Loading...

POTENSI MENGGIURKAN BUDI DAYA PORANG DI BENGKAYANG, KAL-BAR

POTENSI MENGGIURKAN BUDI DAYA PORANG DI BENGKAYANG, KAL-BAR
Tanaman porang atau yang dikenal Amorphophallus Muelleri Blume merupakan jenis tanaman umbi-umbian. Tanaman yang memiliki kandungan glucomannan ini terdapat banyak manfaat diantaranya sebagai bahan baku untuk membuat penjernih air, lem, kosmetik, dan tepung. Pada saat ini kementan tengah fokus mengembangkan tanaman porang karena memiliki pasar ekspor yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional. Pasar ekspor porang, meliputi Jepang, Taiwan, Korea dan China serta beberapa negara di Eropa. Kabupaten merupakan daerah yang pada saat ini tengah mengembangkan tanaman porang. Banyak petani di Bengkayang mulai merilis usaha budidaya porang, mengingat tanaman porang memiliki nilai yang menggiurkan untuk dikembangkan karena punya peluang yang cukup besar untuk di ekspor dengan harga yang tinggi dan tanaman ini juga mudah untuk dibudidayakan. Tanaman porang yang dibudidayakan harus mempunya kualitas yang baik. Persiapan Lahan Lokasi tumbuh tanaman porang yang baik adalah di bawah naungan dengan intensitas cahaya 60 –70%. Kegiatan persiapan lahan: Pada lahan datar Setelah lahan dibersihkan dari semak-semak liar/gulma lalu dibuat guludan selebar 50 cm dengan tinggi 25 cm dan panjang disesuaikan dengan lahan. Jarak antara guludan adalah 50 cm. Pada lahan miring Lahan dibersihkan tidak perlu diolah, lalu dibuat lubang tempat ruang tumbuh bibit yang dilaksanakan pada saat penanaman. Persiapan Bibit Porang dapat diperbanyak secara vegetatif dan generatif (biji, bulbil/katak). Bibit yang dipilih adalah dari umbi dan bulbil yang sehat. Bibit porang cukup ditanam sekali. Setelah bibit yang ditanam berumur 3 tahun, dapat dipanen selanjutnya dapat dipanen setiap tahunnya tanpa perlu penanaman kembali. Kebutuhan bibit per satuan luas sangat tergantung pada jenis bibit yang digunakan dan jarak tanam. Dengan prosentase tumbuh benih diatas 90%, kebutuhan benih per hektar dengan jarak tanam 0,5 m adalah: Umbi : 1.500 kg (± 20 – 30 buah/kg) Biji : 300 kg Penanaman Porang Porang sangat baik ditanam ketika musim hujan, yaitu sekitar bulan November – Desember. Tahap penanaman porang sebagai berikut: Bibit yang sehat satu per satu dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan letak bakal tunas menghadap ke atas. Tiap lubang tanaman diisi 1 bibit porang dengan jarak tanam sesuai kebutuhan. Tutup bibit dengan tanah halus/tanah olahan setebal ±3 cm. Pemeliharaan Tanaman Porang Tanaman porang merupakan tanaman yang tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus. Namun untuk mendapatkan hasil pertumbuhan dan produksi yang maksimal, dapat dilakukan pemeliharaan yang intensif dengan cara: Penyiangan Dilakukan dengan membersihkan gulma yang berupa rumput liar yang dapat menjadi pesaing tanaman porang dalam hal kebutuhan air dan unsur hara. Sebaiknya dilakukan sebulan setelah umbi porang ditanam. Penyiangan berikutnya dapat dilakukan saat gulma muncul. Gulma yang terkumpul ditimbun dalam sebuah lubang agar membusuk dan menjadi kompo Pemupukan Pada saat pertama kali ditanam, dilakukan pemupukan dasar. Untuk pemupukan berikutnya dapat dilakukan setahun sekali (awal musim hujan). Jenis pupuk adalah pupuk urea 10 gr/lubang dan SP 36,5 gr/lubang. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditanam disekitar batang porang. Pengamanan pohon pelindung Porang merupakan tanaman yang butuh naungan. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeliharaan terhadap pohon pelindung agar pohon pelindung dan tanaman porang dapat tumbuh dengan baik. Panen Tanaman Porang Tanaman porang dapat dipanen untuk pertama kali setelah umur tanaman mencapai 2 tahun Setelah itu, tanaman dapat dipanen setahun sekali tanpa harus menanam kembali umbinya. Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5 – 6 bulan tiap tahunnya (pada musim penghujan). Di luar masa itu, tanaman mengalami masa istirahat /dorman dan daunnya akan layu sehingga tampak seolah-olah mati. Waktu panen tanaman porang dilakukan pada bulan April – Juli (masa dorma). Umbi yang dipanen adalah umbi besar yang beratnya lebih dari 2 kg/umbi, sedangkan umbi yang masih kecil ditinggalkan untuk dipanen pada tahun berikutnya. Rata-rata produksi umbi porang berkisar 10 ton per hektar. Penulis : Sudarmini, SP & Fidelis Olen, S.Hut, PPL WKPP Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas, Kab. Bengkayang, KalBar