Musim kemarau di Jawa Tengah tahun 2014 diprediksi akan dipengaruhi El Nino Lemah, musim kemarau diprakirakan memasuki wilayah Jawa Tengah pada bulan April s/d Juni (April 15 %, Mei 57 % dan juni 28 %), sehingga perlu antisipasi untuk mengamankan produksi pangan melalui pengaturan pola tanam dan pengendalian kemungkinan terjadinya gangguan OPT. Sementara kondisi air waduk di Jawa Tengah yang terpantau di 38 waduk (8 besar dan 30 kecil), volume air waduk masih cukup untuk memenuhi kebutuhan, namun demikian beberapa Kabupaten/Kota perlu mewaspadai bencana kekeringan dan rawan kekeringan, antara lain Brebes utara, Pemalang utara, Rembang dan Blora, Tegal utara, Pekalongan barat sampai utara, Grobogan, Pati dan Wonogiri. Permasalahan tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota, 29 April 2014 di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Rumusan permasalahan dan solusi lainnya yang mengemuka adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan air irigasi guna mendukung tercapainya target produksi pangan di Jawa Tengah, perlu diambil langkah pertama penerapan sistem alokasi air yang benar akan sangat membantu dalam antisipasi kekeringan, yang didukung tingkat kesadaran masyarakat untuk hemat air dan menjaga lingkungan hidup serta kelancaran distribusi air sesuai kesepakatan gilir. Dalam Rakor yang dipimpin oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Pripinsi Jawa Tengah, Ir Gayatri juga menyatakan, untuk mendukung pencapaian swasembada pangan nasional, khususnya surplus beras 10 juta ton tingkat nasional maka Jawa Tengah mentargetkan sasaran produksi tanaman pangan tahun 2014 untuk padi sebesar 10.275.849 ton, jagung sebesar 3.025216 ton, dan kedelai sebesar 139.621 ton, untuk itu perlu diambil langkah-langkah : pertama, peningkatan produktivitas; kedua, perluasan areal tanam dan pengelolaan lahan; ketiga, pengamanan produksi dari gangguan OPT dan perubahan iklim, keempat, penyempurnaan manajemen pasca panen dan kelima, pengendalian alih fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian; Yang tidak kalah menariknya, dari hasil rumusan Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota, 29 April 2014 yaitu kondisi cadangan pangan pemerintah yang dikuasai oleh Perum Bulog Divre Jawa Tengah, stok sampai dengan dengan tanggal 27 April 2014 sebesar 225.132 ton (ketahanan stok 6,11 bulan, cukup s/d oktober 2014), pengadaan sampai saat ini baru mencapai 140.000 ton setara beras (17,95 % dari prognosa 780.000 ton), untuk itu Bulog perlu segera mengambil langkah untuk meningkatan pengadaan dengan menyerap gabah dari petani seoptimal mungkin sekaligus untuk mewujudkan stabilitas harga gabah di Jawa Tengah. Sedangkan guna mengantisipasi kemungkinanan adanya dampak perubahan iklim di Jawa Tengah, perlu diambil langkah - langkah antara lain Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), Sekolah Lapangan Iklim (SLI), penyediaan stok pestisida, penggunaan pupuk organik, penanaman padi varietas rendah emisi, sistem irigasi berselang, serta pengaturan waktu dan pola tanam. (AP)