Loading...

PREDATOR BURUNG HANTU Tyto alba ALTERNATIF PENGENDALI HAMA TIKUS

PREDATOR BURUNG HANTU Tyto alba ALTERNATIF PENGENDALI HAMA TIKUS
Tanaman padi rusak bahkan gagal panen sudah menjadi hal yang jamak bagi daerah yang endemis serangan hama tikus. Berbagai tindakan pengendalian setiap musim telah dilakukan. Kegiatan gropyokan dan pengumpanan dengan rodentisida tidak mampu mencegah munculnya serangan hama perusak satu ini. Tingkat kerusakan yang tinggi mengakibatkan kerugian secara ekonomi bagi keluarga tani. Diperlukan sebuah inovasi pengendalian yang mempunyai sifat efektif dan berkelanjutan. Dari berbagai diskursus dan pertemuan pertanian ditemukan salah satu inovasi pengendalian dengan memanfaatkan predator burung hantu. Diketahui bahwa terdapat banyak jenis burung hantu di indonesia darigenus Tyto alba, Buba, Strix dll. Semua burung yang tergolong burung hantu,aktif pada malam hari dan setiap spesies menghasilkan bunyi yang spesifik. Keaktifan pada malam hari dengan bunyi yang menimbulkan kesan menakutkan, diduga sebagai alasan menjuluki jenis burung ini sebagai“burung hantu”. Sesungguhnya burung hantu ini dipandang sebagai salah satu hewan pengendali hama tikus yang potensial Tyto alba ini merupakan predator tikus yang sangat ampuh yang mampu memangsa dalam jumlah banyak dan pandai mengintai keberadaan tikus yang ada di lahan-lahan sawah. Dengan adanya predator alami ini tentu saja lebih meminimalisir pengeluaran biaya untuk mencari racun atau pestisida yang mahal-mahal dan beresiko. Dengan demikian, efisiensi dan keefektifan biaya juga akan terpenuhi. Menilik beberapa literasi mengenai keunggulan dan kemanfaatan burung hantu dalam mendukung usaha pertanian padi, khusunya dalam mengendalikan hama tikus, beberapa desa di wilayah kecamatan sambit melakukan uji coba pendirian rumah burung hantu (rubuha).kegiatan ini dapat terselenggara melalui kerjasama antar petani, penyuluh dan POPT, dengan pembiayaan swadaya telah berhasil mendirikan 15 unit. Dari hasil pengamatan beberapa unit rubuha yang didirikan telah ditempati Tyto alba yang masih terdapat di alam dan hidup liar, selama musim pertanaman padi petak atau lahan pertanian yang telah didirikan rubuha relative aman dari serangan tikus. Hal ini membuktikan bahwa burung hantu sebagai predator hama tikus terbukti efektif. Butuh kerjasama semua pihak dalam menggerakkan aktifitas produktif seperti ini, daya dukung pemerintah desa juga sangat dibutuhkan terutama melahirkan perlindungan terhadap satwa burung hantu yang hidup bebas dialam. Dengan upaya yang serius dan sungguh – sungguh apabila populasi Tyto alba meningkat kondisi pertanian akan aman, kegiatan yang menyusahkan petani dalam gropyokan dan penyebaran racun dapat ditinggalkan dilain sisi produktifitas tanaman budidaya dapat ditingkatan. (Admin_Khoirul Anwar, SP, Sukatman SP, Priyo Widagdo, SP, Rita Kusuma Y, A.Md)