Loading...

Teknik Pembuatan Silase

Teknik Pembuatan Silase
Persoalan pakan menjadi salah satu tantangan yang semakin besar bagi kalangan peternak, terutama ternak sapi belakangan ini. Masalah pakan ini sangat dirasakan peternak terutama di musim kemarau, di mana banyak peternak berebut sumber olahan, terutama dari bahan sisa tanaman jagung, rumput-rumputan, jerami padi, dll. Sedangkan di musim hujan hijauan melebihi kebutuhan dan melimpah, jika dibiarkan di udara terbuka akan terjadi penurunan nilai gizi yang disebabkan mikroorganisme aerob. Oleh karena itu, hijauan perlu diawetkan dengan pembuatan silase. Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau Prinsip dasar pembuatan silase memacu terjadinya kondisi anaerob dan asam dalam waktu singkat. Ada 3 hal paling penting agar diperoleh kondisi tersebut yaitu menghilangkan udara dengan cepat, menghasilkan asam laktat yang membantu menurunkan pH, mencegah masuknya oksigen kedalam silo dan menghambat pertumbuhan jamur selama penyimpanan. Fermentasi silase dimulai saat oksigen telah habis digunakan oleh sel tanaman. Bakteri menggunakan karbohidrat mudah larut untuk menghasilkan asam laktat dalam menurunkan pH silase. Tanaman di lapangan mempunyai pH yang bervariasi antara 5 dan 6, setelah difermenatsi turun menjadi 3.6- 4.5. Penurunan pH yang cepat membatasi pemecahan protein dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme anaerob merugikan seperti enterobacteria dan clostridia. Produksi asam laktat yang berlanjut akan menurunkan pH yang dapat menghambat pertumbuhan semua bakteri. Tujuan dari pembuatan silase dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pakan, menghilangkan bakteri pathogen dan meningkatkan bakteri yang menguntungkan, pengawetan pakan yang berlimpah, penghematan biaya tenaga kerja, ketersediaan pakan dalam kuantitas dan kualitas yang cukup. Adapun alat yang dibutuhkan dalam pembuatan silase yaitu chopper atau sabit, plastik dan sekop. Sedangkan bahan yang dijadikan silase biasanya berupa hijauan makanan ternak (rumput dan legum). Seperti jagung, rumput-rumputan, jerami padi dan hasil tanaman pertanian lainnya. Silase dapat dibuat dari satu macam atau campuran beberapa hijauan makanan ternak. Bisa juga ditambahkan konsentrat yang berupa bekatul, gamblong, ampas tahu, dll. Untuk dosis per 100 kg hijauan dibutuhkan tetes 5 kg, dedak padi 10 kg dan air secukupnya Langkah-langkah pembuatan silase adalah : Pelayuan Hijauan yang masih segar dilayukan dahulu selama 2 hari hingga kandungan bahan kering 40% - 50%. Untuk hijauan yang sudah layu bisa langsung di potong. Pemotongan Hijauan dipotong-potong dahulu, dengan ukuran pemotongan 3-5 cm. Pencampuran Hijauan dicampur dengan bahan lain (bahan konsentrat dan bahan aditif) dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan). Pencampuran dilakukan dengan cara menghamparkan hijauan kira kira setinggi 20 cm lalu ditaburkan dedak padi di atas hamparan hijauan dan yang terakhir penyiraman tetes yang dilakukan secara merata. Setelah itu dimasukkan kedalam drum. Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak) lalu ditutup rapat dan tidak boleh adanya lubang. Proses silase berlangsung selama 21 sampai 30 hari. Apabila berjalan dengan baik silase yang sudah jadi ditandai dengan tidak adanya jamur dan baunya wangi, silase tidak menggumpal dan berwarna kehijauan. Apabila mau mengambil silase untuk diberikan ternak maka proses pengambilan harus secepat mungkin agar oksigen tidak banyak yang masuk dan ditutup kembali secara rapat. Referensi : suparjo.staff.unja.ac.id/prinsip-dasar-pembuatan-silase/ Penulis : Verra Nefadha, S.Pt No. Test : 35001463 WKPP : Desa Tanggulturus, Desa Sedayugunung, Desa Keboireng Kecamatan Besuki