Loading...

SAMBUNG PUCUK TANAMAN JAMBU METE

SAMBUNG PUCUK TANAMAN JAMBU METE
Tanaman jambu mete merupakan salah satu komoditas yang mempunyai peran penting di Kawasan Timur Indonesia. Tanaman jambu mete merupakan tanaman serbaguna, selain berguna dalam memperbaiki lahan kritis/penghijauan, juga sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat. Salah satu kendala dalam pengembangan jambu mete adalah tidak tersedianya benih varietas unggul dalam jumlah yang memadai untuk penanaman dalam skala besar. Hal tersebut dapat diatasi dengan perbanyakan tanaman secara vegetatif melalui sambungan (grafting), agar dapat menghasilkan kualitas tanaman seperti induknya. Teknik sambungan (grafting) merupakan teknologi penggabungan karakter unggul dari dua individu yang berbeda, yaitu individu untuk batang bawah yang mempunyai keunggulan sistem perakaran yang dalam dan mampu beradaptasi dengan baik di daerah pengembangan dan individu untuk batang atas (entres) yang mempunyai keunggulan produksi yang tinggi. Oleh karena itu dengan penggunaan benih grafting diharapkan akan diperoleh individu baru tanaman jambu mete dengan perakaran yang dalam dan telah beradaptasi baik di daerah pengembangan dan produktivitasnya tinggi dan stabil. Pada teknik sambungan ini, hal yang perlu diperhatikan adalah penyiapan batang bawah dan penyiapan batang atas (entres). Batang bawah sebaiknya dipilih dari tanaman jambu mete yang mempunyai sistem perakaran yang kuat dan mampu beradaptasi dengan baik di daerah pengembangan. Oleh karena itu materi untuk batang bawah sebaiknya berasal dari jenis lokal terseleksi. Sedangkan untuk batang atas (entres) diambil dari varietas unggul yang mempunyai produksi tinggi, tahan terhadap cekaman air serta toleran hama dan penyakit. Persiapan batang bawah jambu mete untuk materi sambungan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Benih yang digunakan berasal dari biji jambu mete yang dipanen pada saat mencapai masak fisiologis, berumur 40 – 50 hari setelah bunga mekar. Ciri-cirinya adalah aromanya mulai tercium dan buah semunya mulai berubah warna. Benih harus disimpan pada kadar air rendah (sekitar 5%) dan suhu rendah, dan pada saat akan disemai benih perlu direndam dalam air selama 24 – 48 jam; Penanaman dilakukan dengan membenamkan bagian bawah atau bagian lekukan benih menghadap ke bawah ke dalam media semai/tanah. Lakukan penyiraman setiap hari jika tidak turun hujan, untuk mempertahankan kadar air media tanam sekurang-kurangnya 70% kapasitas lapang. Penyambungan dapat dilakukan pada umur 12 – 14 minggu setelah berkecambah. Adapun untuk persiapan batang atas (entres) perlu dilakukan tahapan sebagai berikut : Entres diambil dari pohon induk atau kebun entres dari varietas unggul, dengan panjang entres antara 20 – 25 cm dan diameter 0,5 – 0,6 cm atau mendekati/sama dengan ukuran diameter batang bawahnya; Ujung cabang yang diambil sebaiknya dari cabang yang posisinya lurus ke atas atau miring ke atas. Hindari mengambil entres dari cabang yang posisinya mendatar atau miring ke bawah; Tiga hari sebelum di potong, daun-daun pada calon entres di lapangan di buang. Bahan entres yang telah dipotong segera disimpan di tempat teduh dan segera dilakukan penyambungan benih untuk mencegah penurunan prosentase daya tumbuh benih grafting akibat penggunaan entres yang kurang segar. Teknik penyambungan jambu mete, sebagai berikut : Pucuk daun batang bawah sebanyak 3 daun dibuang seminggu sebelum dilakukan penyambungan. Kemudian batang bawah dipotong dengan menyisakan 4 daun, kemudian dibelah pada bagian ujung tengah sedalam 2 – 2,5 cm sehingga celahnya membentuk huruf V. Batang atas (entres) disayat bagian kiri kanannya sepanjang 2 – 2,5 cm sehingga ujungnya meruncing membentuk huruf V. Kemudian sisipkan entres ke dalam belahan batang bawah, sampai kambiumnya bersentuhan dengan kambium batang bawah. Lalu ikat dengan menggunakan plastik transparan. Penyambungan dilakukan tidak lebih dari 5 hari setelah pengambilan entres pada jam 07.00 – 11.00. Sambungan yang telah diikat kemudian disungkup dan diletakkan di tempat yang teduh dengan intensitas penyinaran 50%. Satu bulan setelah penyambungan, benih yang berhasil disambung akan mengeluarkan tunas baru. Setelah teknik penyambungan berhasil, benih hasil sambungan perlu dipelihara secara optimal agar tetap prima sampai siap tanam. Pemeliharaan dilakukan dengan melakukan penyiraman, pemupukan, pengendalian gulma dan hama penyakit. Penyiraman dilakukan setiap hari agar ketersediaan air pada media tanam tidak kurang dari 70% kapasitas lapang. Pemupukan dilakukan dengan memberikan pupuk dasar/pupuk kandang. Pengendalian gulma dilakukan rutin setiap bulan sedangkan pengendalian hama penyakit dilakukan selambat-lambatnya sebulan sekali untuk mencegah hama yang menyerang daun muda atau pucuk dan penyakit akar, pucuk atau kulit yang dapat menyebabkan kematian bibit hasil sambungan. Selain pemeliharaan tersebut diatas, juga perlu dilakukan pembuangan tunas-tunas yang tumbuh dari batang bawah untuk menghindari persaingan yang dilakukan secara rutin setiap dua minggu sekali dan pengurangan naungan secara bertahap agar benih dapat beradaptasi dengan lingkungan. Penanaman benih sambungan dapat dilakukan pada umur 3 – 4 bulan setelah grafting. Penulis : Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Saefudin, 2009. Inovasi Teknologi Untuk Meningkatkan Keberhasilan Sambung Pucuk Pada Tanaman Jambu Mete. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 15 (3) Desember 2009.