Sebagian besar masyarakat perdesaan mengandalkan hidupnya di sektor pertanian. Sektor pertanian dinilai tangguh ketika dihadapkan pada krisis moneter dibanding sektor lain. Demikian halnya dengan kondisi saat terjadi pandemi Covid-19, walaupun sektor pertanian terdampak, namun masih tergolong tangguh. Hal ini ditengarai dari sektor pertanian yang masih menunjukkan geliat ekonomi yang tumbuh positif, di tengah terpaan pandemi. Kondisi tersebut dimungkinkan karena sektor pertanian terbilang padat karya, mampu menyerap banyak tenaga kerja, sekaligus memberi dampak langsung terhadap masyarakat. Saat pandemi, penyediaan pangan masih jadi program utama Kementerian Pertanian yang tentunya dilakukan dengan memprioritaskan protokol kesehatan Selama pandemi Covid-19, pelaksanaan kegiatan sosialisasi telah berubah, dan sebagian besar metode pendampingan telah berubah dari menggunakan komunikasi antarpribadi (tatap muka) menjadi melalui media (SMS, WhatsApp, telepon, zoom, dan live streaming YouTube) atau media elektronik (penyiaran, TV) untuk berkomunikasi, dan media video untuk para petani yang tidak memiliki ponsel atau akses internet. Frekuensi kegiatan penyuluhan juga berkurang. Penyuluh membantu petani agar memiliki kemampuan daya saring (cerdas: akses Informasi/inovasi luas, terbuka terhadap perubahan/perbaikan) masa kini, daya saing (berkarya secara: efektif, efisien dan berkualitas) daya adaptasi yang proaktif sehingga siap dan mampu beradaptasi terhadap perubahan selama masa pandemi Covid-19. Modal sosial dalam masyarakat mempunyai peran dalam pencegahan penyebaran Covid-19, yaitu dengan menjaga jarak sosial (social distancing) yang sudah disosialisasikan penyuluh. Kemampuan interaksi dan jaringan sosial yang dimiliki penyuluh pertanian dapat dimanfaatkan untuk membantu petani memperoleh akses kesehatan dan akses pemasaran produk pertanian. Kepercayaan terhadap kearifan lokal bagi masyarakat di daerah terpencil dalam mitigasi terhadap pandemi Covid-19 menjadi solusi terbaik Sumber informasi yang diperoleh penyuluh pada masa pandemi dari webinar dengan berbagai tema dan pelatihan offline berkurang hingga 80% dengan narasumber dari berbagai institusi. Sumber informasi petani sebagian besar tidak mengalami perubahan, baik sebelum maupun setelah pandemi Covid-19, diperoleh dari teman/ saudara/tetangga, sedangkan dari penyuluh swasta tidak didapatkan secara perorangan. Akses penyuluh terhadap informasi selama masa pandemi Covid-19 relatif lebih mudah, penggunaan media online tidak mengenal ruang dan waktu. Akses petani terhadap informasi selama pandemi relatif tidak mudah sebagai konsekuensi adanya pembatasan social Penulis : Amiruddin, SP., M.Agr. Verif. : -