Loading...

Success Story KWT Rumah Jamur : Ikon Baru Destinasi Wisata Edukasi di Kab. Takalar

Success Story  KWT Rumah Jamur : Ikon Baru Destinasi Wisata Edukasi di Kab. Takalar
Berawal dari keresahan melihat banyaknya limbah serbuk gergaji di sekitar rumah di Kel. Manongkoki, Kec. Polongbangkeng Utara, Kab. Takalar. Nurwahida Tais bersama suami, Syahrir dan anggota kelompok wanitatani yang dibentuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi media budidaya jamur tiram. Limbah serbuk gergaji hanya ditumpuk dan dibakar, sangat mengganggu masyarakat. Pada musim kemarau, debu serbuk gergaji beterbangan dan masuk ke mata. Asap pembakaran serbuk gergaji mengganggu pernafasan. Pada musim hujan, serbuk gergaji yang terkena air hujan, mengotori air tanah. Rumah Jamur terbentuk saat pandemi, setelah 3 tahun vakum, budidaya jamur kembali diaktifkan pada saat pandemi, sekolah diliburkan. Syahrir bersama istri berinisiatif mengaktifkan kembali Rumah Jamur yang pernah dibangun tahun 2016 silam. Rumah Jamur yang berbentuk Kelompok Wanitatani (KWT) mendapat bantuan dana penumbuhan usaha pada tahun 2021 melalui program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) sebesar Rp 20.000.000,- untuk pembelian peralatan dan pendampingan usaha. Pada tahun 2022, kembali akan mendapat stimulus dana pengembangan usaha berupa pembelian bahan dan operasional (perijinan). Hal ini dilakukan untuk mendorong KWT setempat supaya lebih berkembang dan dapat menularkan success storynya kepada KWT atau kelompoktani yang lain. Pengembangan usaha KWT yang menerima bantuan didamping oleh Tim SIMURP Provinsi, Kabupaten dan BPP setempat. Rumah Jamur dahulu sangat berbeda dengan yang sekarang. Pada awal pembentukan, sangat sulit mencari pelanggan, walau hanya 1 kg dan free ongkir. Saat ini berbeda, banyak permintaan yang sulit dipenuhi. Permintaan saat ini mencapai 20 kg/hari, sedangkan produksi hanya mencapai 5-8 kg/hari. Oleh karena itu, keduanya berinisiatif melatih masyarakat sekitar untuk melakukan budidaya jamur di rumah masing-masing. Hal ini dilakukan untuk membantu mengurangi limbah serbuk gergaji sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Sejak terbentuknya KWT ini, sudah empat kumbung yang terbentuk di Kel. Manongkoki. Mereka rata-rata panen 1-2 kg/hari. Rencana ke depan, bagaimana memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat. Karena konsumen di Makassar membutuhkan jamur 20 kg/hari, padahal potensi produksi hanya mencapai 8 kg/hari. Aktivitas di Rumah Jamur saat ini, setiap hari membuat baglog, sterilisasi, inokulasi, memindahkan ke tempat inkubasi, setelah 22 hari baglog sudah berwarna putih dan sudah siap menumbuhkan jamur. Jamur yang dipanen tiap hari dikemas, kemudian dikirim ke Makassar melalui angkot dan pos. Pengiriman dengan angkot lebih murah dan digunakan untuk pengiriman dalam jumlah besar. Pengiriman dalam jumlah kecil dan untuk konsumen perorangan dilakukan melalui Pos. selain itu, sudah dipasarkan pula di minimarket-minimarket yang ada di Kab. Takalar. Awal budidaya jamur tiram, beli bibit F1 dan F2, tapi setelah berlangsung, bibit dibuat sendiri dan dijual Rp 50.000,00/botol untuk F1 dan Rp 15.000,00/botol untuk F2. Bibit F1 yang diperbanyak menjadi bibit F2. Bibit F2 ini yang dibubidayakan dibaglog. Setelah Rumah Jamur terbentuk, ada beberapa ibu-ibu yang membuat usaha jamur geprek dan jamur krispi. Produk ini sangat laku, pesanan langsung dari sekolah-sekolah, bahkan berasal dari luar kabupaten yakni Kab. Gowa. Harapannya, semoga masyarakat dapat melakukan budidaya jamur dan Kab. Takalar dapat menjadi pusat industri mebel dan budidaya jamur, sehingga menjadi ikon baru di Kab. Takalar. Hal ini mendorong perekonomian, tidak hanya di Kel. Manongkoki, tapi di seluruh daerah Kab. Takalar yang memiliki potensi limbah serbuk gergaji dapat juga memanfatkannya untuk melakukan budidaya jamur. Kedepannya, semoga Kab. Takalar dapat menjadi destinasi wisata edukasi bagi masyakakat luar Takalar yang ingin berkunjung. Turut mendorong pengembangan UMKM sehingga membantu perekonomian masyarakat dan membantu pendidikan anak-anak Takalar yang lebih baik. Sumber : TV Takalar Dwi Arnir Wanayenti, SP Penyuluh Pertanian Dinas TPHBUN Prov. Sulsel