Loading...

Tanam Padi Serentak

Tanam Padi Serentak
Istilah tanam padi bersama yaitu serempak, serentak, dan berjamaah. Serempak adalah diberi arti bersama-sama atau serentak, berhubungan dengan saat yang sama dan tiba-tiba. Serempak berkaitan dengan serangan serempak, datang serempak, maju serempak. Tanam padi serentak sudah dianjurkan dan dilaksanakan sejak lama dan berjamaah sebagai terobosan dalam pengendalian hama dan penyakit yang dimulai setelah kejadian luar biasa (KLB) serangan wereng batang coklat (WBC) tahun 2009 di jalur pantura. Bertanam padi berjamaah didasarkan pada berpikir normatif, pemecahan masalah produksi padi menghadapi ledakan jumlah penduduk. Hama padi meledak adalah salah satunya akibat adanya waktu tanam padi yang tidak teratur/bersamaan karena petani saling mendahului dan tanaman selalu ada sepanjang tahun, sehingga menyebabkan hama juga selalu ada dan terjadi akumulasi populasi hama pada tanaman padi yang tidak serentak.Ledakan HamaPenyebab ledakan hama diantanya adalah ;• Perubahan iklim diduga telah merubah proses fisiologi tanaman yang berpengaruh terhadap respon hama terhadap tanaman padi• Ketersediaan air yang selalu mengalir pada setiap saat dan harga hasil panen yang menjanjikan sehingga petani menanam padi tidak serempak• Banyak varietas padi yang rentan sebagai pemicu ledakan WBC• Praktek budidaya dengan pemakaian nitrogen yang berlebihan dan pengairan tergenang sepanjang fase pertumbuhan tanaman padi• Penggunaan insektisida tidak akurat• Lemahnya disiplin monitoring menyebabkan pengendalian tidak dilakukan pada saat ambang ekonomi• Perubahan biotipe WBC dan patahnya ketahanan varietas padi• Pengendalian di daerah ledakan kurang berhasil dan resistensi WBC terhadap insektisidaStrategi Budidaya Tanaman Padi SerentakSalah satu kendala peningkatan produksi padi adalah adanya serangan hama, khususnya WBC. Wereng batang coklat merupakan hama global karena bukan kendala di Indonesia saja, tetapi di negara lain seperti Cina, Vietnam, Thailand, India, Pakistan Malaysia, Jepang, dan Korea.Pada tahun 2010 serangan WBC yang diikuti penyakit virus kerdil hama dan virus kerdil rumput mencapai 128.738 ha dan 4.584 ha puso. Sehubungan dengan hal tersebut pengendalian hama padi merupakan prioritas utama, karena kegagalan dalam pengendalian hama tersebut akan berakibat pada menurunnya produksi padi yang sangat besar.Teknologi pengendalian WBC sudah banyak, antara lain penyediaan varietas tahan, penggunaan musuh alami, pengkayaan musuh alami dan insektisida. Namun penerapannya di lapangan banyak yang tidak berhasil, disebabkan diantaranya petani melupakan sosial kemasyarakatan, yaitu tidak adanya modal dasar kesepakatan waktu tanam. Pengendalian hama tidak dapat dilakukan orang per-orang, atau oleh satu lembaga, tetapi harus berdasar segitiga strategi (SOP, kebijakan pemerintah dan masyarakat) yang dikemas dalam program aksi budidaya tanaman padi berjamaah diawali dengan pasca ledakan. Teknik pengendalian WBC terbaru yang harus diterapkan yaitu dengan tanaman padi berjamaah berlandaskan segitiga strategi pengendalian, yaitu teknologi, sosial, dan kebijakan pemerintah.Strategi TeknologiMasyarakat tani sebagai pengguna teknologi adalah penggerak utama. Banyak teknologi yang sudah dihasilkan untuk pengendalian hama, seperti varietas IR64 dan varietas Inpari 13 yang tahan WBC dan toleran serangan virus kerdil. Strategi teknologi telah dituangkan dalam SOP pengendalian WBC. SOP tersebut antara lain menyakut pemakaian varietas tahan, tanam serempak, pupuk organik, tanam legowo, pengayaan musuh alami, lampu perangkap dan pola tanam.Strategi SosialDitinjau dari segi pengendalian hama saat ini kinerja petani kurang baik, karena bergerak sendiri-sendiri yang menyebabkan umur tanaman tidak seragam yang mengakibatkan inokulum dan siklus hidup hama dan penyakit selalu ada. Dalam strategi sosial perlu dilaksanakan dan dikembangkan pengayaan pengetahuan dan pemberdayaan petani, singkronisasi, koordinasi, dan sinergisme antar stakeholder yang berkelanjutan.Menyikapi hal tersebut diatas dibutuhkan tanggung jawab dari semua pihak baik petani, pemerintah/petugas dalam membimbing petani tanam padi serentak, dan penghasil sarana produksi. Tiga komponen utama dalam hal modal sosial adalah (1) kepercayaan (trust) antar komponen/anggota masyarakat yang memudahkan proses komunikasi dan pengelolaan suatu persoalan, (2) jejaring organisasi kelompok atau jejaring individu berupa ikatan atau pertemanan untuk mendukung gerak aksi kolektivitas menjadi semakin sinergi, dan (3) norma-norma dan sistem nilai yang biasanya berciri lokal yang mengawal serta menjaga proses pembangunan. Ruslia AtmajaSumber : Puslibangtan-Badanlitbang Pertanian