Loading...

STRATEGI PENGEMBANGAN PHT JAMBU METE

STRATEGI PENGEMBANGAN PHT JAMBU METE
Visi penmbangunan pertanisaat ini dan masa yang akan datang adalah sustainable growht withs zero emission and waste Misinya adalah: (1) meningkatkan efisiensi faktor produksi input pertania; (2) melakuan daur ulang; (3) melakukan proses produksi dan manghasilakan produk yang aman; (4) meningkantkan nilai tamba produk untuk kepentingan produsen dan kosumen; serta (5) menimumkan dampak pada lingkunga beberapa konsep pertanian masa kini dan masa depan telah diterapkan, seperti pertanian organik dan precision agriculture. Oleh karena itu, arah pengendalian jambu mete harus selaras dengan konsep pertanian masa kini dan masa depan, yang melakukan analisis lingkungan terhadap setiap jengkal agroekosistem sehingga aplikasi teknologi dilakuakan secara tepat. Arah pengendalian hama adalah menciptakan infrastruktur ekologi yang seimbang dalam agroekositem dengan melengkapi sumber energi yang diperlukan, seperti makanan bagi musuh alami, mangsa atau inang alternatif bagi musuh alami, dan perlindunga dari cuaca yang merugikan. Hal demikian sudah lama ditinggalkan karena petani lebih memilih pengendalian yang cepat memberi hasil tepat tidak berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pembanguana pertani tidak lagi back to nature tetapi back to basic berdasarkan cashew web, banyak komponen yang mengaruhi keseimbangan helopeltis spp., yaitu; (a) parasitoid telur (Apanteles sp., E. Helopeltidis, Ehelopeltidis, dan telenamus): (b) predator telur dan nimfa (cocopet dan C. busalis); (c) predator nimfa dan imago (O. Smaragdina, D. Bituberculatus); (d) inang alteranif (jambu, mangga); (e) interaksi dengan hama lain (S. indeccora); (f) inang alterantif S. indeccora (dadap, kapuk, lamtoro, jambu biji, rambutan, dan anona); (g) parasitoid telur phanomaerus sp.; (h) patogen (syennematium sp. Dan B, bassiana); (i) hiperparasitoid Apanteles, dan (j) teknologi tanaman. Selain faktor biotik, faktor biotik juga mengaruhi keseimbangan populasi, seperti curah hujan, kelembapan, dan radiasi matahari. Musuh alami merupa parasitoid dan pridator telur belum banyak dipelajari,tetapi populasinya banyak di alami pemanfaatannya dapat dilakukan dengan memberikan lingkungan yang sesuai bagi perkembangan parasit dan pridator, misalnya dengan menanam tanaman sela kancang-kacangan atau membuat tumpukan serasah di kebun sebagi tempat makan parasit (soebandrijo 2003). Peran pridator Oecophylla dan dolichoderus telah banyak dipelajari pada agroekosistem kelapa, kopi, kakao (way dan khoo 1992), dan jambu mete ( karmawati et al 2004). Pemanfaatannya sangat mudah, yaitu dengan menggantungkan dn kelapa atau daun kakaokering yang diikat pada beberapa tanaman. Parasitoid Aphanomerus sp. (mardiningsih et al 2006). dan B. bassiana (karmawati et al 2001). Telah dapat perbanyak di laboratorium dan dimanfaatkan dengan teknik inokulatif atau inundatif. Menipulasi ekologi juga dapat di lakukan dengan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi perkembangan helopeltis spp., yaitu memangksa tajuk tanaman inang agar cahaya matahari masuk ke kanopi serta membersihkan gulma yang menjadi inang alternatif karena serangga hama tersebut sangat sensitif terhadap radiasi matahari. Inang alternatif bagi hama utama sebanyak tidak dihadirkan bersama dalam satu kebun dengan inang yang dibudidayakan. Kehadiran parasitoid, pridator dan serangga penyerbuk tampaknya perkaitan erat dengan tanaman inang utama, inang alternatif, dan bahan organik, semua merupakan satu kesatuan agroekosistem. Satu dengan lainnya terkait dalam rantai atau jejaringa kehidpan/makanan; bila sala satu simpulannya terpus maka keseimbang alam akan terganggu. Oleh karena itu, Sosromarsono dan Untung (2000) menyatakan bahwa ekosistem sangat tepat sebagai dasar PHT. Strategi Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu Teknologi budi daya termasuk PHT jambu mete sebagain besar telah ditemukan dan sebagaian merupakan teknologi tepat guna, namun pegembangannya ditingkat petani tidaklah mudah. Pengendalian hama dirasakan menjadi salah satu input yang memberatkan petani. Apabila teknologi yang diterapkan belum mampu menekan biaya produksi meningkantkan pendapat serta sulit dilaksanakan maka teknologi yang diperlukan adalah yang efektif dalam mengembangkan PHT yang berbasis ekologi adalah; (1) pemanfaatan perekayasan lingkungan pertanian jambu mete (kembali ke prinsip dasar PHT) dan 2 pengkajian skala luas dibeberapa agroekologi sekaligus melanjutkan pembinaan dam pemandu dan petani dalam wada SLPHT karena kegiata pokok SLPHT adal analisis agroekosistem dan pengambialan keputusan. Seluruh peserta sekolah lapangan berpartisipasi aktif dalam pengumpulan data aktual lapangan, pengajin data, dan pengambilan keputusan manajemen lahan kegiatan analiss agroekosistem ini bermanfaat dalam penajaman pandang petani petusan terhadap ekologi lokal serta pemudahan proses pengelolaan sebagai gambaran,teknologi yang murah, mudah dilakukan, dan berada sekitar pertanaman adalah; a. Nomor harapn jambu mete yang toleran terhadap helopeltis spp. (amir et al 2004).b. Serasah yang berupa bahan organik dari ranting yang telah mati dan hasil pangkasan atau gulma hasil penyianga. Hasil penelitian menunjukan sekitar 100 spesies parasitoid dan pridator muncul dari serasah dalam proses dekomposisi (soebandrijo et al 2000). c. Pemberian gulma berdaun lebar karena merupakan inang alternatif bagi helopeltis spp. berbeda pada tanaman kapas, gulam berguna bagi parasitoid dan serangga penyerbuk (kromp dan steinberger 1992).d. Pemangkasan tajuk yang tupang tidih untuk meningkatkan jumlah rediasi matahari yang masuk ke pertanaman karena helopeltis spp. peka terhadap radiasi matahari (kalshoven 1981).e. Peningkatkan populasi semut pridator di pertanaman f. Penggunaan pestisida nabati biji nimba yang tanaman banyak ditemukan disentra jambu mete Sumber :- Abdurachaman Adimihardja dkk, Pengembangan Inovasi Pertanian, 2010, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertania, Bogor