Loading...

Teknik Budidaya Ubikayu

Teknik Budidaya Ubikayu
Tanaman Ubi Kayu (Manihot Esculenta Crantz) adalah salah satu tumbuhan yang cukup mudah untuk dibudidayakan dan mempunyai banyak manfaat. Selain bagianumbi batangnya, pada bagian daun juga dapat digunakan untuk dimakan sebagai lauk pauk. Selain itu, banyak juga yang menggunakan tumbuhan ubi kayu ini sebagai bahan konsumsi pengganti makanan pokok karena dilihat bahwa tumbuhan ubi kayu ini banyak mengandung karbohidrat. Banyak mempergunakan ubi kayu sebagai bahan dasar olahan makanan seperti makanan tiwul, getuk, atau juga bolu singkong. Dalam bidang industri dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tepung tapioka. Walaupun ubi kayu termasuk salah satu tanaman yang mudah di tanam, namun kita harus melakukan teknik yang benar dalam budidaya agar mendapatkan hasil yang optimal. Karena begitu banyak bagian dari ubi kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Inilah mengapa banyak yang tertarik dalam membudidayakan ubi kayu serba guna tersebut. Persiapan Lahan Tujuan utama adalah memperbaiki struktur tanah dan mengurangi gulma. Anjuran pengolahan tanah adalah membajak sekali kemudian dirotari/digaru dan digulud. Pengolahan tanah dapat dilakukan pada saat musim kemarau, atau awal musim hujan saat kandungan air tanah sekitar 75% dari kapasitas lapang. Guludan pada lahan yang miring dibuat tegak lurus kontur untuk mengurangi kehilangan tanah akibat erosi. Guludan pada lahan yang datar hingga agak miring dapat dibuat searah maupun tegak lurus kontur. Kehilangan tanah akibat erosi pada budi daya ubi kayu mencapai 50 t/ha pada Ultisol Lampung (Wargiono et al. 1996), 3,1–7,1 t/ha pada Alfisol Jawa Timur (Pramudita et al. 2014). Erosi tanah dalam satu tahun musim tanam ubi kayu monokultur dua kali lebih banyak dibandingkan pola tanam padi-kedelai maupun jagung-jagung. Pakaialah lahan yang memiliki struktur tata udara yang lebih baik, remah dan memiliki banyak unsur hara. Jenis tanah yang cocok untuk menanam ubi kayu adalah andosol, mediteran, aluvial latosol, grumusol dan podsolik merah kuning. pH tanah yang cocok untuk penanaman adalah 4,5 hingga 8. pH idealnya dalah 5,8. Apabila pH tanah belum mendekati netral yaitu 5,8 boleh dilakukan pengapuran (dolomit) untuk menstabilkan dan menaikan pH dari lahan yang akan diolah sebagai tempat penanaman dari ubi kayu tersebut. proses pengapuran sebaiknya dilakukan pada saat pembendengan kasar maupun saat pembajakan lahan. Alternatif lain adalah setelah selesai digulud, dibuat coklakan (lubang tanam kecil sebesar cangkul) sesuai jarak tanam yang akan digunakan, kemudian diisi media tanam campuran kompos, fungisida hayati pengendali patogen Jamur Akar Putih (misalnya Greemi-G), dan pembenah tanah hayati (misalnya BioStab). Selanjutnya dilakukan aplikasi pembenah tanah organik Humakos pada lubang tanam tersebut. Bahan Tanam Ubi kayu diperbanyak secara vegetatif dengan stek batang. Perbanyakan dengan biji hanya dilakukan untuk kegiatan pemuliaan tanaman. Kualitas batang, panjang dan diameter stek sangat menentukan daya tumbuh stek. Stek batang yang baik diperoleh dari tanaman yang berumur 8–12 bulan, dari bagian pangkal hingga tengah batang. Ukuran panjang stek 20–25 cm (10–12 mata tunas), dan diameter stek 2–3 cm. Stek yang berasal dari bagian pucuk mempunyai daya bertunas lebih rendah, kandungan air lebih tinggi dan cepat mengering (Gambar 1). Stek dari batang bagian pangkal dan tengah yang berumur 16–24 bulan kurang baik karena lambat bertunas. Batang yang terserang kepinding tepung (mealybug) atau kutu sisik, terserang penyakit hawar bakteri (bacterial blight), jamur antraknose ataupun terkena gangguan fisiologis sebaiknya tidak dipilih sebagai bahan tanam. Petani umumnya mendapatkan stek dari pertanaman sebelumnya dan menyimpannya di tempat yang teduh, atau dari petani lain yang berdekatan. Setelah dipotong, stek dapat disimpan paling lama 1 bulan dalam kondisi tegak dan ternaungi, jika disimpan lebih dari 60 hari akan menurunkan daya bertunas Saat Tanam Agar pertumbuhan ubi kayu bisa tumbuh subur dan maksimal, maka harus menentukan lokasi dan iklim terlebih dahulu. Hal ini penting dalam menanam ubi kayu adalah adanya iklim yang menunjang pertumbuhannya, dengan adanya intensitas curah hujan yang baik. Suhu minimal untuk pertumbuhan ubi kayu adalah 10 derajat C. Ubi kayu akan sedikit terhambat jika suhu di bawah 10 oC. Ubi kayu banyak ditanam pada lahan kering, sehingga saat tanam tergantung pola curah hujan. Umur 5–6 bulan adalah periode pertumbuhan cepat sehingga ketersediaan air selama periode tersebut sangat menentukan pertumbuhan dan produktivitasnya. Oleh karena itu, saat tanam perlu mempertimbangkan kecukupan air dalam periode pertumbuhan. Hasil ubi kayu optimal bila curah hujan setidaknya 35 mm/10 hari dan terdistribusi rata selama masa pertumbuhan tanaman. Kekurangan air menjelang akhir periode pertumbuhan sangat menguntungkan karena terjadi proses akumulasi karbohidrat ke dalam umbi yang lebih baik, sebaliknya bila air berlebih maka pertumbuhan vegetatif ubi kayu subur tetapi hasil umbi berkurang. Pada kelembaban tanah tinggi, umbi ubi kayu rawan busuk. Hujan yang terjadi saat tanaman berumur >9 bulan dapat menurunkan kandungan pati (CIAT 1998). Daftar Pustaka: - Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi 2016. Pedoman Budi Daya Ubi Kayu di Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Jakarta. -https://ilmubudidaya.com/cara-menanam-ubi-kayu (Wellyana)