Loading...

Tahapan memadukan Jajar legowo Super dan Mina Padi

Tahapan memadukan Jajar legowo Super dan Mina Padi
Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan inovasi baru yang disebut "Jajar legowo Super". Teknologi ini memberikan keuntungan lebih karena mampu meningkatkan hasil sekitar 4 ton GKG/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi Jajar Legowo biasa. Keuntungan akan lebih tinggi lagi kalau dipadukan dengan mina padiDalam menerapkan perpaduan jajar Legowo Super dan Mina Padi kegiatan yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut: Siapkan benih padi varietas unggul berlabel sesuai anjuran di masing-masing lokasi sesuai kebutuhan. Buat larutan air garam dalam ember untuk perendaman benih padi. Gunakan telur itik sebagai indikator konsentrasi larutan garam; apabila telur itik mengapung dalam larutan tersebut, maka konsentrasi garam telah dianggap cukup / sesuai. Benih dimasukkan ke dalam larutan garam tersebut (kebutuhan benih sekitar 25 kg/ha). Benih diaduk secara perlahan selama 1 - 2 menit. Diamkan selama kurang lebih 10 - 15 menit sampai benih yang baik dan yang jelek terpisah. Benih baik akan tenggelam, sedangkan benih jelek akan terapung. Benih yang mengapung disisihkan dengan menggunakan saringan. Benih tenggelam diambil dan dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan sisa garam yang menempel. Benih yang terpilih kemudian direndam dalam air bersih selama 24 - 48 jam (1 -2 hari). Benih kemudian ditiriskan (diangin-anginkan di tempat teduh yang terlindung) selama 1 - 2 hari sampai berkecambah.Dalam teknologi jajar legowo, dianjurkan menggunakan sistem dapog karena bibit ditanam menggunakan alat tanam mesin jarwo transplanter. Persemaian dengan sistem dapog diawali dengan perendaman dan pemeraman benih padi masing-masing 24 jam kemudian ditiriskan, lalu benih dicampur dengan pupuk hayati dengan takaran 500 gram/25 kg benih, atau setara untuk 1 ha lahan. Benih disebar pada media dalam kotak dapok berukuran 18 cmx56 cm dengan jumlah benih sekitar 100-125 gram/kotak. Dapog juga dapat dibuat secara in situ menggunakan plastik lembaran dengan media tanam yang terdiri atas campuran tanah dan pkebutuhan bibit antara 200-300 dapog untuk setiap hektar lahan. Tanah diolah sempurna dengan menggunakan alsintan hingga berupa lumpur tanah dengan kedalaman minimal 25 cm. Selain itu dilakukan pembersihan lahan dari gulma, pengaturan pengairan, perbaikan struktur tanah, dan peningkatan ketersediaan hara bagi tanaman. Pada tanah yang sudah terolah optimal.5 Tahapan Olah Tanah Basah: a.Lahan sawah digenangi setinggi 2-5 cm di atas permukaan selama 2-3 hari sebelum tanah dibajak; b. Pembajakan tanah pertama sedalam 15-20 cm menggunakan traktor bajak singkal, kemudian tanah diinkubasi selama 3-4 hari; . Perbaikan pematang yang dibuat lebar untuk mencegah terjadinya rembesan air dan pupuk. Sudut petakan dan sekitar pematang dicakul sedalam 20 cm . lahan digenangi selama 2-3 hari dengan kedalaman air 2-5 cm; d. Pembajakan tanah ke 2 bertujuan untuk pelumpuran tanah, pembenaman selama gulma dan aplikasi biodekomposer dan e. Perataan tanah menggunakan garu atau papan yang dilarik tangan, sisa gulma dibuang, tanahdibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang.Olah Tanah Kering menggunakan traktor roda empat yang delengkapi dengan bajak piringan (disk plow) dan garu piringan (disk harrow). Tahapan penyiapan lahan dengan cara kering adalah tanah dibajak 20 cm, kemudian digaru untuk menghancurkan bongkahan tanah dan diratakan pada saat air tersedia. Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 40 – 45 cm dengan kedalaman 25 – 30 cm. Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1×1 m dengan kedalaman 30 cm. Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang saringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu.Sumber pupuk organik dari jerami segar dan pupuk kandang, Pemberian pupuk kandang yang sudah matangvdengan takaran 1-2 ton/ha dilakukan sebelum penggunaan tanah pertama atau bersamaan dengan penolahan tanahb ke dua.Biosekomposer adalah komponen teknologi perombak bahan organik, diaplikasikan 2-4 kg/ha untuk mendekomposisi 2-4 ton jerami segar yang dicampur dengan 400 liter air besih. Setelah itu larutan dekomposer disiramkan secara merata pada tunggul dan jerami pada petakan sawah, kemudian depelebeg dengan traktor, tanah dibiarkan dalam kondisi blembab dan tidak tergenang minimal 7 hari. Biodekompuser M-Dec mampu mempercepat pengomposan jerami dengan aplikasi biodekomposer mempercepat residu organik menjadi bahan organik tanah dan membantu meningkatkan ketersediaan hara NPK di dalam tanah, sehingga meningkatkan efisiensi pemupukan dan meneknperkembangan penyakit tular tanah.Cara tanam jajar legowo 2:1, yang ditanam dengan menggunakan transplanter. Pada jajar legowo 2:1, setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 50 cm, jarak antar barisan 25 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu 12,5 cm. Untuk mengatur jarak tanam digunakan caplak ukuran mata 25 cm. Pada jajar legowo 2:1 dicaplak satu arah saja. Pupuk yang digunakannya adalah pupuk hayati atau pupuk kompos jerami dalam jumlah yang tepat serta pupuk anorganik berimbang guna mempercepat pertumbuhan tanaman. Untuk mendapatkan produksi diatas 10 ton GKG/ha diperlukan pemberian pupuk dengan dosis masing-masing minimal urea 200 kg/ha dan NPK Phonska 300 kg/ha. pupuk Phonska diaplikasikan 100% pada saat tanam dan pupuk urea masing-masing 1/3 pada umur 7-10 HST, 1/3 bagian pada umur 25-25 HST dan 1/3 bagian pada umur 40-45 HST.. Pemupukan ditaburkan secara merata pada keadaan sawah masih melumpur. Urea dan SP-36 tidak dianjurkan untuk dicampurkan pada saat penaburan. Pada pemupukan susulan, air dalam petakan diusahakan dalam keadaan macak-macak sebelum penebaran (ikan berada pada kemalir atau diungsikan terlebih dahulu). Pupuk ditaburkan diantara barisan tanaman atau ditebar secara merata. Benamkan pupuk dengan landak sambil menyiang atau diinjak-injak khusus agar bisa terbenam pada kedalaman lebih dari 3 cm.Pengaturan air macak-macak 3-4 HST. Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti tinggi tanaman.Penebaran benih ikan dilakukan pada sore hari secara perlahan-lahan agar ikan tidak mengalami stres akibat perubahan lingkungan. Ukuran benih yang dianjurkan 5-8 cm dengan kepadatan 5.000 ekor/ha. Dalam penebaran ikan kepadatan dan ukuran benih ikannya disesuaikan dengan tujuan penanaman. Penebaran pertama benih berukuran 1 – 3 cm (fingerking) dengan padat penebaran 3 – 5 ekor/m2 dilakukan setelah tanam padi. Jika benih ikan yang ditebar berukuran kurang dari 5 cm, gunakan panglojo (ikan pembimbing), yang ukurannya lebih besar (50 -75 gram) sebanyak 200-150 ekor/ha. Karena ikan ini dapat membolak balikan lumpur sehingga dapat membantu ikan-ikan kecil mencari makan. Ikan dapat diganti dengan dengan udang galah berukuran 5 – 8 gram/ekor sebanyak 2 ekor/m2. Jadwal tanam ikan pada budidaya minapadi sesuai dengan ukuran ikan dan lama pemeliharaan.Apabila pertumbuhan padi tidak normal (anakan kurang) turunkan permukaan air sampai 5 cm selama 2 – 4 hari guna memberi kesempatan padi untuk bertunas.Pemeliharaan ikan meliputi pemberian pakan tambahan, pengelolaan air dan pengawasan hama. Pakan tambahan berupa dedak halus 250 kg/ha diberikan secara disebar pada caren, pagi/sore hari. atau takaran 4 – 5 % dari berat badan ikan. Lama pemeliharaan ikan 70-75 hari. Untuk pakan udang galah diberikan pakan berupa pellet (protein 30 %) sebanyak 1 % dari berat badan udang/hari dengan frekuensi 3 kali sehari. Lamanya pemeliharaan ikan tergantung pada ukuran benih dan besarnya ikan yang hendak dipanen. Lama pemeliharaan benih dari ukuran kebul sampai ukuran belo 15 – 20 hari, dari belo sampai ngaramo 20 – 30 hari, dan dari ngaramo menjadi ikan konsumsi 40 – 55 hari. Selama masa pemeliharaan kedalaman air di pelataran 10 – 15 cm dan parit 30 – 40 cm.Pengendalian hama penyakit pada padi dilakukan dengan pestisida nabati, sehingga ramah lingkungan. Hindari penggunaaa pestisida kimia karena bisa mematikan ikan. Jenis ikan yang dianjurkan adalah ikan yang berwarna gelap. Untuk mengantisipasi serangan hama padi pada daerah-daerah endemik, dapat digunakan pestisida alami seperti saponim (terdapat dalam biji teh), retenone (terdapat dalam akar tumbuhan) dan nikotine (terdapat dalam daun tembakau) yang diberikan bersamaan dengan pemupukan dasar. Jenis pestisida seperti Boss 250 EC, Dyvon 95 SP dan Fish free juga dapat digunakan pada budidaya minapadi. Penyemprotan dilakukan 1- 2 hari sebelum penebaran benih pada pagi atau sore hari dan air dalam petakan sawah setinggi 30 – 40 cm, penyemprotan ulang dilakukan seminggu sekali selama masa pemeliharaan.Hama ikan terdiri dari ulat, belut, ikan gabus, ikan biawak (sero), burung kuntul, dan kuang-kuang. Untuk mengendalikan hama ulat digunakan bubu perangkap. Penfendalian hama dan penyakit diutamakan dengan tanam serentak, penggunaan varietas tahan, pengendalian hayati biopestisida, fisik dan mekanis, feromon, dan mempertahankan populasi musuh alami.Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST (sebelum pemberian pupuk susulan pertama) dan selanjutnya tergantung keadaan gulma.Panen ikan dilakukan 10 hari sebelum panen padi dengan cara mengeringkan petakan sawah, kemudian ikan ditangkap, kalau panennya untuk dikonsumsi. Beda halnya kalau untuk pembibitan tentunya selama 4 bulan masa penanaman bisa dipanen 2-3 kali. Untuk pemanenan padi tentunya dengan menggunakan alsintan untuk panen atau harvester guna menekan kehilangan hasil. Pemanenan ikan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat suhu udara rendah. Pengeringan petakan pada waktu panen harus dilakukan perlahan – lahan agar ikan dapat mencapai parit. Keluarkan air pada bagian kemalir agar ikan berkumpul pada kemalir tersebut sampai ketinggian air mencapai 3 – 5 cm. Air yang terkumpul ditangkap dan ditampung dalam hapa yang ditempatkan pada air mengalir. Setelah petakan kering, air dapat dialiran kembali agar ikan yang masih tersisa dalam petakan dapat terselamatkan. Setelah masa pemeliharaan selama 90 hari dihasilkan udang ukuran konsumsi (25 – 35 g/ekor) sebanyak 15.000 – 16.000 ekor setara dengan 450 kg.Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber :1. Pustaka Litbang Deptan2. Berbagai Sumber