Indonesia dikenal sebagai penghasil rempah-rempah dunia. Salah satu tanaman rempah yang terkenal adalah buah Pala. Tanaman Pala seperi halnya kelapa memiliki manfaat diseluruh bagiannya. Komoditas Pala Indonesia telah diekspor ke manca negara untuk digunakan pada berbagai industri makanan dan minuman. Peluang dan prospek yang cukup baik tentunya memerlukan ketersediaan pasokan yang kontinyu.Para petani pala memproduksi biji sebagai komoditas ekspor. Berdasarkan (http://en.wikipedia.org/wiki/Nutmeg) menyebutkan bahwa biji pala berasal dari petani mencapai 61% dan 39% dipasok oleh perkebunan. Indonesia juga mengespor dalam bentuk fuli. Kebutuhan biji, fuli, dan minyak pala dari negara-negara eropa merupakan peluang baik yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Lain halnya dengan produk biji pala, olahan pala juga memiliki peluang ekspor yang cukup baik untuk kebutuhan negara timur tengahLuas areal perkebunan rakyat 168.418 ha dengan luas total 168.904 ha dengan produksi perkebunan rakyat tahun 2015 sejumlah 33.627 ton dengan total 33.711 ton dengan volume ekspor 17.027 ton dengan nilai 100.141 (000) US dollar (Ditjenbun, 2017). Berdasarkan data statistik bahwa luas areal terbesar adalah perkebunan rakyat. Permintaan akan produk olahan pala sangat tinggi. Pala dapat dibuat berbagai macam olahan yang disukai oleh masyarakat.Keunggulan Pala IndonesiaPala merupakan komoditas yang telah lama dibudidayakan. Luas perkebunan yang umumnya di dominasi oleh perkebunan rakyat menyebabkan tidak sulitnya menemukannya di pulau sentra komoditas tersebut. Produksi Pala Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Pala yang dihasilkan oleh beberapa daerah sentra memiliki komposisi kandungan yang berbeda-beda dengan keunggulannya masing-masing. Kelemahan Pala IndonesiaKelemahan yang dimiliki Pala asal Indonesia adalah banyaknya petani yang memanen yang belum tua. Biji Pala banyak yang dalam kondisi keriput sehingga mempengaruhi kualitas mutu Pala itu sendiri. Pala asal negara Grenada telah melakukan proses pasca panen yang lebih baik. Mereka melakukan fumigasi untuk mencegah terjadinya jamur. Untuk itu diperlukan upaya untuk memperbaiki proses pasca panennya. Peluang Pasar. Negara Indonesia sebagai pengekspor biji pala dan fuli terbesar di dunia. Permintaan yang tinggi terdiri dari produk pala dalam bentuk biji pala kering, fuli dan minyak pala. Nurjanah (2007) mengemukakan bahwa produk-produk pala diekspor ke negara Belanda, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, Perancis. Ekspor biji pala gelondongan ke Singapura pada tahun 2003 mencapai 1.083 ton senilai 3.939 (000) US dolar.Hasudungan Siregar (Republika, 03 Maret 2015) mengemukakan propinsi Sulawesi Utara mengekspor komoditas pala kepada 10 negara seperti Belanda, Italia, Amerika Serikat, Jepang, Vietnam, Spanyol, Jerman, Argentina, Singapura dan Afrika Selatan sejumlah 1,26 juta ton dengan nilai 17.86 juta dolar AS. Produk pala Indonesia memiliki permintaan yang tinggi dari negara-negara di Eropa. (CnnIndonesia, 17 Januari 2018) menyebutkan pada tahun 2016 ekspor komoditas Pala ke negara Belanda dan Italia mencapai 19,81 ton. Tiap tahun permintaan terhadap komoditas pala terus meningkat.(Liputan6.com, 11 September 2018) menyebutkan produk pala Indonesia seperti minyak pala diekspor ke beberapa negara di dunia seperti: USA, Spanyol, Singapura, dan Inggris. Permintaan tertinggi dalam bentuk biji pala yang sudah dikupas. NIlai ekspor biji pala mencapai 20.672 (000) US dolar. Permintaan negara lain datang dari negara berkembang Mesir. Pala yang diekspor ke negara ini mencapai 28 ton dengan nilai 2.4 miliar. Selain itu, saat ini permintaan pala organik sedang tinggi sehingga menjadi peluang besar untuk didapatkan petani pala di Indonesia.Peluang Pasar Dalam Negeri. Komoditas pala tidak hanya dibutuhkan di luar negeri namun dibutuhkan juga di dalam negeri. Pala di dalam negeri dijadikan bahan masakan dan olahan makanan lainnya. Nurjanah (2007) mengemukakan bahwa olahan pala seperti manisan mendapat respon yang baik di masyarakat sejak dahulu. Permintaan pala dalam bentuk buah mencapai 2,7 ton/bulan atau ±90 kg/hari. Komoditas pala tersebar luas di banyak wilayah Indonesia seperti: Propinsi NAD, Sumatera Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.Hambatan. Masalah terbesar adalah perilaku petani dalam melakukan usahatani Pala. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani harus berubah disebabkan adanya persaingan pasar oleh negara lain. Negara Grenada sebagai salah satu pemasok pala besar di dunia. Kualitas mutu biji pala yang diekspor menjadi sumber persaingan. Untuk itu dibutuhkan upaya secara berkesinambungan dalam mengembangkan perilaku petani pala dalam melaksanakan usahataninya.Daftar Pustaka1. (http://en.wikipedia.org/wiki/Nutmeg)2. Ditjenbun, 2016. Statistik Perkebunan Komoditas Pala 2015-2017.3. Republika, 03 Maret 20154. Liputan6.com, 11 September 20185. Nurdjanah, Nanan. 2007. Teknologi Pengolahan Pala. Badan Litbang Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca PanenPenulis: Miskat Ramdhani-Penyuluh Pertanian BBP2TP