Loading...

TeknikPengelolaanAlang-alang

TeknikPengelolaanAlang-alang
Teknologi yang direkomendasikan untuk pengendalian alang-alang dapat dikelompokkan kedalam cara-cara perebahan, mekanis, kultur teknis, kimiawi, dan biologi.1. Dengan Cara PerebahanPengelolaan alang alang dengan cara perebahan ini cocok diterapkan pada pertanaman perkebunan. Cara ini lebih efektif dibandingkan dengan penebasan dan pembakaran karena: 1) Daun dan batang yang direbahkan akan mati tanpa merangsang pertumbuhan tunas pada rimpang sebagaimana terjadi pada cara-cara penebasan dan pembakaran; 2) Alang-alang yang telah rebah berfungsi sebagai mulsa sehingga dapat menghambat pertumbuhan kembali gulma tersebut dan gulma lain.Perebahan sebaiknya dilakukan waktu gulma telah tumbuh dan berkembang secara penuh, sebab alang alang yang masih muda dan tumbuh secara individu tidak dapat rebah secara sempurna, dan cenderung tegak kembali setelah direbahkan. Sebelum perabahan, gulma selain alang-alang seperti jenis semak berkayu harus ditebas atau dicabut terlebih dahulu agar perebahan dapat dikerjakan secara lebih mudah. Perebahan alang-alang dilakukan setiap 3-4 bulan pada tanaman karet dewasa yang tajuknya mulai menutup dan setiap 1-2 bulan pada pertanaman muda yang tajuknya masih terbuka. Perebahan dapat dilakukan dengan menggunakan papan, potongan kayu dan drum. 2. Cara MekanisPengendian secara mekanis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah dan penebasan alang-alang. Cara pengolahan tanah dilakukan sewaktu pertumbuhan alang-alang masih cukup rendah. Apabila tingginya sudah mencapai 75 cm, atau lebih sebaiknya alang-alang tersebut ditebas dan dibakar terlebih dahulu. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara manual menggunakan cangkul atau bajak pada musim kering. Pembajakan dan pencangkulan akan memotong rimpang alang-alang di dalam tanah dan mengangkatnya ke permukaan tanah sehingga akan kering dan mati terkena sinar matahari. Pengolahan tanah perlu dilakukan beberapa kali agar semua rimpang kering akan mati. 3. Cara Kultur TeknisPengendalian alang-alang secara kultur teknis dilakukan dengan cara menanam tanaman penutup tanah dan tanaman sela.a. Dengan tanaman penutup tanah Tanaman penutup tanah yang tumbuh menjalar dapat menutup secara cepat, menaungi dan menghambat pertumbuhan alang-alang. Jenis cens tanaman penutup tanah leguminosa yang sesuai meliputi C. pubescens, P. javanica, P. triloba, C. mucunoides, Mucuna spp dan S. guyanesis. Tanaman penutup tersebut umumnya ditanam dalam campuran. Tanaman penutup tanah perlu diberi pupuk fosfat pada saat tanam agar pertumbuhan tanaman penutup tanah lebih cepat, terutama pada tanah-tanah yang kurang subur. b. Dengan Tanamana selaAlang-alang ditebas dekat permukaan tanah dan dibiarkan selama 2 minggu agar daunnya kering untuk kemudian dibakar. Lakukan pengolahan tanah diantara barisan tanaman dan kemudian ditanam tanaman sela seperti jagung, kacang tanah atau kedelai . Gulma disiang sebagaimana perlunya. Penanaman tanaman sela hanya dapat dilakukan selama 2-3 tahun karena produksi tanaman sela akan menurun karena pengaruh dari naungan. Pada kondisi ini pengendalian alang-alang dapat dilakukan dengan penyiangan secara manual, penyemprotan dengan herbisida secara spot atau pengusapan , atau dengan penanaman satu jenis tanaman yang relatif tahan terhadap naungan. 4. Cara kimiaCara kimia dilakukan dengan herbisida kontak dan herbisida sistemik. Herbisida kontak seperti paraquat dapat mematikan alang-alang secara cepat, namun alang-alang akan tumbuh kembali secara relatif cepat, dalam waktu 2 minggu, sehingga pengendalian dengan herbisada kontak kurang efektif.Herbisida sistemik seperti glifosat, sulfosat dan imazapyr menyebar dari daun alang-alang ke rimpang sehingga mematikan tunas-tunas yang ada di dalam tanah dan menghambat pertumbuhan kembali gulma tersebut. Alang-alang baru akan tumbuh dari rimpang yang tidak terjangkau oleh herbisida dan tidak tersemprot sebagai akibat tertutupnya daun alang-alang oeh vegetasilainnya. 5. Cara BiologiPengendalian alang-alang secara biologi menggunakan mikro organisme baik berupa candawan atau serangga, masih dalam tahap penelitian dan hasilnya belum dapat diterapkan di lapangan. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian)Sumber: Pengelolaan Alang-alang di Lahan Petani. Pusat Penelitian Karet Balai Penelitian Sembawa.1996.