Loading...

Sistem Budidaya Blonceng Di Desa Padangan Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung

Sistem Budidaya Blonceng Di Desa Padangan Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung
Blonceng (nama khas diwilayah ini) atau labu air( Latin:LAGENARIA-SICERARIA) merupakan sayuran yang sangat digemari masyarakat . Labu ini sangat cocok dibudidayakan didataran rendah sampai tinggi .Pertumbuhan tanaman ini merambat dengan vigor kuat. Bentuk buah silindris dengan panjang 40 – 45 cm dan diameter 6 -9 cm. Warna kulit buah hijau keputihan, dengan berat buah mencapai 800 gram .Pengalaman petani mengisyaratkan, apabila besaran harga suatu komoditi dimasa mendatang, harga komoditas tersebut berpeluang membaik, cenderung terus dikembangkan. Hal ini karena pengalaman yang mereka punyai selama beberapa tahun mengusahakan komoditi tersebut. Bila hasilnya baik dimasa mendatang maka mereka menanamnya sekarang, demikian juga sebaliknya ( Soekartawi, 1987). Dalam rangka intensifikasi tanaman labu, diperlukan langkah langkah sehingga dapat berhasil dengan baik. Salah satunya yaitu melalui intensifkasi sehingga memberikan hasil yang maksimal. Pengalaman petani Desa Padangan, mereka menggunakan bibit unggul Hibrida dari Perusahan Pembenihan. Pemilihnya bibit labu air hibrida, diharapkan mempunyai potensi hasil 64 ton per hektar. Bibit hibrida ini mempunyai kemampuan berumur genjah, yaitu mulai panen pada umur 45 hari.. Kebutuhan lain yang tidak kalah pentingnya adalah air. Tanaman ini sangat membutuhkan air terutama pada waktu pertumbuhan awal dan pembentukan buah. Namun demikian air yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Apabila curah hujan terlalu tinggi maka pertumbuhan vegetatif menjadi tidak seimbang dengan pertumbuhan generatif dan tanaman bisa terserang hama dan penyakit. Penanaman pada musim penghujan dapat dilakukan dengan syarat pemeliharaan tanaman lebih diintensifkan, terutama dalam pengendalian hama dan penyakit. Penanaman pada musim penghujan sebaiknya dilakukan pada lahan kering sedangkan pada musim kemarau sebaiknya dilakukan pada lahan basah ( Sudarto, 1993 ). Kesuburan tanah, varietas, serta kualitas maupun kuantitas sangat diharapkan Demikian juga Pengendalian hama dilakukan secara mekanik dan secara kimiawi. Secara mekanik dengan cara diambil dengan tangan dan dimatikan. Secara kimiawi dengan menggunakan pestisida.Pengolahan tanah adalah untuk memperbaiki sifat fisik tanah, yaitu menggemburkan tanah, memudahkan pengairan, menghindari genangan air, dan terjadinya kekeringan tanah karena penguapan yang terlalu besar. Selain itu juga untuk memperbaiki sifat kimia tanah, agar unsur hara dalam tanah dapat terkait dan mudah diserap oleh tanaman, sekaligus untuk meningkatkan pH tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman. Caranya ialah dengan pemberian aerasi yang baik dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan aktivitas jasad hidup dalam tanah agar dapat berkembang dengan baik sehingga tanah menjadi subur. Pengolahan tanah juga bertujuan untuk mengendalikan gulma yang dapat mengganggu tanaman sekaligus untuk mematikan bibit hama dan penyakit yang berbahaya bagi tanaman ( Sudarto, 1993).Penanaman labu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan cara tanam bibit dan cara tebar benih. Bibit dapat dipidah dari pembibitan bila sudah mempunyai 4-5 helai daun atau tumbuh sekitar 10-12 cm. Pada lokasi yang cukup lembab, bibit dapat dipindahkan pada umur yang lebih singkat atau telah menunbuhkan 3 helai daun. Pada musim kering bibit yang dipindahkan sebaiknya sesuai ketentuan karena jika bibit sudah besar akan sulit beradaptasi dan akibatnya bibit mudah layu ( Imdad dan Nawangsih, 1994).Jarak tanam perlu diatur lebih cermat agar sulur-sulur labu dapat memudahkan pemeliharaannya ( Sudarto, 1993 ). Penghitungan jarak tanam ini untuk mendapatkan ruang tumbuh yang leluasa dan populasi tanaman banyak. Tetapi jika jarak tanam terlalu lebar,Petani diwilayah menggunakan jarak tanam 200 cm x 80 cm Pemberian pupuk dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu pupuk dasar dan pupuk tambahan. Pupuk dasar yang digunakan adalah kompos atau pupuk kandang, kapur pertanian, dan TSP. Setiap lubang tanam diperlukan 2,5,kg pupuk kandang / kompos 20 gr kapur pertanian dan 30 gr TSP. Pupuk ini diberikan sebelum pembibitan.Sedangkan Pupuk tambahan yang dierikan berupa Urea 7 kg dan KCL 5 gr yang diberikan 10 hst,kemudian saat tanaman mulai menghasilkan bunga dan sebelum buah terbentuk diberikan tambahan pupuk yaitu urea 10 gr, KCL 10 gr dan NPK 10 gr. Sedangkan pupuk terakhir diberikan sebelum dilakukan panen buah pertama. Sedangkan pemberian pupuk N harus terkontrol karena jika kelebihan tanaman bisa tumbuh terlalu subur. Hal ini akan berakibat daun tanaman akan mudah terserang hama atau pathogen penyebab penyakit. Ciri yang menonjol bila tanaman kelebihan N adalah pada batang utama atau percabangan banyak ditemukan tunas-tunas baru yang tumbuh. Oleh : Mudayat, SPtBPP Kecamatan Ngantru Daftar Pustaka : Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi dan Analisis Fungsi. Cobb Douglas. Rajawali Prers. Jakarta Lingga. 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.