Loading...

Prosedur Penyiapan Lahan dan Pembuatan Bedengan Budidaya Mawar Potong

Prosedur Penyiapan Lahan dan Pembuatan Bedengan Budidaya Mawar Potong
Minat masyarakat untuk membudidayakan tanaman hias mawar potong, secara komersial meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar. Hal ini dibuktikan dari peningkatan luas areal dan jumlah petani tanaman mawar di berbagai daerah sentra produksi. Peningkatan jumlah tersebut perlu diimbangi dengan pembinaan agar peningkatan luas areal dan petani, dapat memberikan keuntungan maksimal tanpa merusak lingkungan sistem produksi. Mawar atau biasa disebut bunga rose merupakan salah satu tanaman hias bunga yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat prospektif untuk dikembangkan secara komersial. Mawar merupakan jenis tanaman berbunga indah yang mendapat tempat khusus di hati para penggemarnya, disebabkan keindahan bunganya dengan aneka ragam warna yang sangat memikat serta semerbak baunya. Penyiapan LahanPenyiapan lahan budidaya tanaman mawar meliputi pembersihan lahan, pembuatan teras, pengolahan lahan, pembuatan bedengan, pembuatan saluran drainase, pengukuran pH tanah, pemberian kapur pertanian dan pupuk. Penyiapan lahan bertujuan untuk menyediakan lahan agar siap tanam serta tanah menjadi remah dan memiliki drainase yang baik.Dalam penyiapan lahan, acuan/referensi yang digunakan yaitu hasil penelitian, studi pustaka, rekomendasi pemberian kapur pertanian dan pupuk serta pengalaman petani/pengusaha. Alat dan bahan yang digunakan untuk penyiapan lahan yaitu:1. Alat pengolahan tanah dapat berupa cangkul, garpu tanah dan mesin pertanian, yang berfungsi untuk membersihkan, mengolah dan meratakan tanah; dan 2. Kapur pertanian, pupuk organik dan pupuk anorganik, yang berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah serta menjamin ketersediaan hara bagi tanaman. Langkah-langkah Penyiapan Lahan:1. Pembuatan teras/peralatan lahan;2. Membersihkan lahan dari gulma dan batu-batuan, kemudian dikumpulkan ke tempat penampungan sisa-sisa tanaman (limbah); 3. Membuat bedengan dengan tinggi 80 cm dengan lebar 60 cm; 4. Bedengan merupakan campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos, dengan tanah di bagian bawah 25%, kemudian ditambah campuran pupuk kandang di atasnya sebanyak 75%; 5. Pemberian pupuk kandang dengan perbandingan pupuk kandang: sekam (2 : 1), pupuk kandang dengan dosis 10 - 40 ton/ha/tahun, NPK berimbang (16 : 16 : 16), dengan dosis 1 gr/pohon/minggu; 6. Jika diperlukan, media tanam disterilisasi dengan menggunakan nematisida dengan bahan aktif dazomet, kemudian ditutup dengan mulsa plastik hitam selama dua minggu. Setelah dua minggu, mulsa plastik dibuka dan dibiarkan selama satu minggu; 7. Membuat alur antar bedengan dengan jarak 80 – 100 cm; dan8. Mencatat seluruh kegiatan yang dilaksanakan pada penyiapan lahan. Dengan mengikuti prosedur penyiapan lahan budidaya tanaman mawar, maka lahan budidaya akan bersih dari gulma, kotoran dan sisa-sisa tanaman, lahan rata, struktur tanah gembur, dan tersedia bedengan sesuai prosedur standar. Pembuatan BedenganSetelah penyiapan lahan, pekerjaan selanjutnya yaitu pembuatan bedengan dengan prosedur kerja sebagai berikut:1. Siapkan bambu dengan diameter 10 cm dan panjang 1 m sebagai tiang penyangga bedengan; 2. Menyiapkan rangka bambu sebagai penopang plastik terpal;3. Menyiapkan terpal sebagai wadah media tanam;4. Memasang tiang bambu sebagai penyangga utama, jarak antar tiang 1 m dan 60 cm pada ujung batang. Bambu ditancapkan ke tanah dengan kedalaman sekitar 20 cm; 5. Memasang kerangka bambu belahan dengan tinggi 1 m, tancapkan sekitar 20 cm dengan jarak antar rangka sekitar 20 cm; 6. Pasang batangan bambu utuh pada dinding bawah dan bedengan atas;7. Memasang terpal ke dalam kerangka bambu yang telah dipasang; 8. Memasukkan media tanam ke dalam wadah terpal yang terdiri dari lapisan pertama tanah sekitar 20 cm dan di atasnya pupuk kandang setebal 60 cm; 9. Mencampur media tanam;10. Bedengan siap ditanami; dan11. Pasang 2 (dua) batangan bambu di atas bedengan dengan jarak sekitar 20 cm dari dinding bedeng untuk landasan batang tanaman.Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan