Loading...

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENETASAN UNGGAS

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENETASAN UNGGAS
Saat ini tingkat ketertarikan masyarakat untuk menetaskan telur unggas cukup tinggi, namun kecendrungan ketertarikan tersebut lebih kepada piranti penetasanya saja yaitu mesin tetas, pada dasarnya keberhasilan dalam usaha penetasan telur unggas dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu : (a) Kualitas telur tetas, (b) Mesin tetas, dan (c) faktor manusianya. Ketiga hal ini merupakan tiga hal penting yang sama berpengaruh dalam penetasan (a)Kualitas Telur tetas; untuk mendapatkan telur tetas yang baik perlu diperhatikan hal-hal berikut : (-) sex Ratio, jumlah perbandingan induk jantan dan betina dalam pemeliharaan ketika menghasilkan telur tetas, itik = 1 Jantan : 10-13 betina, ayam = 1 jantan : 5-8 betina, puyuh = 1 jantan :3-4 betina, (-) lama penyimpanan telur tetas, paling baik dibawah umur 7 hari (-)bentuk telur tetas, oval untuk mengukur tingkat ovalnya dapat dilakukan dengan cara “ sumbu panjang X Sumbu lebar x 100%” untuk ukuran oval Indek Telurnya adalah 72-74%, jika lebih dari 74% maka telut bulat, Jika kurang dari 72% maka telur lonjong (-)bobot telur yang ideal perlu diperhatikan : telur puyuh = 10-12 gram, merpati = 22 gram, ayam kampung 40-45 gram, itik = 60 – 65 gram). (b) Mesin Tetas ; ada dia tipe mesin tetas yaitu mesin tetas yang sumber panasnya berasal dari satu arah (type Still Air Incubator) misalnya yang menggunakan lampu bolham. Tipe ini sebaran panasnya tidak merata sehingga perlu dilakukan pembalikan dan type Force Draught Incubator, yaitu mesin tetas yang menggunakan kipas angin untuk menyebarkan panas. Beberapa hal penting yang berhubungan dengan mesin tetas yaitu : Suhu optimal; ayam 101­­­­­­­­­­­o F, puyuh 99oF, itik 102oF. Kelembaban 70-80%. Jarak bak air ke rak tetas 2-3 Cm, (c) Faktor manusia ; yang dimaksud dalam poin ini adalah tingkat ketekunan, kesabaran dan kedisiplinan dalam melakukan penetasan, beberapa hal yang dapat dijelaskan dalam kegiatan penetasan yang berhubungan dengan manusianya yaitu : (-) Sanitasi Mesin tetas, yaitu melakukan Fumigasi atau mensucihamakan mesin tetas dan sangat penting untuk dilakukan dapat dibersihkan dengan KMnO4 (Kalium permanganat) yang dicampur dengan Formaldehide 40 %, (-) Candeling yaitu peneropongan telur tetas apakah fertile (dibuahi) atau tidak dilakukan dengan bantuan senter proses ini biasanya dilakukan pada hari ke 4, dikatakan telur fertile apabila dilihat ada semacan bercak darah yang membetuk jaringan (-) membalikan telur tetas pada mesin tetas tipe (type Still Air Incubator) dilakukan 3 kali sehari yaitu pagi, siang dan malam hari dengan jarak selang 8 jam. Selama melakukan pembalikan usahakan tidak terjadi penurunan suhu ruang tetas yang drastis. (-) Pengambilan hasil tetas biasanya dilakukan 24 jam setelah masa inkubasi miasal ayam masa inkubasinya 21 hari + 1 Hari, Itik 28 + 1 hari, tentu saja ketika unggasnya sudah menetas. Selain faktor-faktor diatas tentu ada faktor pendukung lain yang perlu dipertimbangkan, antara lain sumber energi panas (listrik, api dll), faktor lingkungan (suhu lingkungaan, kondisi ruangan penetasan dll). Mesin tetas yang lebih mahal belum tentu memberikan hasil yang lebih optimal, begitu juga dengan mesin tetas dengan fitur atau teknologi yang lebih canggih belum tentu dapat memberikan hasil yang lebih baik, namun mesin tetas ideal adalah mesin tetas yang mampu memberikan jaminan kestabilan suhu tetas, kelembaban ideal dan bisa dikontrol dengan baik dan benar. Tentu saja tingkat pemahaman tentang penetasan telur unggas perlu dikuasai terlebih dahulu dari berbagai sumber. (Penulis: Vesmotanilda, SPt Penyuluh Pertanian Nagari Limo Kaum II)