Dalam rangka meningkatkan kemampuan petani terhadap teknologi salah satunya yaitu dengan memeperhatiakan kualitas bibit tebu. Kualitas bibit tebu yang digunakan dalam penanaman merupakan hal pokok untuk memperoleh hasil yang tinggi, tanaman tebu yang sehat dan ratoon yang bagus. Kualitas ditandai dengan bebas dari hama dan penyakit, varietasnya murni dan kemampuan germinasi. Banyak penyakit yang ditularkan melalui infeksi pada bibit (seperti: smut, RSD, mosaik, YLS, blendok dan klorotik steak) dan banyak diantaranya dapat mengakibatkan kehilangan hasil. Kemurnian varietas meyakinkan kita bahwa varietas tersebut tumbuh dan bibit tersebut tidak terkontaminasi dengan varietas yang tidak diinginkan yang membawa penyakit. Bibit tebu yang muda mempunyai pertumbuhan yang lebih vigor daripada tebu tua, dan germinasinya terjadi pada awal, cepat terjadi dan pertumbuhannya seragam. Ini semua akan tercapai dengan memuaskan jika produksi bibit tebu dikoordinasi oleh nurseri dan tidak dari areal tebu komersial.Kebun bibit harus terisolasi dan tanaman tebu yang lain, pada tanah yang bagus dan pada area yang bebas suhu beku. Bibit tebu harus berumur 8-10 bulan untuk mendapatkan vigor yang bagus ketika ingin ditanam secara komersial di daerah panas dan 12-15 bulan pada areal yang dingin. Penanaman di nurseri harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan bibit pada umur tersebut. Dua stadia nurseri yang ideal. Nurseri primer atau stadia nurseri pertama harus tumbuh pada isolasi yang diikuti oleh isolasi jarak. Seringkali ada kerjasama nursery untuk menyuplai sejumlah petani tebu dan dikoordinasikan secara intensif. Introduksi varietas baru untuk suatu perusahaan (industri) atau wilayah selalu ditempatkan pada stadia awal nursery. Pada skala luas nursery sekunder atau stadia kedua akan diperbanyak dalam jumlah yang besar sebelum di tanam secara komersial. Dari kedua tipe nurseri ini, tingkat manajemen dan kontrol terhadap hama penyakit tanaman harus dilakukan secara intensif. Ukuran nurseri tergantung pada hasil bibit yang diinginkan, luas areal yang akan direplanting dan jumlah bibit tebu dalam ton/ha yang akan ditanam skala komersial. Varietas yang mempunyai populasi sedikit akan memerlukan areal bibit nurseri yang cukup luas. Akan lebih baik jika dilakukan over estimasi terhadap ukuran nurseri dalam hubungannya dengan bencana atau permintaan yang meningkat. Nurseri harus diisolasi dengan batas yang jelas, untuk suatu periode (3 bulan) dan tanah harus diolah serta bebas dari voluntir. Nurseri primer bibit tebu harus diperlakukan dengan air panas juga dapat digunakan untuk mengurangi dominansi apikal, untuk mengeliminasi kebutuhan pemotongan pada saat akan ditanam. Setelah tanam, sangat penting untuk memonitor tanaman dari penyaki, mencabut tanaman yang terinfeksi terutama oleh smut atau penyakit lain yang bisa menular secara sistemik dan bebas dari tanaman/varietas campuran.Di Indonesia, Afrika Selatan, Swaziland mempunyai standar yang tinggi untuk memproduksi bibit tebu. Di Zwaziland nurseri kebun bibit harus diregistrasikan dengan ES (Extension Station) yang akan melakukan inspeksi dan klarifikasi. Tidak ada nurseri yang akan disertifikasi jika tidak memenuhi kriteria sebagai berikut :1. Infeksi smut dan mosaic lebih rendah dari 0.1 %.2. Bebas dari RSD dan YLS3. Infeksi Eldana saccharina lebih rendah dari 4 per 100 batang4. Bebas dari tanaman off type dan lebih rendah dari 0.1 % campuran dari varietas lain5. Bibit mungkin tidak bisa dipindahkan dari suatu wilayah ke wilayah lain tanpa sertifikat maupun surat jalan, dan6. Bibit yang roboh berat dan umurnya berlebihan juga tidak dapat disertifikasiBibit tebu untuk penanaman secara komersial harus tebu muda dari nurseri yang pasti, bebas dari penyakit, tidak rusak akibat hama dan kerobohan serta merupakan varietas murni. Tebu R1 dapat digunakan dalam penanaman jika memenuhi kriteria ini, khususnya jika merupakan sebuah varietas baru yang hanya tersedia dalam jumlah yang kecil untuk digunakan sebagai bibit. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan :1. Ditjenbun. 2015. Pedoman Budidaya Tebu Giling Yang Baik (GAP on Sugar cane). Kementan. Jakarta2. Sumber gambar berasal dari balitas.litbang.pertanian.go.id