Konsumsi beras di Indonesia mencapai 139 kg/kapita/tahun, jika dikalikan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa maka konsumsi beras Indonesia per tahun sebanyak 34,2 juta ton beras. Indonesia menjadi negara dengan tingkat konsumsi beras tertinggi di dunia. Ketika Indonesia kekurangan stok beras maka akan melakukan mekanisme impor beras dari luar negeri, sehingga kebutuhan beras terpenuhi. Sejauh ini pangan pokok Indonesia masih bergantung kepada beras, sehingga upaya peningkatan produksi beras terus dilakukan. Upaya peningkatan produksi beras difokuskan pada upaya intensifikasi pertanian ketimbang ekstensifikasi. Hal tersebut disebabkan jumlah penduduk yang semakin banyak dan mengakibatkan lahan pertanian banyak dikonversi sebagai lahan non pertanian, sehingga kecil kemungkinannya untuk dilakukannya perluasan lahan. Teknologi intensifikasi pertanian yang berkaitan dengan upaya peningkatan produksi terus dilakukan dimulai dari perakitan varietas unggul hingga kultur teknis.Bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, maka diperlukannya strategi untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan Indonesia. Perlunya menerapkan strategi untuk ketahanan pangan terlebih kemandirian pangan. Strategi pemenuhan kebutuhan pangan dimulai dari mengubah paradigma pangan pokok adalah beras menjadi pangan pokok adalah komoditas untuk pemenuhan kebutuhan karbohidrat. Paradigma tersebut membangun pola pikir bahwa kebutuhan manusia adalah asupan karbohidrat bukan beras, sehingga strategi ke depannya yang muncul adalah pengembangan komoditas pangan lain untuk menyubstitusi kebutuhan beras atau dikenal dengan "diversifikasi pangan" (penganekaragaman pangan).Diversifikasi pangan menurut kusharto dan hardiansyah (2012) diversifikasi pangan dapat ditinjau dari segi diversifikasi produksi, penyediaan dan konsumsi. Diversifikasi dari segi produksi akan meminimalkan resiko produksi area monokultur yang berkaitan juga dengan fluktuatifnya harga dan pendapatan produsen. Diversifikasi lebih difokuskan pada diversifikasi konsumsi, yaitu menganekaragamkan jenis pangan yang dikonsumsi. Diversifikasi konsumsi merupakan output dari kegiatan diversifikasi produksi dan penyediaan (kusharto dan hardiyansyah, 2012).Komoditas sagu sebagai penganekaragaman bahan panganSagu merupakan tanaman asli Indonesia dan bukan tanaman introduksi. Sagu berdasarkan penyebarannya banyak terdapat di wilayah Papua sehingga diperkirakan Papua merupakan daerah habitat asli dari tanaman sagu. Tanaman sagu merupakan jenis tanaman yang termasuk ke dalam jenis tanaman palem-paleman (famili Palmae). Secara taksonomi dapat dijelaskan sebagai berikut : Divisi : SpermatophytaKelas : AngiospermaeOrdo : ArecalesFamili : PalmaeSub Famili : CalamoidaeGenus : MetroxylonSpesies : Metroxylon spp.Sagu (Metroxylon spp) merupakan salah satu jenis tanam pangan non biji yang telah cukup banyak dikenal oleh penduduk Indonesia terutama di kawasan yang memiliki sedikit sawah. Beberapa daerah di Maluku telah mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Sagu merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang potensial di Indonesia. Tanaman sagu dapat digunakan untuk penganekaragaman pangan sesuai dengan INPRES No. 20 tahun 1979.Tanaman sagu memiliki potensi produktivitas mencapai 20-40 ton pati kering /ha/tahun. Dalam satu pohon tanaman sagu kandungan pati keringnya mampu mencapai 800 kg, dengan rata-rata per pohon 200-400 kg pati. Luasan sagu yang dimiliki Indonesia merupakan luasan yang terbesar di dunia, sekitar 95% sagu dunia terdapat di Indonesia. Dari luasan tersebut 90% terdapat di Papua dan Papua Barat sebesar 5,2 juta ha, apabila ditotal luas sagu yang ada di Indonesia sekitar 5,5 juta ha. Dengan potensi produksi serta luasan yang besar, mampu memberikan makan orang-orang yang kelaparan. Sebaran areal tanaman sagu diantaranya ada di wilayah Irian jaya, Maluku, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.Tanaman sagu dipanen bagian batangnya, bagian dalam batang (empulur) dikerok atau di parut untuk kemudian dilakukan pengolahan selanjutnya dalam bentuk endapan pati kering. Dalam satu pohon tanaman sagu mampu menghasilkan pati kering sebanyak 200-400 kg pati kering. Sehingga dalam hitungan luas areal tanaman sagu 1 ha yang ditanam dengan pola segitiga sama sisi dapat dipanen pati kering mencapai 27,2 ton sampai 54,4 ton. Sehingga luas areal sagu 1 juta ha dapat mencukupi pemenuhan kebutuhan karbohidrat yang biasanya disuplai dengan beras sebanyak 34,2 juta ton.Pati yang dihasilkan oleh tanaman sagu sangat bergantung pada teknik pengolahan pasca panennya. Penelitian yang dilakukan oleh Yamamoto et al. (2008) mengestimasi hasil pati tanaman sagu per hektare per tahun yang diolah dengan teknik tradisional antara 2.8 hingga 6.6 ton/ha/tahun, sedang dengan analisis kimia antara 5.9 hingga 13.7 ton/ha/tahun (populasi 100 tanaman/ha).Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP) widjajantokukuh@yahoo.comTanggal : 3 Agustus 2017Sumber : Puslitbangbun, Kementerian Pertanian 2015Foto : Puslitbangbun, Kementan 2015