Loading...

Produksi Kakao Berkelanjutan

Produksi Kakao Berkelanjutan
A. KonsepsiPertanian berkelanjutan yaitu pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia yang terus berubah dan sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas ligkungan dan melestarikan sumberdaya alam.Pertanian berkelanjutan mempunyai ciri-cici: 1) Mantap secara ekologis, dimana kualitas sumberdaya alam dan kemampuan agro-ekosistem ditingkatkan; 2) Bisa berlanjut secara ekonomis, dimana petani dapat memperoleh pendapatan yang cukup bagi kebutuhan sendiri; 3) Adil, dimana distribusi sumberdaya dan kekuasaan sedemikian rupa sehingga semua anggota masyarakat terpenuhi kebutuhan dasarnya; 4) Manusiawi dimana semua bentuk kehidupan, baik manusia, hewan maupun tanaman dihargai; 5) Luwes, dimana masyarakat mampu menyesuaikan dengan perubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus.Dalam sistem perdagangan kakao internasional terdapat sistem Fairtrade, UTZ, Organic Cocoa, Rainforeast Alliance yang semuanya menekankan pada kejelasan asal- usul (traceability) dan keberlanjutan (sustainability). Prinsip kakao berkelnjutan yaitu environmentaly sustainable, economically viable dan socially acceptable.. B. Dimensi Keberlanjutan Produksi KakaoKeberlanjutan sistem produksi kakao meliputi 4 dimensi:1. Dimensi ekologis.Kerusakan lahan diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang dapat ditoleransi sehingga sumberdaya tersebut dapat digunakan secara lestari dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Komponen pengelolaan lahan yang berkelanjutan mencakup: a) Penggunaan sumberdaya lahan didasarkan pada pertimbangan jangka panjang; b) Memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membahayakan kebutuhan jangka panjang; c) Meningkatkan produktivitas perkapita; d) Mempertahankan kualitas lingkungan; e) Mengembalikan produktivitas dan kapasitas pengaturan oleh lingkungan pada ekosistem yang telah rusak. Pengelolaan lahan yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan memilih teknologi spesifik lokasi. 2. Dimensi ekonomisKeberlanjutan produksi hanya akan terjadi apabila pekebun dan pelaku usaha kakao mendapatkan keuntungan yang wajar, dan konsumen mampu membayar dengan harga yang wajar, sehingga semua unsur yang terlibat dalam aktivitas tersebut dapat memperoleh manfaat ekonomi yang memadai. Pekebun kakao sering mendapat tekanan sehingga tidak memperoleh keuntungan yang mamadai, sehingga dapat mendorong terjadinya kerusakan lingkungan fisik karena minimumnya tindakan pelestarian sehingga menyebabkan anjloknya pasokan biji kakao. Dimensi ekonomi ini sangat berkaitan dengan dimensi lingkungan fisik yang keduanya saling mempengaruhi. 3. Dimensi sosialKeberlanjutan usaha prodkosi kakao sangat ditentukan oleh faktor sosial, antara lain tingkat penerimaan para pekebun kakao terhadap suatu teknologi tertentu. Sebagai contoh, penggunaan limbah kotoran babi , secara teknis akan sangat baik dalam mendukung keberlanjutan usahatani kakao, namun bagi masyarakat tertentu tidak dapat menerima teknologi tersebut sehingga tidak dapat berjalan. Dengan demikian perlu alternatif masukan sebagai pengganti pupuk tersebut. 4. Dimensi kesehatanImplementasi peningkatan kesadaran terhadap kesehatan berupa: peningkatan kebutuhan bahan pangan dan bahan penyegar yang aman dari logam berat, residu pestisida maupun jamur dan toksin. Dewasa ini juga telah dikenal produk kakao organik yang diproduksi dan diolah tanpa menggunakan bahan-bahan anorganik. Berkembangnya kakao organik disebabkan oleh meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan fungsi sumberdaya alam. C. SertifikasiDalam perdagangan kakao, konsepsi produksi kakao berkelanjutan telah diadopsi melalui sertifikasi: Fair Trade, UTZ, Organic Cocoa, Rainforest Alliance. Sertifikasi diberikan setelah dilakukan inspeksi oleh suaitu Lembaga Sertifikasi yang telah diakreditasi. Inspeksi dan sertifikasi dilakukan berdasarkan standar tertentu sesuai dengan permintaan negara tujuan ekspor. Untuk ekspor ke negara-negara Uni Eropa pada umumnya diinspeksi dan sertifikasi menurut standar Euro GAP. Dengan adanya sertifikasi oleh lembaga kompeten, maka diharapkan akan mempermudah dalam pemasaran produk dan berpeluang untuk memperoleh harga premium. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber: Pedoman Teknis Budidaya Kakao yang Baik (Good Agricultural Practices / GAP on Cocoa). Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta, 2014.