Perkembangan BiogasKotoran ternak berupa feses dan urine telah dimanfaatkan manusia sejak berabad-abad yang lalu. Pemanfaatan utamanya adalah sebagai pupuk untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah. Seiring dengan peningkatan penggunaan pupuk kimia, penggunaan kotoran ternak sebagai pupuk semakin berkurang. Akhir-akhir ini mulai dikembangkan lagi pemanfaatan pupuk organic dari kotoran ternak. Hal ini dipengaruhi oleh minat masyarakat terhadap pertanian organic.Bahan pangan organic dihasilkan dari system pertanian yag benar-benar menggunakan bahan dari alam tanpa menggunakan bahan kimia seperti pupuk kimia dan pestisida. Bahan pangan organic diyakini lebih sehat dan tidak mengandung residu zat yang berbahaya. Pemanfaatan kotoran ternak dalam bnetuk lain adalah mengolahna menjadi sumber energy dalam bentuk gas yang sering disebit biogas.Prinsip Pembuatan BiogasPrinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organic secara anaerobic (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan suatu gas yang sebagian besar berupa metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida. Gas yang terbentuk gas rawa atau biogas. Proses dekomposisi anaerobic dibantu oleh sejumlah mikroorganisme, terutama bakteri metan. Suhu yang baik untuk proses fermentasi adalah 30-550 C. pada suhu tersebut mikroorganisme dapat bekerja secara optimal merombak bahan-bahan organik.Pembuatan biogas bukanlah teknologi yang baru. Berbagai Negara telah mengaplikasikan teknologi ini sejak puluhan tahun yang lalu seperti petani di Ingris, Rusia dan Amerika Serikat. Sementera itu di Benua Asia, India merupakan Negara pelopor dan pengguna biogas sejak masih dijajah Ingris.Negara yang populasi ternaknya besar seperti Amerika, India, Taiwan, Korea, dan Cina telah memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar. India sudah membuat instalasi biogas sejak tahun 1900. Negara tersebut mempunyai lembaga khusus yang meneliti pemanfaatan limbah kotoran ternak yang disebut Agricultural Research Institute dan Gobar Gas Research Station. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa pada tahun 1980 diseluruh India terdapat 36.000 instalasi gas bio yang menggunakjan feses sapi sebagai bahan bakar.Keterbatasan Pemanfaatan LimbahSegala aktivitas manusia akan menghasilkan limbah atau sampah. Limbah yang dihasilkan ini dapat diperinci menjadi limbah anorganik dan limbah organic. Limbah anorganik adalah limbah yang sulit terdegradasi oleh miktoorganisme perombak. Contoh limbah anorganik adalah plastic, kaleng, dan kaca.Limbah ini sering menjadi problem tersendiri karena berbagai hal. Pertama, limbah tersebut tidak bisa dirombak oleh mikroba sehingga bentuknya akan tetap seperti semula. Kedua, jumkah penduduk yang semakin banyak juga mempengaruhi kualitas limbah. Ketiga, kesadaran membuang sampah pada tempatnya yang masih kurang.Kita bisa melihat betapa kotornya air sungai, terutama di perkotaan akibat ulah manusia. Masyarakat masih banyak yang belum menyadari pentingnya hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya. Padahal, hamper setiap tahun terjadi banjir akibat meluapnya sungai yang penuh dengan sampah. Seharusnya ini menjadi pelajaran untuk tidak membuang sampah sembarangan.Proyek Pembangunan Instalasi BiogasSelama ini telah cukup banyak peternakan yang sudah membangun instalasi biogas untuk mengolah limbah ternaknya. Di Jawa Tengah, instalasi biogas semakin banyak digunakan oleh pengusaha kecil dan menengah (UKM) untuk mendukung kelancaran usahanya. Para pengusaha UKM di Jawa Tengah yang menggunakan biogas diantaranya peternakan sapi, peternakan ayam, dan pabrik tahu.Proyek kerjasama antara peternak dengan pihak laboratorium teknologi hasil ternak (THT), Fakultas Peternakan IPB dalam pengembangan instalasi biogas telah banyak dilakukan. Contohnya di Kebon Pedes Bogor untuk peternakan sapi perah, Instalasi biogas di rumah potong hewan (RPH) Banjarmasin, dan di UPTD Dinas Peternakan Kabupaten Buru, Maluku.Untuk jangka waktu yang akan dating diharapkan unit instalasi biogas akan lebih banyak lagi diterapkan oleh peternak. Hal ini disebabkan keuntungan ganda yang dapat diperoleh (berupa biogas hasil pengolahan) serta terjaganya kebersihan lingkungan. Dengan demkian diharapkan peternakan di Indonesia menjadi lebih maju karena tidak lagi mendapat protes dari masyarakat sekitar yang terganggu oleh pemcemaran limbah.Edizal – Pusat Penyuluhan PertanianLiteratur : Simamora,S., Salundi, Sri,.W, dan Surajudin. “Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Kotoran Ternak”. Penerbit Agro Media Pustaka – Jakarta, 2008