Loading...

STRATEGI PENGENDALIAN PENYAKIT HEWAN MENULAR

STRATEGI PENGENDALIAN PENYAKIT HEWAN MENULAR
Dalam rangka pengembangan ternak sapi,penyakit hewan terutama yang bersifat menular merupakan kendala yang sering dihadapi oleh peternak. Beberapa diantaranya penyakit yang sangat merugikan bahkan dapat mengakibatkan kematian ternak dalam waktu singkat. Beberapa daerah di Indonesia sudah endemis terhadap penyakit hewan menular tertentu misalnya pada daerah tertular anthraks maka pengendalian penyakait harus dilakukan melalui vaksinasi anthraks. Penyakit hewan yang sangat merugikan yaitu anthraks, brucellosis, infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), Septichaemia Epizootica (SE) serta penyakit saluran pencernaan akibat parasit cacing. Untuk mencegah timbulnya permasalahan yang disebabkan penyakit tersebut, maka perlu penerapan strategi pengendalian penyakit hewan menular melalui inovasi teknologi veteriner. Penyakit AnthraksPenyakit anthraks adalah infeksi bakteri yang bersifat akut, bersifat zoonosis disebabkanoleh kuman Bacillus anthracis. Akibat penyakit sangat fatal yaitu kematian baik pada ternak maupun manusia. Di Indonesia kejadian anthraks pada manusia sering dilaporkan di provinsi Jawa Barat, jawa Tengah, NTB, NTT dan DI Yogyakarta. Inovasi teknologi pengendalian penyakit anthraks meliputi vaksin, teknik pendeteksian agen penyakit pada hewan, serta teknik pengukuran tingkat antibody pada hewan pasca vaksinasi. Hewan yang berada di daerah endemik anthraks harus divaksinasi secara rutin. Bila terjadi kematian mendadak pada ternak dengan gejala klinis anthraks, hendaknya menggunakan teknik uji deteksi cepat Direct Fluorescent Antibody (DFA). Uji ini sangat baik dan dapat digunakan secra langsung untuk deteksi kuman anthraks, baik dari sampel yang berupa organ ternak atau dari uji laboratorium dengan nilai sensitivitasnya 100% serta spesifitasnya 93,5%. Penyakit BrucellosisBrucellosis atau sering juga disebut sebagai keluron menular, adalah penyakit reproduksi pada sapi yang disebabkan kuman Brucella abortus. Penyakit ini tersebar luas mengakibatkan abortus pada umur kebuntingan diatas lima bulan. Pada ternak yang telah terinfeksi maka pada kebuntingan berikut tidak terjadi abortus, namun abortus dapat terjadi 2-3 kali pada kebuntingan berikutnya. Akibat brucellosis antara lain: 1) pedet yang dilahirkan lemah, kemudianmati; 2) plsenta tertahan dan terjadi infeksi uterus yng dapat mengakibatkansterilitase; 3) infeksi pada pejantan beruparadang testisyang dapat mengakibatkan sterilitas. Penularan penyakit dapat terjadi melalui kawin lam atau buatan yang semen-nya mengandung kuman brucellosis serta tertelannya/terhirupnya bahan-bahan yang tercemar kuman Brucella abortus. Inovasi teknologi yang dapat dilakukan untuk pengendalian penyakit brucellosis pada sapi adalah dengan teknik pendeteksian agen penyakit pada hewan, vaksin serta pendektesian tingkat antibody pada hewan tertular atau pasca vaksinasi. Ternak yang terinfeksi brucellosis dapat dideteksi dengan melakukan kultur dari sampel abortusan, lender yang keluar dari alat kelamin ternak, atau dari semen pejantan yang kemudian diidentifikasi melalui laboratorium. Ternak yang berada di daerah endemic dengan prevalensi penyakit lebih dari 5% atau beresiko akan tertular penyakit hendaknya divaksinasi secara rutin.Tingkat antibodi pada ternak yang tertular atau pasca vaksinasi dapat dideteksi melalui pemeriksaan kandungan antibody dengan uji Rose Bengal Test (RBT), serta Complement Fixation Test(CFT). Pada daerah yang prevelansi penyakit kurang dari 5%, maka ternak yang positif brucellosis harus dipotong. Dagingnya boleh dikonsumsi setelah mendapat perlakuan khusus. Ternak bibit, serta pejantan unggul sebagai sumber semen harus bebas dari penyakit brucellosis. Septichaemia Epizootica (SE)Penyakit Septichaemia Epizootica (SE) di Indonesia dikenal sebagaipenyakit ngorok,merupakan penyakit pernafasan yang akut dan fatalpada ternak sapi dan kerbau.yang disebabkan oleh Pasturella multocida B:2. Penyakit ini cepat menular melalui pernafasan yang banyak dijumpai pada akhir musim kemarau sampai datang musim hujan. Stress salah satu kondisi mudahnya ternak terkenanya penyakit SE. Inovasi teknologi untuk pengendalian penyakit ngorok dapat dilakukan melaluii vaksin, teknik pendeteksian agen penyakit pada ternak, serta teknik pengukuran tingkat antibody pada ternak yang tertular atau pasca vaksinasi. Ternak didaerah endemik SE harus divaksinasi secara rutin agar ternak kebal dari serangan penyakit SE.Pendeteksian agen penyakit dapat dilakukan dengan memperhatikan gejala klinis, menggunakan teknik polymerase Chain Reaction (PCR) atau dapat pula dilakukan memalui uji Agglutinasi Lateks. Penyakit saluran pencernaan akibat parasit cacingGangguan saluran pencernaan pada ternak yang disebabkan parasit cacing sering dijumpai pada sapi. Penyakit ini biasanya telah berlangsung lama (kronis) yang dapat terlihat dari kondisi ternak yang kurus, warna bulu dan kulit tidak menarik, kadang-kadang diare, bahkan pada kondisi tertentu ternah melemah dan akhirnya mati. Cacing yang menyerang dan merugikan antara lain cacing fasciola, haemonchus, paramphistomum dan toxocara.Teknik pendeteksian agen penyakit akibat cacing dapat dilakukan melalui pemeriksaan adanya telur cacing dalam kotoran ternak, atau melalui pemeriksaan laboratorium . melalui pemeriksaaan laboratorium jenis parasit cacing yang ada pada saluran pencernaan ternak dapat diketahui dan sekaligus dapat menentukan jenis obat cacing yang tepat. Selain pemberian obat cacing, strategi pengendalian penyakit cacing dapat dilakukan melalui teknik pemberian pakan yaitu melalui teknik pemotongan rumput, teknik pemotongan jerami padi sawah, penggembalaan berpindah yang disertai pengelolaan kebersihan dan kesehatan kandangternak. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Rekomendasi Teknologi Peternakan dan Veteriner mendukung Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) tahun 2014, Puslitbang Peternakan, Badan Litbang Pertanian; 2) Dihimpun dari beberapa sumber