Loading...

TEKNIK PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) TANAMAN JERUK

TEKNIK PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) TANAMAN JERUK
Jeruk (Citrus) merupakan komoditas buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi penting dan nilai kesehatan yang berarti karena mengandung nilai gizi yang tinggi (Vitamin C dan vitamin A). Buah jeruk dapat dikonsumsi langsung sebagai buah segar atau juice dan dapat pula diolah menjadi sirup. Buah jeruk merupakan sumber vitamin C yang berguna untuk kesehatan manusia. Kandungan vitamin C sangat beragam antar varietas, berkisar antara 27-49 mg/100 g daging buah. Makin tua buah jeruk, biasanya makin berkurang kandungn vitamin C-nya, tetapi semakin manis rasanya. Belakangan ini sebagian besar kebun jeruk diserang berbagai jenis hama dan penyakit sehingga mengakibatkan produktivitas dan produksi dari tanaman jeruk tersebut menurun. Serangan hama yang mengakibatkan ribuan ton buah jeruk busuk dan gugur ke tanah, sehingga membuat para petani mengalami kerugian yang cukup besar. Untuk lebih meminimalisasi gagal panen yang disebabkan hama penyakit bisa ditindaklanjuti dengan cara perlakuan mekanis, biologis ataupun kimiawi. Sehingga mendapatkan panen yang maksimal. Beberapa teknik pengendalian OPT yang dapat dilakukan antara lain: Pengendalian secara Kultur Teknik(Preventif) Pengendalian tersebut merupakan pengendalian yang bersifat preventif, dilakukan sebelum serangan hama terjadi dengan tujuan agar populasi OPT tidak meningkat sampai melebihi ambang kendalinya. Beberapa contoh dari pengendalian OPT secara kultur teknis: Menggunakan varietas domestik yang tahan Karakteristik dari varietas domestik adalah memiliki ketahanan yang lebih baik karena cocok terhadap lingkungannya Rotasi Tanaman Pergiliran atau rotasi tanaman yang baik adalah bila jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya, dan jenis tanaman tersebut bukan merupakan inang hama yang menyerang tanaman yang ditanam pada musim sebelumnya. . Rotasi tanaman paling efektif untuk mengendalikan hama yang memiliki kisaran makanan sempit dan kemampuan migrasi terbatas terutama pada fase yang aktif makan Menghilangkan tanaman yang rusakTanaman yang terkena serangan hama maupun patogen sebaiknya dibersihkan dari kawasan budidaya. Pengolahan Tanah Pengerjaan tanah dapat dimanfaatkan untuk pengendalian instar hama yang berada dalam tanah. Tumpang Sari dan variasi penanamn serta pemanenan Tumpang sari dapat mengendalikan OPT akibat keberadaan tanaman yang bukan inangnya. Sedangkan variasi waktu panen akan memutuskan siklus hidup hama, misalnya panen dilakukan secara bertahap dari satu lajur atau setrip ke lajur yang lain pada hari berikutnya. Pemangkasan dan Penjarangan Kegiatan pemangkasan terkait dengan kebersihan tanaman, sedangkan penjarangan terkait dengan jarak tanam optimum suatu tanaman. Pemangkasan pada beberapa tanaman terutama bagian yang terkena infeksi sehingga tidak menyebar ke bagian tanaman yang lain.Penjarangan tanaman dapat meningkatkan produktifitas. Jarak tanam dapat pula mempengaruhi populasi hama. Pemupukan Tindakan pemupukan juga dapat mempengaruhi keberadaan OPT. Beberapa pengaruh pemupukan terhadap serangan OPT antara lain optimalisasi pemupukan N dapat mengurangi serangan OPT karena pemupukan N yang berlebihan akan menjadikan tanaman sukulen dan mudah terserang OPT. Pemberian pupuk mikro dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT. Pengendalian Secara Hayati (Biological Methods) Merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untuk menurunkan atau mengendalikan populasi hama Peningkatan populasi inang akan ditanggapi secara numerik dengan meningkatkan jumlah predator dan respon fungsional dengan meningkatkan daya makan per musuh alami. Beberapa tindakan antara lain: Pengendalian hayati dengan parasitoid dan predator, misalnya: 1) mengendalikan hama tikus dengan memelihara burung hantu disekitar areal tanaman, 2) Dengan menggunakan mikroorganisme antagonis seperti Tricodherma sp. Introduksi, perbanyakan dan penyebaran musuh alami misalnya: 1) Introduksi kumbang vedalia (Rodolia cardinalis) dari Australia ke California untuk mengendalikan hama kutu perisai (Icerya purchasi) yang menyerang jeruk, 2) Introduksi parasitoid Tetrasitichus brontisapae dari Jawa ke Sulawesi dapat berhasil menekan populasi hama kelapa Brontispa longissima Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik Mengendalikan dengan menggunakan tindakan-tindakan antara lain: mematikan hama, mengganggu aktivitas fisiologis hama yang normal dengan cara non-pestisida, mengubah lingkungan sedemikian rupa sehingga lingkungan menjadi kurang sesuai bagi kehidupan OPT. Beberapa tindakan tersebut yaitu: Penghancuran dengan Tangan Cara ini dilakukan dengan mencari adanya hama dan selanjutnya dilakukan pemusnahan. Fase hidup hama yang dikumpulkan dan dibunuh adalah yang mudah dtemukan seperti telur dan larva. Menutup dengan Jaring atau Paranet Dapat dilakukan untuk mencegah masuknya atau mengganggunya ngengat yang akan berkembang biak pada tanaman. Perangkap Menggunakan alat perangkap yang disesuaikan berdasarkan jenis hama dan fase hama yang akan ditangkap, misalnya; 1) Kepiting mati yang diletakan di sekeliling pertanaman padi sambil menekan populasi walang sangit. Bau busk yang ditimbulkan kepiting mati dapat menjadi penarik bagi walang sangit. Dan apa bila sudah terkumpul, walang sangit dapat segera dimusnahkan, 2) Gadung atau jagung dapat dijadikan umpan untuk mengendalikan tikus. Tikus juga dapat diperangkap dengan perangkap yang terbuat dari besi maupun bambu. Perlakuan Panas Faktor suhu dapat mempengaruhi penyebaran, frekuenditas, kecepatan perkembangan, lama hidup dan mortalitas hama. Setiap perubahan faktor fisik mempengaruhi berbagai parameter kehidupan tersebut, misalnya: 1) Mengendalikan hama uret dengan membalikan tanah. Telur yang terdapat didalam tanah akan terangkat ke permukaan dan akan terkena sinar matahari secara terus menerus yang menyebabkan temperatur dan kelembaban berbeda dengan keadaan semula. Hal ini mengakibatkan telur tidak menetas, 2) Pengendalian hama gudang dapat dilakukan dengan memanaskan gudang dengan pemanas pada kisaran suhu tertentu. Penggunaan Lampu Perangkap Dipengaruhi oleh adanya daya tarik serangga terhadap cahaya lampu fungsi utamalampu ini hanya menarik perhatian serangga yang selanjutnya ketika sudah terkumpul dapat dikendalikan dengan ditangkap, misalnya: 1) Pengendalian wereng hijau, 2) Lampu petromaks dapat dijadikan perangkap penggerak batang padi putih Suara Penggunaan gelombang suara. Secara teoritik ada tiga metode pengendalian menggunakan suara, yaitu: 1)Penggunaan intensitas suara yang sangat tinggi sehingga dapat merusak serangga, 2)Penggunaan suara lemah guna mengusir serangga, 3) Merekam dan memperdengarkan suara yang diproduksikan serangga guna mengganggu parilaku serangga sasaran, misalnya penggunaan gelombang elektromagnetik untuk mengurangi populasi hama burung yang menyerang tanaman bebijian Pengendalian Secara Kimiawi Pengendalian dengan cara ini merupakan pengendalian yang biasanya dilakukan sebagai alternatif terakhir. Karena kebanyakan masing menggunakan bahan kimia sintetik yang membahayakan. Akan tetapi padadasarnya penggunaan bahan kimia untuk pengendalian OPT tidak serta merta membasmi keseluruhan OPT dengan membunuhnya. Bahan kimia yang banyak dikenal untuk melakukan pemberantasan hama adalah pestisida. Di bidang pertanian penggunaan pestisida mampu menekan kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit yang memungkinkan peningkatan produksi pertanian dapat dicapai. Jenis-jenis pestisida antara lain: 1) Herbisida untuk pengendalian gulma; 2) Moluskisida untuk pengendalian molusca (keong); 3) Nematisida untuk pengendalian nematoda; 4) Bakterisida untuk pengendalian bakteri; 5) Fungisida untuk pengendalian cendawan; 6) Rodentisida untuk pengendalian tikus; 7) Akarisida untuk pengendalian tungau; dan Insektisida untuk pengendalian serangga Bahan-bahan kimia lain yang juga digunakan dalam pengendalian hama: 1) Atraktan yang merupakan senyawa yang berfungsi menarik serangga pada lokasi yang mengandung zat tersebut, 2) Repelen yang merupakan senyawa penolak hama atau pengusir hama dari objek yang mempunyai senyawa tersebut, 3) Sterilan yang merupakan senyawa yang digunakanuntuk mensterilkan suatu ruang dari organisme misalkan sterilan tanah artinya mensterilkan tanah dari keberadaan organism, 4) Growth Inhibitor yang merupakan senyawa yang difungsikan untuk menghambat pertumbuhan serangga. Dalam istilah lain disebutkan dengan IGR yaitu Insect Growth regulator, merupakan senyawa yang dapat merubah atau mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan serangga. Susi Deliana Siregar Daftar Pustaka : Prof. Ir. Loekas Soesanto, MS, PhD, Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman, 2017