Loading...

Strategi PHTT Pada Tanaman Jagung

Strategi PHTT Pada Tanaman Jagung
Serangan hama tikus hampir terjadi sepanjang tahun dan ledakan populasinya sangat cepat. Untuk itu pengendalian sangat penting dilakukan agar tanaman yang diusahakan memperoleh hasil yang optimal. Pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) dapat dilakukan dalam empat tahap yaitu : (1) diasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan, (2) pengendalian diprioritaskan pada waktu sebelum tanam (pengendalian dini), (3) pengendalian dilakukan oleh petani (poktan), terkoordinasi dengan cakupan skala luas, (4) aturan rekomendasi pengelolaan cara pengendalian dengan mempertimbangkan sifat khusus spesies hama.Tikus jmempunyai daya reproduksi yang tinggi dimana hewan pengerat ini dapat melahirkan sepanjang tahun tanpa mengenal musim, beranak banyak dan cepat dewasa. Kemampuan yang sangat cepat ini, karena masa bunting dan menyusui bagi tikus betina sangat singkat. Induk betina mampu kawin lagi dalam waktu hanya 48 jam setelah melahirkan, mampu menyusui dan hamil pada waktu yang sama. Beberapa faktor yang mempengaruhi populasi tikus antara lain adalah faktor lingkungan seperti sumber air, sarang, dan ketersediaan makanan. Tikus sawah pada umumnya juga menyerang pertanaman jagung di lahan sawah yang ditanam setelah tanaman padi.Tikus umumnya menyerang tanaman jagung pada fase generative atau fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang telah masak susu dimakan oleh tikus sehingga tongkol menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur. Bagian yang disukai tikus umumnya pada ujung tongkol sampai bagian pertengahan.Lokasi-lokasi yang paling disukai tikus sebagai tempat bersembunyi atau bersarang diantaranya : Tempat yang jarang dikunjungi manusia, semak belukar, lahan kosong dan tidak terpelihara, lahan pertanian yang kotor oleh gulma, tumpukan sampah, pematang sawah yang kotor, sekitar aliran air irigasi, got/selokan, dam atau waduk irigasi, dan sungai.Strategi PengendalianStrategi yang digunakan dalam pengelolaan hama tikus adalah pengendalian secara terpadu, baik institusi maupun teknik-teknik pengendalian yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Keterpaduan teknik pengendalian adalah penerapan secara terpadu (PHT) berbagai cara pengendalian yang saling menunjang baik sekaligus, berurutan, maupun bertahap agar diperoleh hasil pengendalian yang maksimal, stabil, efektif, efisien serta berwawasan lingkungan. PHT ini harus berdasar pada hasil pemantauan sebelumnya dan terkait juga dengan tingkat pertumbuhan tanaman (padi, jagung, palawija, tebu, dll.) di lapang. Dengan mengetahui pola dan potensi perkembangan tikus di daerah ekosistem pertanian tertentu sejak awal, maka pengendalian secara terapadu dapat dipersiapkan dengan baik. Oleh karena itu pola pemantauan merupakan kunci keberhasilan pengendalian secara terpadu. Adapun teknik pengendalian yang dapat diterapkan antara lain adalah : tanam serempak, secara hayati, sanitasi, mekanis dan kimiawi. • Pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan predator seperti kucing, ular, burung hantu. Penggunaan pathogen sebagai agen pengendali tidak dianjurkan karena berdampak negative bagi manusia. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan pembersihan dan penyempitan pematang atau tanggul agar tidak dijadikan bersembunyi atau bersarangnya tikus. • Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan menggunakan pemagaran dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, perangkap hidup, perangkap berperekat sampai penggunaan bunyi-bunyian dan geropyokan. • Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan beracun baik dalam bentuk ready mix bait atau ready mix dust yang tidak berbahaya bagi mahluk hidup lainnya yang sudah banyak di jumpai di pasaran. Penggunaan emposan menggunakan bahan fumigasi juga cukup efektif menekan populasi hama tikus.Pengendalian Terpadu Untuk Periode MendatangCara terbaik pengendalian hama tikus untuk jangka pendek maupun jangka panjang adalah secara terpadu (PHT) yang berdasarkan pada : a. Hasil pemantauan yang konsekuen dan berkesinambungan;b. Pola tanam dan agrosistem yang ada di suatu kawasan;c. Pola prilaku kehidupan dan biologi tikus;d. Keterpaduan dalam organisasi antar instasi terkait, petani, dan pihak lain;e. Keterpaduan dalam teknik/cara pengendalian yang tepat waktu dan tepat sasaran danf. Berwawasan lingkungan dan sadar biayaRuslia AtmajaSumber : Balitserealia Badan Litbang Pertanian