Program swasembada beras yang di canangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui kementerian Pertanian Republik Indonesia dimana Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045 perlu dukungan dan kerjasama oleh semua pihak agar dapat dicapai. Di Provinsi Lampung kebutuhan beras meningkat dari tahun ke tahun dengan konsumsi beras 90,3 Kg per kapita per tahun, sedangkan alih fungsi lahan sawah di Lampung mencapai 1-3% per tahun. Untuk itu perlu dilakukan inovasi teknologi budidaya tanaman padi sawah dalam rangka mensukseskan program swasembada beras tersebut. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung membuat inovasi teknologi yang memadukan antara jejer legowo dengan jejer Tegel yang dikenal dengan sIstem tanam padi sawah Jejer Manten atau disingkat Sitem “JERMAN”. Adapun keuntungan tanam padi dengan sitem tanam jejer manten ini yaitu: Mendapatkan efek tanaman pinggir (border effect) Mudah dalam penanaman Mudah dalam penyiangan dengan alat gosrok Penambahan populasi tanaman lebih banyak dibanding dengan sistem tanam Tegel yaitu jumlah populasi tanaman per hektar pada sistem jejer manten jarak tanam (30 cm x 5 cm) x 30 cm sebanyak 211.000 rumpun tanaman, sedangkan dengan system Tegel jarak tanam 25 cm x 25 cm populasi tanaman hanya sebanyak 160.000 rumpun tanaman. Produksi atau hasil tanaman padi lebih banyak dibandingkan dengan system tanam tegel dan jejer legowo. Menurut peneliti BPTP Lampung bapak Robert kelebihan utama system tanam Jejer Manten dibandingkan system Tegel dan Jejer Legowo yaitu populasi tanaman pada Jejer Manten Lebih Optimal dibandingkan dengan Jejer Tegel, selain itu sinar matahari juga lebih sempurna dibandingkan dengan Jejer Legowo. Prinsip Budidaya tanam padi dengan Jejer Manten atau JERMAN hampir sama dengan Jejer Logowo, hanya sistem tanamnya saja yang berbeda. Adapun Sitem Tanam padi Jejer Manten Yaitu: Penyemaian benih padi sama seperti dengan cara jejer legowo yaitu menggunakan plastic atau daun pisang dengan tebal tanah 2-3 cm. Umur bibit 14-17 HSS dengan tinggi 10-15 cm atau memiliki 2-3 helai daun. Pemberian 2 liter Bio Dekomposer “Be Ka” (Dosis 2 Liter dilarutkan secara merata dengan 400 liter air bersih) disemprotkan atau disiram merata pada bekas tunggul jerami dan permukaan tanah setelah pengolahan tanah pertama. Pemberian 1 ton pupuk organik atau petroganik per Hektar dilakukan pada saat pengolahan lahan kedua. Penanaman padi dengan system jejer manten yaitu menggunakan 2 (dua) buah caplak dengan ukuran yang berbeda. Caplak yang pertama digunakan untuk menggaris yang searah matahari terbit dengan ukuran caplak (30 cm x 5 cm) x 30 cm, sedangkan untuk caplak yang kedua untuk memotong garis sama seperti system tegel ukuran 30 cm x 30 cm. Tanam bibit padi 2-3 per rumpun tanaman. Pemberian 30 Kg pupuk hayati kaya bio yang diberikan paling lambat 7 HST dengan cara disiramkan pada lahan. Pemupukan kimia dengan pupuk Urea dan NPK Phonska mengikuti anjuran setempat (misal 200 Kg Urea ditambah 300 Kg NPK Phonska Per Hektar). Penyiangan dilakukan dengan menggunakan gosrok. Pemanenan dilakukan sesuai dengan kondisi umur masing-masing varietas padi yang digunakan. Salah satu Kabupaten penghasil beras yang ada di Provinsi Lampung yaitu Kabupaten Tanggamus. Kabupaten Tanggamus yang dikenal dengan kualitas berasnya yang sangat baik dimana masyarakat mengenal dengan kualitas beras Talangpadang yang diakui oleh masyarakat Lampung merupakan beras yang memiliki mutu yang sangat baik sejak jaman dahulu. Untuk mendukung program pemerintah pusat melalui program upaya khusus (UPSUS) padi,dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai lumbung beras di Tahun 2045, Kabupaten Tanggamus menyambut baik salah satu inovasi tanam padi dengan system Jejer manten yang dapat meningkatkan produksi dan produktivitas padi ini. Di Kabupaten Tanggamus mulai di lakukan uji coba atau percontohan oleh para petani pada musim tanam (MT) Periode April-September Tahun 2019 di 26 lokasi. Adapun ke 26 lokasi percontohan system tanam jejer manten di Kabupaten Tanggamus tersebar di 7 Kecamatan antara lain Kecamatan Pulau Panggung dilaksanakan di 5 desa atau pekon yang melakukan percontohan yaitu Pekon Talang Beringin, Pekon Pulau Panggung, Pekon Gunung Megang, Pekon Kemuning dan Pekon Gunung Meraksa. Di Kecamatan Gunung Alip dilakukan percontohan sitem tanam jejer manten di 5 Pekon yaitu Pekon Kedaloman, Pekon Sukamernah, Pekon Ciherang, Pekon Sukaraja dan Pekon Banjar Negeri. Untuk di Kecamatan Limau dilaksanakan di 5 pekon yaitu Pekon Pariaman, Pekon Padang Ratu, Pekon Ampai, Pekon Tegineneng dan Pekon Badak. Di kecamatan Kota Agung Barat dilaksanakan di Pekon Kandang Besi, Pekon Payung, Pekon Kanyangan dan Pekon Banjarmasin. Di Kecamatan Bulok pelaksanaan percontohan jejer manten di 2 pekon yaitu pekon Suka agung dan Banjar Masin, di Kecamatan Wonosobo di 2 pekon yaitu Pekon Banjarsari dan Pekon Kalirejo Serta di Kecamatan Ulu Belu dilaksanakan di 2 Pekon yaitu Pekon Karang Rejo dan Pekon Air Abang. (Penulis: ERIYANTO MZ,SP; Penyuluh Pertanian Madya Kabupaten Tanggamus).