Tanaman Kapulaga atau Kardamon tergolong dalam famili Zingiberaceae . Tanaman ini merupakan salah satu komoditi yang mempunyai potensi untuk dikembangkan, mengingat nilai persatuan luas dan persatuan berat relatif tinggi. Jenis kapulaga yang telah dibudidayakan baik untuk ekspor maupun untuk industri obat tradisional adalah kapulaga lokal (Amomum copactum). Jenis ini mempunyai beberapa nama lokal yaitu Kapulogo (Jawa, Aceh, Bugis ), Kapol (Sunda), Palogo (Minangkabau), Palga (Madura), dan Garidimong (Makassar). Dalam perdagangan internasional jenis kapulaga lokal digolongkan "round cardamon " (Java/Siam cardamon). Jenis ini digunakan sebagai bahan korigen, yaitu untuk memperbaiki rasa obat tradisional dan sebagai korminativum yaitu untuk memperbaiki pencernaan dan penghilang kembung. Sedangkan minyak atsirinya digunakan sebagai salah satu komponen minyak angin. Di pasaran dunia minyak atsiri digunakan untuk pengharum minuman, kopi, kue, dan produk makanan lainnya, bahkan digunakan pula untuk campuran parfum. Tanaman kapulaga cocok untuk dikembangkan pada daerah aliran sungai, dan sekaligus sesuai dengan upaya konservasi lahan tanam serta cocok untuk ditanam di bawah naungan. Iklim. Di Pulau Jawa tanaman kapulaga banyak di tanam di daerah Bandung, Garut , dan Cianjur. Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian rata-rata antara 400 – 1400 diatas permukaan laut (dpl), dengan temperatur 20 – 23 derajat celcius dan kelembaban udara antara 81 – 95 %. Angin berpengaruh terhadap pertumbuhan. Angin yang terlalu kencang berpengaruh kurang baik karena itu, tanaman ini menjadi tanaman sela yang terlindung oleh tanaman lainnya. Tanah. Tipe tanah yang dikehendaki tanaman kapulaga, yakni tanah dengan tipe lempung berpasir atau tanah-tanah lempung yang mengandung kerikil kwarsa tetapi banyak mengandung humus. Tanaman ini dapat juga ditanam pada lubang-lubang atau kantong-kantong di dalam tanah, dengan tekstur tanah berpasir halus dan persediaan air yang cukup agar tanah tetap lembab. Jenis tanah podsolik, regosol, latosol dan andosol yang terbaik adalah yang mempunyai tekstur lempung berpasir dengan pH 5,5 – 7,7. Tanaman kapulaga dapat diperbanyak melalui cara vegetatif dan generatif, tetapi pada umumnya para petani cenderung menggunakan cara vegetatif karena lebih mudah dan cepat. Perbanyakan melalui generatif jarang dilakukan karena membutuhkan waktu lebih lama, mahal dan turunan yang dihasilkannya lebih beragam. Benih. Benih kapulaga harus disemai dalam keadaan segar dengan kadar air 30 % - 50 %. Benih kapulaga akan mati bila kadar air menurun hingga di bawah 20 %. Bibit dari persemaian akan di tanam setelah berumur 4 – 6 bulan. Bibit yang digunakan terdiri atas satu stek anakan yang memiliki batang semu berakar dan bertunas satu. Untuk bibi sebaiknya dipilih stek anakan berdaun 2 – 10 helai minimal bertunas satu . Pohon pelindung. Tanaman kapulaga di tanam selalu bersamaan dengan pohon lain, karena tanaman ini memerlukan pohon pelindung. Tanaman yang tidak terlindungi pada musim kemarau akan merana pertumbuhannya dan pucuk daunnya akan terbakar. Diduga tanaman ini tidak tahan terhadap curahan sinar matahari tinggi. Untuk itu diperlukan naungan yang dapat diperoleh dari berbagai macam pohon pelindung. Pohon pelindung yang umum digunakan pada pertanaman kapulaga adalah tanaman kelapa, cengkeh, petai dan tanaman buah-buahan seperti durian, nangka. Agar tanaman kapulaga tumbuh baik yang perlu diperhatikan adalah pengaturan jumlah intensitas sinar matahari yang masuk. Karena itu, diperlukan pemangkasan seperlunya terhadap pohon pelindung, akan tetapi jangan sampai terlalu jarang karena kelebihan sinar matahari akan merusak tanaman kapulaga. Jarak tanam. Jarak tanam yang umum dalam barisan 1 – 2 m dan jarak antar barisan 1,5 m, 2 m, dan 2,5 m bahkan sampai 3 m. Lubang tanam dibuat satu bulan sebelum bibit tanaman. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Setelah dua minggu dari pembuatan lubang, masukkan kembali campuran tanah dan pupuk kandang ke dalam lubang tanam. Pemupukan. Penggunaan pupuk kandang sangat dianjurkan dengan memberikannya sebanyak 2 kg /rumpun setiap 3 – 4 bulan sekali. Sedangkan pupuk buatan seperti urea diberikan sebanyak 100 – 140 kg, TSP sebanyak 75 – 100 kg serta K Cl sebanyak 75 – 100 kg untuk setiap hektar. Pupuk diberikan dengan cara memasukkannya pada lubang yang dibuat melingkar dengan jarak 20 cm dari rumpun kapulaga. Tanaman yang sudah tua dan tidak menghasilkan agar segera dibuang atau dimusnahkanagar tidak jadi sarang hama dan penyakit. Sumardi Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura, 2014