Loading...

Pupuk Organik Bentuk Kompos

Pupuk Organik Bentuk Kompos
Bahan Pembuatan Pupuk OrganikBahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik dapat berupa sampah organik dari kebun, sampah rumah tangga, dedaunan, limbah pertanian dan kotoran ternak, limbah perikanan, limbah peternakan, limbah pengolahan makanan, limbah hasil hutan dan industri kertas serta limbah industri lain yang dapat didaur ulang. Beberapa sumber bahan organik dapat diberikan langsung ke dalam tanah tanpa perlu dikomposkan terlebih dahulu seperti hijauan jenis legum (azola, sesbania, mukuna) dan limbah dari media jamur. Beberapa bahan harus difermentasi terlebih dahulu seperti limbah industri makanan dan limbah pengolahan ikan/ternak. Bahan yang selain tersebut di atas harus dikomposkan terlebih dahulu. Bahan baku pupuk organik berfungsi ganda sebagai pembenah tanah/perbaikan sifat kimia tanah dan sebagai sumber hara tanaman seperti Ca, Mg, P. Bahan tambahan berupa bahan alami atau mikroba bermanfaat seperti rhizobium, bakteri pelarut P, mychoriza dan lainnya mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas pupuk organik. Dekomposisi Dekomposisi adalah proses penguraian bahan organik secara proses dekomposisi bahan organik dibagi menjadi beberapa tahap. Selama tahap awal atau dekomposisi intensif berlangsung, dihasilkan suhu yang cukup tinggi (60-700C) dalam waktu yang relatif pendek, bahan organik yang mudah terdekomposisi akan diubah menjadi senyawa lain. Selama tahap pematangan utama dan pasca pematangan, bahan yang sulit terdekomposisi akan terurai dan terbentuk ikatan komplek lempung humus. Hasil dari proses dekomposisi bahan organik adalah kompos. Proses Pembuatan KomposPeralatan 1) Tempat/bak pengomposan berupa bilah kayu atau bambu yang berfungsi sebagai pembatas pengomposan. Bak pengomposan permanen yang terbuat dari batu bata akan lebih baik. 2) Potongan kayu/bambu berbentuk pagar persegi panjang dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 1 m x 1 m x 1,25 m atau lebih besar disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan bahan baku. Tinggi dan lebar bak kompos tidak boleh kurang dari 1 m. 3) Alat penyiram (ember/gembor).4) Plastik berwarna gelap untuk menutup bak kompos agar terhindar dari hujan.5) Termometer batang. Cara Pengomposan 1) Bahan yang akan dikomposkan dikumpulkan. Bahan yang mudah lapuk dipisahkan dari bahan yang sulit lapuk seperti sabut atau tempurung kelapa, potongan batang/kayu/bambu dan lainnya.2) Bahan baku yang masih berukuran besar dan panjang dipotong/dicacah untuk mempercepat proses pengomposan. Bahan ditumpuk di dalam bak kompos lapis demi lapis dengan ketinggian masing-masing lapisan 20-25 cm. 3) Jika menggunakan inokulan dekomposer, maka inokulan disiramkan atau ditaburkan disetiap batas lapisan tumpukan sesuai dengan aturan pakai (4-5 kali penyiraman). 4) Penumpukan bahan baku secara berlapis dilakukan hingga ketinggian kompos mencapai 1-2 m. Apabila bahan baku yang digunakan kering, maka perlu dilakukan penyiraman untuk menjaga kelembaban (50-60%).Selama proses pengomposan berlangsung, suhu tumpukan kompos diamati secara berkala setiap 3-4 hari dengan cara : (1) Membuka tutup plasik jika diperlukan (di tempat pengamatan suhu/termometer); (2) Membuat lubang sedalam 20-25 cm dengan menggunakan tongkat kayu di sekeliling tumpukan kemudian masukkan termometer batang ke dalam lubang tusukan dan didiamkan selama 4-6 menit; (3) Menghitung nilai rata-rata suhu kompos dari kelima titik pengamatan; (4) Jika suhu >600C, berarti proses pengomposan berjalan cepat, jika suhu 65%) sehingga timbul bau busuk atau (c) kompos telah matang. 5) Pembalikkan tumpukan Pembalikan tumpukan kompos diperlukan untuk menjaga aerasi dan kelembaban serta meratakan suhu pengomposan. Cara pembalikan : (1) membuka plastik penutup dan membuka salah satu sisi bak kompos. (2) membongkar tumpukan kompos dan memperhatikan kelembabannya, apabila terlalu kering ditambahkan air hingga mencapai kelembaban 50-60%.. Tumpukan kompos yang terlalu basah, harus dikeringkan terlebih dahulu. (3) mengaduk bahan kompos kemudian menumpuk kembali seperti semula dan menutupnya dengan plastik. 6) Panen pupuk organik/kompos : (1) Jika selama tiga hari bertuurut-turut suhu dalam tumpukan kompos menurun hingga 25-300C, kelembaban 50-60%, dan volume tumpukan menyusut hingga 40-60%, maka kompos siap untuk dipanen; (2) Membuka tutup plastik dan membongkar tumpukan kompos kemudian mengeringkan hingga kadar air sekitar 15-20% dengan cara mengering-anginkan kompos di tempat yang terlindung dari terik matahari; (3) Kompos atau pupuk organik yang telah matang mempunyai ciri : tidak berbau atau berbau seperti tanah, remah, berwarna coklat kehitaman. Kompos dapat disimpan ke dalam karung atau ditempat yang terlindung dari matahari dan air hujan; 7) Pengkayaan pupuk organik: Kompos yang telah matang dapat diperkaya dengan penambahan bahan alami seperti kapur, dolomit, zeolit, batuan fosfat/kalium dan mikroba tanah bermanfaat (rhizobium, pelarut P, penghasil zat tumbuh, mikoriza, anti pathogen dan lainnya). Mencampurkan beberapa bahan pengkaya dalam bentuk padat/tepung/serbuk dengan formula bahan pengkaya pupuk organik = 1: 5-10. Menaburkan formula tersebut pada bagian atas hamparan pupuk organik kemudian mengaduknya dengan hati-hati menggunakan sekop hingga merata. Apabila bahan pengkaya berupa mikroba yang dilarutkan dalam cairan/larutan maka pengadukan dilakukan lebih hati-hati agar merata untuk seluruh bagian pupuk organik. Menyiapkan pupuk organik atau kompos yang telah matang dalam berat tertentu, misalnya 50 kg. Menyimpan pupuk organik yang telah diperkaya ke dalam karung dan diinkubasikan selama beberapa hari agar bahan tercampur merata. Sumber: Direktorat Jenderal P2HP (Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) - Kementan , 2013 Gambar : https://pupukbiogrow.wordpress.com/ Penulis: Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian-BPPSDMP-Kementan