan bahwa produksi protein oleh serangga (termasuk larva BSF) memiliki tingkat potensi pemanasan global, penggunaan lahan, penggunaan pakan, serta penggunaan air yang lebih rendah. Produksi protein berupa daging (sapi, kerbau, domba, dll) memiliki tingkat potensi pemanasan global, penggunaan lahan, penggunaan pakan, serta penggunaan air yang lebih tinggi. Penggunaan pakan dengan larva BSF sangat ramah lingkungan karena menggunakan sumber daya alam yang minim, serta potensi pemanasan global yang cukup rendah dibandingkan dengan hewan lainnya. Kadar Protein BSF sebagai Sumber Pangan bagi Manusia Menurut hasil survei, faktanya bahwa 50% dari penghasilan seseorang di negara maju dihabiskan untuk membeli kebutuhan pangan. Pada Negara berkembang, presentase tersebut berkisar antara 10-15%. Problem social ekonomi menjadi latar belakang hal tersebut, karena di negara berkembang khususnya Indonesia terjadi tingkat kemiskinan cenderung tinggi, kesenjangan sosial yang tinggi, dan kapasitas produksi yang cukup rendah. Kebutuhan produk pangan dan pakan impor meningkat karena produksi kebutuhan protein tidak dapat terpenuhi oleh produsen lokal. Faktor penyebab lain dari hal ini adalah tingginya populasi dan pertumbuhan penduduk, dan terkonsentrasi di pulau Jawa. Lebih dari 50% populasi masyarakat indonesia terinfeksi oleh “Neglected Tropical Diseases” . Penyakit tersebut diantaranya adalah askariasis, demam berdarah, chikungunya, dll. Rendahnya kualitas dari konsumsi pangan masyarakat Indonesia menyebabkan masyarakat mudah terserang penyakit-penyakit tersebut. Konsumsi protein yang rendah merupakan salah satu penyebabnya. Konsumsi protein hewani di negara Eropa adalah 80 gram/kapita/hari, sedangkan konsumsi protein hewani di negara Indonesia hanya 13,5 gram/kapita/hari. Pendapatan yang rendah menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia. Masalah ini perlu diselesaikan dengan mengubah perspektif ekonomi dan budaya secara perlahan. Kondisi kesenjangan ekonomi, rendahnya kualitas pangan, serta masalah kesehatan masyarakat tersebut dapat diberantas dengan memproduksi komoditi pangan yang lebih sehat, lebih murah, serta dapat menjadi solusi obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Peningkatan kualitas pangan difokuskan untuk memproduksi protein yang lebih murah, lebih baik, serta produksi protein hewani yang berkelanjutan. Alternatif obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit dapat diselesaikan dengan mencari sumber terbaru dari obat-obatan. Protein hewani bagi manusia saat ini mayoritas diperoleh hanya dari beberapa sumber protein. Protein hewani pada konsumsi penduduk Indonesia hanya meliputi ikan, daging, serta telur dan susu. Maka dari itu kita perlu untuk memberantas kekurangan protein dengan mensubstitusi bahan pangan yang mengandung protein. Larva BSF memiliki kadar protein yang tinggi. Persentase kandungan lemak terbesar pada larva BSF yaitu 41,7% dengan pakan limbah buah-buahan. Larva BSF sangat layak menjadi bahan pangan manusia, selain mengandung banyak protein, serangga ini juga aman terhadap kontaminan mikroba maupun zat kimiawi, juga terhadap logam berat. Pengembangan larva BSF dalam peternakan juga merupakan hal yang aman, karena BSF bukanlah vektor penyakit maupun bakteri. Larva BSF mampu mereduksi kandungan Escherichia coli dan Salmonella enterica Serovar Enteritidis pada kotoran ayam. Sehingga konsumsi larva BSF dapat menjadi alternatif penambahan protein bagi tubuh manusia dengan sistem pengolahan yang baik dan layak. Beberapa contoh yang sudah di mulai di Kota Sumedang adalah mengolahnya menjadi keripik larva BSF dan juga abon larva BSF. Produk ini masih perlu pengembangan, namun sejauh ini telah dicoba pada beberapa panelis termasuk anak-anak, bahwa cita rasa dari olahan larva BSF dapat diterima oleh indra perasa manusia. Produk tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut mengenai aspek lainnya seperti strategi bisnis, pemasaran, pengemasan, bentuk produk yang lebih menarik. (Suwarna – Pusat Penyuluhan Pertanian) Sumber : Yuwono AR, Mentari PD. 2018. Penggunaan Larva (Maggot) Black Soldier Fly (BSF) dalam Pengolahan Limbah Organik. Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) Bogor, Indonesia. Hal :38-41