Loading...

Sistem Integrasi Usaha Tani Terintegrasi Kelapa-Sapi

Sistem Integrasi Usaha Tani Terintegrasi Kelapa-Sapi
Sistem Integrasi Usaha Tani Terintegrasi Kelapa-Sapi Tanaman Kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan yang paling banyak dibudidayakan maupun sudah ada secara turun-temurun di lingkungan masyarakat. Seluruh komponan tanaman Kelapa dapat diolah dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun pada umumnya lahan perkebunan kelapa kurang dimanfaatkan oleh petani dengan baik. Pada perkebunan kelapa, lahan di bawah tegakan pohon dapat dioptimalkan sehingga dapat diintegrasikan dengan sektor peternakan. Pada tanaman Kelapa terdapat sumber pakan yang sangat baik untuk dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan ternak. Pada lingkungan tumbuh tanaman Kelapa terdapat rumput-rumputan yang baik untuk dikonsumsi oleh ternak. Rumput-rumputan dengan jenis rumput teki maupun rumput lapangan. Campuran rumput dan leguminosa sangat dibutuhkan oleh ternak. Ternak sapi atau ruminansia besar membutuhkan hijauan pakan yang cukup besar Rusnan et al (2015) dan Parakkasi (1999) mengemukakan bahwa jumlah hijauan yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia besar adalah 10% dari jumlah bobot tubuhnya. Lahan pertanaman kelapa dapat dibudidayakan tanaman yang menghasilkan hijauan pakan yang dibutuhkan oleh ternak. Produktivitas ternak tergantung pada kualitas pakan yang didapat pada hijauan di sekitar lingkungan tumbuhnya. Pada umumnya petani memanfaatkan tumubuhan rumput liar yang ada di sekitar pertanaman kelapa miliknya. Ternak sapi membutuhkan padang gembalaan untuk kebutuhan hidupnya. Lingkungan tumbuh tanaman kelapa dapat dimanfaatkan dengan berbagai macam tanaman yang dapat mencukupi kebutuhan ternak dan sekaligus sebagai lahan penggembalaan ternaknya itu sendiri. Integrasi kelapa-sapi diyakini dapat memberikan manfaat yang jauh lebih baik. Pakan ternak hijauan yang dimaksud adalah tanaman yang menghasilkan sumber serat kasar.Davendra (1990) dalam Salendu et al (2012)pakan ternak dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis, yaitu: hijauan makanan ternak, sisa hasil pertanian, hasil ikutan pertanian, limbah agroindustri, dan pakan non konvensional. Bentuk pakan dapat dibedakan menjadi pakan segar maupun kering. Pakan segar merupakan brangkasan basah dan pakan kering merupakan brangkasan kering. Pakan segar dapat kita temukan dalam bentuk rumput-rumputan dan pakan kering dalam bentuk jerami maupun sisa tanaman jagung. Santoso (1989) dalam Salendu et al (2012) mengemukakan bahwa seekor ternak besar akan mengkonsumsi hijauan sebesar 10% dari berat badannya. Pada umumnya dalam kisaran 20-25 kg/ekor/hari tergantung ukuran tubuh sapi. Lebih jauh lagi, Rusdiana et al (2013) mengemukakan bahwa dalam satu hektar lahan perkebunan kelapa dapat menghasilkan hijauan pakan sejumlah 55 ton serta rumput sejumlah 45,7 ton. Hasil ini dapat memberikan daya tampung ternak sekitar 4 ekor ternak sapi potong. Salah satu jenis pakan yang dapat dibudidayakan dibawah tegakan kelapa adalah: rumput Gajah. Dengan tanaman pakan yang dibudidayakan dengan baik dan tersedia sepanjang tahun akan dapat menjaga kesinambungan produksi sapi di wilayah tersebut. Adapun tanaman lainnya dengan memberikan introduksi pakan ternak rumput yang baik. Drawft adalah salah satu jenis rumput yang berkualitas Untuk membudidayakan rumput drawft pada lahan yang ditanami kelapa seluas 1 ha dengan jarak tanam 10 x 10 m diperlukan bibit sejumlah 16.000 stek. Jarak tanam yang dapat digunakan adalah 1 x 0,5 m. Dengan jarak tanam seperti ini, maka akan dapat menghasilkan rumput grawft 4 kg/m2. Panen rumput drawft dapat dilakukan 9 kali dengan cara dipotong. Dengan jumlah panen 9 kali dalam setahunnya, rumput grawft dapat menghasilkan 288 ton/tahun jika ditanam dibawah tegakan tanaman kelapa. Hasil ini menunjukkan bila diasumsikan setiap petani tanaman kelapa yang sekaligus peternak memiliki ternak ruminansia besar sejumlah 2-8 ekor maka dapat mencukupi kebutuhan ternak ± 22 unit ternak/tahun.Integrasi tanaman kelapa dan ternak sapi harus dapat dikelola dengan baik. Jika diabaikan maka akan dapat memberikan dampak erosi pada lahan yang digembalakan ternak. Untuk itu, diperlukan upaya mengendalikan erosi di areal integrasi kelapa dan ternak itu sendiri. Tidak diperkenankan digembalakan secara berlebihan. Untuk itu, petani perkebunan kelapa yang sekaligus memiliki ternak ataupun peternak harus dapat memperhatikan kapasitas tampung lahan yang terdapat dibawah tegakan kelapa.Bagian lain yang dapat dimanfaatkan dari kelapa untuk ternak adalah bungkilnya. Bungkil kelapa adalah: sisa-sisa ampas kelapa parut dan telah dihilangkan kadar airnya melalui proses pemanasan. Bungkil dapat diberikan dengan dicampurkan sebagai bagian konsentrat. Besarannya adalah sebesar 10% dari total konsentrat kita berikan. Misalnya untuk seekor sapi berat 300 Kg dibutuhkan konsentrat sebesar 1% dari berat badan yakni 3 Kg / hari. Jadi bungkil yang kita butuhkan untuk seekor sapi 300 Kg adalah 300 gram atau 3 ons, sisanya adalah dedak atau bekatul. Sumber: Artise HS Salendu dan Femi H Elly. Pemanfaatan Lahan di Bawah Pohon Kelapa Untuk Hijauan Pakan Sapi di Sulawesi Utara. Jurnal Pastura Vol 2 No 1: 21-35 dan sumber-sumber lainnya. Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.com