Bertempat di ruang Mayang Mengurai kantor Bappeda Provinsi Jambi, pada hari Rabu dan Kamis, 21 - 22 Mei 2014 telah dilaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) di Provinsi Jambi. Rakor ini merupakan bentuk koordinasi Sekretariat Bakorluh Provinsi Jambi, Dinas Tanaman Pangan Provinsi Jambi dan BPTP Jambi dalam mencapai Peningkatan produksi pangan sesuai dengan rencana strategis Kementerian Pertanian 2010-2014 yang menargetkan swasembada berkelanjutan padi, jagung, dan kedelai, serta surplus beras 10 juta ton pada 2014. Dalam laporannya Sekretaris Bakorluh Jambi, Drs. H. Dasra, MTP menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya Rakor P2BN ini adalah untuk mengkoordinasikan dan mensinergikan pelaksanaan kegiatan, khususnya dalam hal percepatan pencapaian target produksi beras. Provinsi Jambi oleh Kementerian Pertanian menjadi satu di antara Provinsi yang diproyeksikan menjadi daerah penghasil beras dan tanaman pangan. Pemerintah pusat mentargetkan 1 juta ton beras dihasilkan di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Rakor dihadiri oleh 175 orang peserta terdiri dari para Bupati/Walikota atau yang mewakili dari seluruh Kab/Kota se- Provinsi Jambi, BUMN pelaksana pupuk dan benih, para Kadis Pertanian Kab/Kota se Provinsi Jambi, para Kepala BP4K/Bapelluh KP Kab/Kota se-Provinsi Jambi, para Kepala BP3K se-Provinsi Jambi, para Koordinator Penyuluh, para Koordinator Pengamat Hama, para Peneliti, dan para Koordinator Pengawas Benih se- Provinsi Jambi. Kepala Dinas Tanaman Provinsi Jambi Ir. Amrin Azis MSi mengatakan bahwa tahun 2013 lalu Provinsi Jambi menghasilkan 600 ribu ton beras. "Meningkat 39 ribu ton dari tahun sebelumnya," kata Amrin. Lebih lanjut dikatakan bahwa Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Sarolangun merupakan penghasil beras tertinggi dibandingkan daerah lain, sedangkan 3 Kabupaten lain yaitu Kab. Bungo,Kab. Tebo dan Kab. Batanghari penghasilan berasnya menurun. Di Kabupaten Bungo penurunan mencapai 12 persen, di Kabupaten Tebo turun 3,9 persen dan di Kabupaten Batanghari turun 3,1 persen. Penyebabnya adalah mulai dari alih fungsi lahan pertanian ke perkebunan juga untuk perumahan, ada juga pertambangan. Selain itu tenaga penyuluh pertanian dan sarana penyuluhan yang belum lengkap. Di Bungo misalnya, banyak petani beralih ke perkebunan, ini dikarenakan lebih menjanjikan menanam karet dibandingkan padi, "Kebanyakan petani ini kan menanam untuk keperluan sendiri, bukan sebagai profesi. Sebenarnya kalau orientasi untuk dijual menjanjikan juga," imbuhnya. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian DR. Ir. Udhoro Kasih Anggoro, MSi dalam sambutannya mengatakan bahwa kebutuhan beras tiga juta ton perbulan bagi rakyat Indonesia diupayakan pemenuhan target produksi beras nasional 10 juta ton. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan menurut Anggoro, Provinsi Jambi memiliki potensi, selain masih banyak lahan tidur, juga memiliki sumber air yang memadai. Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) pada Pembukaan Rakor Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) se Provinsi Jambi, mengatakan Dinas Pertanian dan pihak terkait jangan hanya melaporkan yang bagus saja, atau dengan kata lain Asal Bapak Senang (ABS). "Provinsi Jambi disebutkan surplus apa iya, kita lihat belum seperti itu. Saya terus kejar ke Dinas jangan hanya ABS," ucapnya. Pemerintah Provinsi Jambi terus mengupayakan peningkatan hasil pertanian Provinsi Jambi terutama peningkatan produksi beras sesuai dengan target nasional. Pemenuhan target produksi beras diupayakan HBA dengan cara intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian, perluasan areal, peningkatan produktifitas beras, rekayasa teknologi dan juga adanya Program Kampung Pangan Terpadu.(Nch)