Pengembangan perkebunan merupakan salah satu program pembangunan disektor pertanian yang berperan cukup besar dalam rangka perbaikan ekonomi wilayah termasuk ekonomi masyarakat yakni peningkatan pendapatan dan pemerataan usaha yang dapat menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat. Pembangunan perkebunan agar dapat berkembang secara baik, berkelanjutan dan berkesinambungan, sangat berkaitan dengan segala aspek pendukung seperti potensi sumberdaya lahan dan ketersediaan tenaga kerja yang ada diwilayah bersangkutan. Salah satu komoditas unggulan perkebunan yang prospektif serta berpeluang besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena sebagian besar diusahakan melalui perkebunan rakyat (+ 94,01%) adalah lada. Sampai tahun 2015 areal lada telah mencapai 1.650.621 Ha. Dalam rangka lebih meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pekebun, berbagai upaya telah dilakukan, diantaranya program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu komoditas lada berkelanjutan melalui pengembangan lada rakyat pada wilayah sentra lada dan berpenghasilan relatif rendah. Beberapa provinsi di Indonesia masih memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan komoditas tersebut, dengan dukungan ketersediaan lahan cukup luas yang secara teknis memenuhi syarat dan SDM yang memadai. Oleh karenanya usaha pengembangan lada tersebut sangat positif dan akan memberikan dampak yang mampu menggairahkan masyarakat petani pada umumnya. Tanaman lada (Piper nigrum L.) adalah tanaman yang adaptif terhadap naungan, karena mempunyai lintasan fotosintesis C3, oleh karena itu tanaman lada termasuk tanaman ternaungi (sciophytes) yaitu tanaman yang dapat tumbuh baik dalam keadaan ternaungi (Das et al., 1976 dalam Syakir, 2001). Walaupun tanaman lada tergolong adaptif terhadap naungan namun untuk mendukung pertumbuhan dan produksinya memerlukan kisaran radiasi surya yang optimal, dengan tingkat intensitas radiasi surya minimal 50% atau setara dengan energi radiasi rata-rata 251,8 cal/cm2. hari-1 (Syakir, 1994).Tinggi rendahnya tempat mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman lada. Untuk mencapai produktivitas optimal jika lada dibudidayakan di dataran rendah, yaitu di wilayah dengan ketinggian 3 – 1.000 m dari permukaan laut (m.d.p.l). Lada yang ditanam di dataran menengah atau tinggi (lebih dari 1.000 m.d.p.l), pertumbuhan vegetatifnya yaitu akar, batang, dan daun lebih dominan dibandingkan dengan kemampuannya menghasilkan buah (Sutarno dan Agus Andoko, 2005). Tingkat kemiringan lahan yang ideal bagi tanaman lada adalah maksimal 15% (http://www.ditjenbun.deptan.go.id). Pengertian peremajaan. Peremajaan adalah penggantian tanaman tidak produktif (tua/rusak) dengan tanaman baru secara keseluruhan atau bertahap, teknisnya dengan menggunakan bahan tanaman unggul yang berasal dari perbanyakan. Peremajaan dilakukan pada tanaman yang berumur > 25 tahun, terserang OPT utama ( PBK, helopeltis, VSD, dan busuk daun), dan tanaman dengan produktivitas rendah. Pengajiran diperlukan untuk menentukan keteraturan pertanaman untuk mempermudah pemeliharaan. Ajir dibuat dari bambu atau kayu dengan panjang 50 cm dengan ujung runcing. Secara umum ada 3 tahap pengajiran yaitu air untuk lubang tanam, ajir untuk tanaman lada, dan ajir untuk penyulaman pohon pelindung. Kebun lada yang diremajakan dapat dimanfaatkan dengan menanam tanaman sela semusim sebelum tanaman baru menghasilkan. Jenis tanaman sela/ musiman berasal dari suku Leguminoceae, misalnya kedelai dan kacang tanah. Tanaman sela / musiman perlu dipelihara, dipupuk, dan disiangi, hama, dan penyakitnya dikendalikan. Limbah tanaman sela/ musiman disarankan dikembalikan ke kebun sebagai pupuk hijau. Dua macam tanaman pelindung untuk peremajaan tanaman lada.Secara garis besar tanaman pelindung dibedakan menjadi dua yaitu :a. Penaung SementaraPenaung sementara seperti Moghania macrophylla dipangkas pada jarak 10 cm diatas permukaan tanah selama musim hujan. Hasil pangkasan digunakan untuk mulsa lada. Tanaman ini akan mati dengan senirinya setelah tertutup oleh tajuk tanaman lada. Penaung sementara pisang (Musa spp.), jumlah anakan diatur sehingga setiap rumpun maksimum hanya berisi 2- 3 batang. Umur anakan agar diatur supaya periode panennya dapat teratur. Anakan yang tidak dikehendaki dipotong, ditugal, dan disiram minyak tanah 2,5 ml/anakan. Penaung sementara dimusnahkan apabila tanaman lada sudah mulai berbuah yaitu setelah berumur 4 tahun. b. Penaung TetapLamtoro dan gamal semula sebagai penaung tanaman lada dengan jarak 3 x 3 m atau 4 x 4 m. Populasi dikurangi secara bertahap dan sistematis. Pada saat tanaman lada berumur 4 tahun. Tanaman lada muda memerlukan perawatan yang lebih intensif dibanding tanaman dewasa. Penyediaan nutrisi dan unsur hara yang cukup menjadi hal yang sangat penting. Pemupukan organik dilakukan pada saat cukup air yaitu awal dan akhir musim hujan. Pemberian pupuk pada peremajaan atau penanaman kembali perlu dilakukan sejak persiapan tanam. Pada saat pembuatan lubang tanam dianjurkan untuk memberikan pupuk kandang atau humus sejumlah 1/4 sampai 1/3 dari volume tanam, dengan tujuan untuk memberikan lingkungan tumbuh perakaran yang baik. Lada merupakan tanaman yang perlu dipangkas dalam perawatannya agar tanaman tidak kehilangan nutrisi pasa fase vegetatif maupun generatif sehingga mampu menghasilkan - produksi yang tinggi ( buah yang banyak) serta mengurangi intensitas serangan hama dan penyakit.Ditulis kembali oleh : Ir.Kukuh Wahyu WidjajantoBalai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP)Jl. Tentara Pelajar No.10 Bogor,14116E-mail : widjajantokukuh@yahoo.comSumber : Peningkatan Mutu Lada dalam Menunjang Industri Lada Indonesia, Direktorat Rempah dan tanaman Penyegar, 2013; 2) Pedoman Teknis Perluasan Tanaman Lada Tahun 2012; 3)Buku Pintar Budidaya Lada, Pusat Penlitian Kopi dan Lada Indonesia, 2010; 4) Budidaya Lada, BPTP Sulawesi tengah, BBP2TP, 2010; 5) Teknologi Budidaya Lada, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008; 6) Pedoman Bertanam Cokelat, Tim Bina Karya Tani, Yrama Widya, 2008.)