Loading...

Rekomendasi Teknologi Budidaya Jagung Di Lahan Kering

Rekomendasi Teknologi Budidaya Jagung Di Lahan Kering
REKOMENDASI TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG DI LAHAN KERING Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan unggulan nomor dua setelah padi di wilayah Kabupaten Pasuruan khususnya di wilayah Kecamatan Nguling. Tanaman jagung di wilayah ini banyak di usahakan petani dilahan kering pada saat awal musim hujan. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan jagung nasional, memberi peluang agribisnis jagung melalui peningkatan produksi dan produklivitas pada tahun 2008. Peningkatan produksi jagung daerah lokal masih belum seimbang dalam memenuhi kebutuhan konsumsi sumber pangan masyarakat, produksi untuk bahan pakan ternak unggas dan sebagai bahan baku industri pangan, sehingga masih diperlukan jagung dari daerah lain. Jumlah jagung yang di datangkan dari daerah lain diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 2021 seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan juga meningkatnya populasi ternak unggas sesuai program pemerintah. Guna memenuhi kebutuhan lokal agar produksi jagung tetap tercukupi dan kemandirian pangan tercapai, maka diperlukan perbaikan teknologi dalam berbudidaya jagung di lahan kering. PERBAIKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG DILAHAN KERING Penyiapan lahan tanpa olah tanah (TOT) dengan menggunakan herbisida ramah lingkungan dari glifosat (Round Up,Grestin, dll) dengan takaran 2 ltr/ha dan paraquat (Gramoxone, Noxone,dll) dengan takaran 1 ltr/ha. Herbisida glifosat diaplikasikan seminggu sebelum tanam,sedangkan herbisida paraquat di aplikasikan 4 hari setelah aplikasi herbisida glifosat. Untuk mempercepat waktu tanam, sehari setelah aplikasi herbisida paraquat dapat dilakukan penanaman. Penyemprotan dilakukan setelah embun di daun mengering (jam 09.00) pagi. Benih berkualitas (daya tumbuh minimal 90% dan vigornya cukup tinggi). Benih dengan kualitas prima diperlukan untuk memacu keseragaman dan kecepatan pertumbuhan. Benih dengan kualitas fisiologi yang tinggi lebih toleran terhadap kondisi biofisik yang kurang optimal dan lebih efektif dalam memanfaatkan pupuk dan unsur hara lain dalam tanah. Kebutuhan benih 20 kg/ha. Varietas yang digunakan adalah varietas unggul bersari bebas yang toleran kekeringan seperti NK dan DK. Perlakuan benih sebelum ditanam dengan melumuri benih menggunakan larutan ridomil sesuai anjuran untuk mencegah penyakit bulai. Penanaman benih jagung menggunakan alat tanam tugal dengan jarak tanam 75 x 40 cm sebanyak 2 butir benih/lubang tanam. Pemupukan Pupuk organik (pupuk kandang) 1,5 ton/ha aplikasi pada saat tanam sebagai penutup lubang tanam (1 genggam/lubang). Pupuk dasar : Urea : NPK : Organik = 100 : 100 : 100 (kg/ha) (NPK sesuai status hara tanah) : aplikasi pada umur 15 hari setelah tanam (setelah penyiangan l). Pupuk susulan : Urea 200 kg/ha + NPK 200 kg/ha ; aplikasi 5 – 6 minggu setelah tumbuh (MST). Penyiangan : Pada saat tanaman berumur 14 HST Pada saat tanaman berumur 30 HST sekaligus pembumbunan Pengendalian hama/penyakit sesuai prinsip PHT. Hama lalat bibit di kendalikan dengan pemberian karbofuran (Furadan 3 G) saat tanam, dan sewaktu – waktu bila ada gejala serangan dengan meletakkan 3 - 4 butir furadan pada pucuk tanaman. Pemangkasan batang bagian atas tongkol jagung Dimaksudkan untuk mempercepat proses pengeringan Pemangkasan tanaman dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak Dilakukan pada saat tanaman jagung berumur 85 HST (2 minggu sebelum panen) Dilakukan bila cuaca memungkinkan (cerah) hingga waktu panen Panen dan pascapanen Panen dilakukan pada saat kelobot jagung berwarna kuning, biji jagung mengkilap dan jika ditekan tidak meninggalkan bekas. Jagung yang dipanen dikupas dan dipipil kemudian di jemur hingga kadar air mencapai 15%. Untuk lebih efisien di anjurkan menggunakan mesin pemipil jagung.