Loading...

SINKRONISASI BIRAHI MENDUKUNG KAWIN SUNTIK (IB) PADA SAPI

SINKRONISASI BIRAHI MENDUKUNG KAWIN SUNTIK (IB) PADA SAPI
Kawin suntik (IB) merupakan salah satu cara yang sangat efektif dalam menghasilkan bibit yang bermutu pada ternak sapi. Sekaligus, juga dapat mempercepat peningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi di Indonesia. Melalui IB, efesiensi penggunaan bibit sapi pejantan unggul dapat ditingkatkan, disamping juga mendukung upaya penyebaran bibit berkualitas yang mempunyai mutu genetik unggul. Beberapa bibit ternak sapi yang dikenal memiliki mutu genetik unggul antara lain sapi Brahman, sapi Limousin, sapi Brahman Cross, sapi Angus akan berproduksi lebih baik dan cepat besar, sehingga dapat memberikan keuntungan bagi petani peternak dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.Untuk mendukung keberhasilan IB pada ternak sapi perlu disiasati dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya yang sering digunakan, adalah dengan metode sinkronisasi birahi. Cara ini dilakukan dengan mengatur perkawinan melalui penyerentakan birahi. Upaya ini merupakan cara yang efektif dalam mencari akseptor baru dan mendukung keberhasilan pelaksanaan IB di lapangan.Pengertian IB itu sendiri yaitu memasukan mani/semen kedalam alat kelamin hewan betina sehat dengan menggunakan alat inseminasi dengan tujuan agar hewan tersebut menjadi bunting. Dengan sinkronisasi birahi pada ternak sapi dapat memungkinkan banyaknya ternak sapi dikawin suntik (diinseminasi) dalam waktu singkat, sehingga menghemat waktu dan tenaga saat kawin suntik (inseminasi), serta memperpendek jarak waktu beranak.SISTEM SINKRONISASI DAN CARA KERJA Sistem sinkronisasi birahi dapat menggunakan 2 (dua) macam produk, yaitu : 1) produk prostaglandin (antara lain merek Lutalyse, Prosolvin, Reprodin, Boviline, dan Estrumate); dan 2) produk CIDR (Contolled Interval Drug Release). Sedangkan Cara Kerja dalam Sistem Sinkronisasi Birahi sangat menentukan tingkat keberhasilannya. Perbedaan cara kerja ini adalah dalam hal penggunaan produk dan cara pemberiannya.Sinkronisasi Memakai Prostaglandin (PGF2a). Prostaglandin merupakan kelompok bahan-bahan aktif kimiawi yang mempunyai sifat hampir sama. Semua produk prostaglandin dapat diperoleh berdasarkan resep dokter hewan, karena potensi efek sampingnya. Dalam hal ini, perlu penanganan yang cermat dan berhati-hati untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan atau hal-hal yang mempunyai efek negatif (kurang baik), karena Prostaglandin tidak boleh ditangani oleh para penderita asma atau wanita dalam usia subur.Karena prostaglandin bekerja dengan cara melarutkan corpus luteum, ternak sapi harus mempunyai siklus birahi yang normal. Ternak sapi yang terlalu kecil atau kurang gizi mungkin tidak mempunyai siklus birahi, dan prostaglandin tidak akan merangsang timbulnya siklus birahi pada ternak sapi. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi besarnya presentase ternak sapi mempunyai siklus birahi normal dalam satu kelompok adalah : kondisi tubuh, bangsa, umur, jarak kelahiran (interval) anak, musim, dan cuaca.Sinkronisasi Memakai Controlled Interval Drug Release (CIDR). Implant ditempatkan ke dalam vagina dengan menggunakan alat pemasang. Bentuk CIDR ada 2 (dua) yaitu bentuk spiral dan huruf "T". Beberapa cara penggunaan CIDR : 1)Kombinasi CIDR dengan Oestradiol, CIDR berisi kombinasi progesteron dan Oestradiol Benzoate, pemakai dengan cara implantasi ke dalam vagina selama 10 – 12 hari. Ternak sapi betina dapat di IB setelah 56 jam CIDR dicabut, atau IB dapat dilakukan 2 kali pada 48 jam dan 72 jam setalah CIDR dicabut; 2) KombinasiCIDR dengan PGF2a, untuk ternak sapi dara implantasi CIDR kedalam vagina pada H0 (hari. 0), pada H6 suntik PGF2a (7,5 mg/ekor), dan cabut CIDR pada H10 selanjutnya di IB pada H12 atau 50 jam setelah pencabutan CIDR. Untuk ternak sapi potong dan perah, implantasi CIDR kedalam vagina pada H0 (hari. 0), pada H6 suntik dengan PGF2a, cabut CIDR H7 selanjutnya ternak di IB pada H9.Untuk kelancaran dan efektifitas pelaksanaan sinkronisasi birahi, perlu sistem penanganan yang aman dan mudah dilaksanakan. Tidak saja peralatannya harus bersahabat dengan ternak sapi, tetapi juga harus mudah penggunaannya. Disamping itu, hal-hal kecil seperti "block gate" tempat inseminator juga diperlukan. Yang tidak kalah penting, jangan lupa menyediakan pelindung terhadap debu dan peralatan untuk orang-orang yang menangani semen serta mengisi "insemination guns". Hal ini akan meningkatkan kemungkinan keberhasilan.Pastikan juga tersedianya tenaga inseminator yang terlatih dan berpengalaman. Biarkan inseminator mengatur giliran ternak sapi sehingga dapat meminimalkan kelelahan. Teknik inseminasi yang tepat dapat dipertahankan bila inseminator tetap bugar. Untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan, koordinasikan kebutuhan semen dengan supplier jauh-jauh hari sebelum memulai kegiatan sinkronisasi birahi pada ternak sapi. Hal ini memungkinkan memperoleh jumlah dan jenis semen sesuai pilihan serta tersedia pada saat ternak sapi siap dikawinkan. Agar setiap kegiatan sinkronisasi birahi pada ternak sapi berhasil, dibutuhkan manajemen yang baik dan juga diperlukan suatu presentase tinggi dari ternak sapi betina yang siklus reproduksinya berlangsung baik, sebelum awal musim kawin. Makin cepat ternak sapi potong diberi makan banyak setelah beranak, makin cepat terjadi siklusnya.Metode sinkronisasi birahi memungkinkan banyaknya ternak sapi dikawin suntik dalam waktu singkat dan efesien. Secara teknis memang hanya dapat dikerjakan oleh ahlinya (inseminator), akan tetapi peran penyuluh pertanian sangat penting dalam memberikan informasi dan motivasi agar petani peternak/ poktan mau serta tertarik untuk mengawinkan ternak sapinya melalui IB dengan sinkronisasi birahi. Selanjutnya, para penyuluh pertanian dan inseminator setempat dapat berkonsultasi dan berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Kabupaten/Kota atau Dinas yang membidangi peternakan dalam rangka mensukseskan kegiatan sinkronisasi birahi pada ternak sapi untuk mendukung keberhasilan IB. ( Inang Sariati) Sumber : 1.Pedoman Umum "Pelayanan Inseminasi Buatan(IB) Pada Ternak Sapi", Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan 2.Folder " Program Sinkronisasi Birahi Pada Ternak Sapi ", Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan