Loading...

Teknologi Budidaya Padi Salibu

Teknologi Budidaya Padi Salibu
TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SALIBU Budidaya padi salibu merupakan varian teknologi budidaya ratun, yaitu tunggul setelah panen tanaman utama yang tingginya sekitar 25 cm, dipelihara selama 7-10 hari atau dibiarkan hingga keluar tunas baru. Apabila tunas yang keluar kurang dari 70% maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu. Jika tunas yang tumbuh > 70% maka potong kembali secara seragam hingga ketinggian 3-5 cm, kemudian dipelihara dengan baik hingga panen. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan budidaya padi salibu adalah: hemat, tenaga kerja, waktu, dan biaya, karena tidak dilakukan pengolahan tanah dan penanaman ulang, selain itu menekan kebiasaan petani membakar jerami setelah panen (Erdiman, 2013). Di beberapa wilayah kerja BPP Plumbon budidaya padi salibu masih kurang diminati. Hal tersebut dikarenakan adanya kepercayaan di masyarakat yang tidak memperbolehkan menanam/memelihara tanaman padi dari singgang (sisa pertanaman). Namun beberapa keuntungan yang diperoleh dari penerapan teknologi padi salibu tersebut akan sangat membantu terutama di wilayah-wilayah yang awal musim tanamnya selalu terlambat karena ketersediaan air irigasi untuk pengolahan lahan di musim tanam pertama selalu tidak mencukupi untuk melakukan percepatan tanam. Adapun tahapan utama dalam budidaya padi salibu sebagai berikut : a. Persiapan Lahan untuk Budidaya Padi Salibu Lahan dibersihkan dari jerami sisa panen dan gulma, khusus gulma dapat dibersihkan secara mekanis, baik dengan menggunakan cangkul, sabit dan alat lainnya. Apabila populasi gulma cukup padat dapat disemprot dengan herbisida yang cara kerjanya kontak dan areal terbatas. Jika lahan terlalu kering lakukan penggenangan 1-2 hari, kemudian air dikeluarkan sampai tanah lembab. b. Pengolahan Tanah, Pesemaian, Tanam dan Pemotongan Ulang Pada budidaya padi salibu, pengolahan tanah, pesemaian dan tanam hanya dilakukan pada tanaman utama, ketiga kegiatan ini diganti dengan pemotongan ulang tunggul sisa panen. Panen tanaman utama dilakukan dengan mengikuti cara petani dengan meninggalkan sisa batang atau tunggul sekitar 25 cm dari permukaan tanah,selanjutnya dibiarkan selama 7-10 hari hingga keluar tunas baru. Apabila tunas yang keluar kurang dari 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu. Jika memenuhi syarat dilakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Alat pemotong yang baik adalah alat mesin pemotong rumput bermata pisau petak. Budidaya padi salibu melanjutkan pemeliharaan dari pemotongan sisa batang tanaman utama sejak awal Hari Setelah Pemotongan (HSP). Setelah tunas salibu keluar lakukan pengairan hingga ketinggian 2-5 cm dari permukaan tanah atau tunas yang keluar tidak tenggelam. c. Penyulaman Penyulaman dilakukan dengan memanfaatkan tunas-tunas salibu yang ada, caranya dengan memecah (membagi dua) tunas yang tumbuh hingga perakarannya, kemudian dipecah antara 2-3 anakan, lalu disulamkan ke lokasi tanaman yang tidak tumbuh. d. Pemupukan Pemupukan salibu dilakukan sama dengan tanaman utama atau sesuai dengan rekomendasi spesifik lokasi, yang dilakukan berdasarkan Permentan Nomor : 40/Permentan/ OT.140/4/2007,Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), dan Pemupukan Hara Spesifik Lokasi (PHSL).Pemupukan dilakukan secara tabur pada kondisi air macak-macak, pemupukan pertama diberikan sebanyak 40% dari dosis pada saat tanaman salibu berumur antara 15-20 HSP. Pemupukan kedua diberikan sebanyak 60% dari dosis pada saat tanaman berumur 30-35 HSP. e. Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu Hama dan penyakit merupakan cekaman biotik yang dapat mengurangi hasil, sehingga untuk mendapatkan hasil panen yang optimum perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit. Pada budidaya padi salibu pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara pengendalian OPT yang didasarkan pada ekologi, efisiensi, ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan berkelanjutan. Ketika tanaman salibu berumur 30 HSP, pengelolaan OPT dilakukan sama dengan tanaman padi pada umumnya. Teknik pengendalian hama dan penyakit terpadu yaitu : 1) Teknik agronomi Dengan pengolahan tanah, irigasi, pergiliran jenis tanaman, tanam serentak, pengaturan jarak tanam, dan pemupukan yang berimbang. 2) Teknik varietas tahan Menggunakan varietas yang tahan hama penyakit berdasarkan ketahanan genetik dan ketahanan ekologi (lingkungan). 3) Teknik Fisik dan Mekanik Menggunakan lampu perangkap, metilat lem, gelombang suara, boneka sawah,pengambilan secara manual, serta pemasangan perangkap. 4) Teknik hayati Dengan menggunakan musuh alami, bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. 5) Teknik pengendalian kimiawi Dengan menggunakan bahan-bahan kimiawi. f. Pengendalian Gulma Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan gasrok atau cangkul kecil bertangkai panjang. Penyiangan dengan gasrok selain membuang gulma juga dapat digunakan untuk menggemburkan tanah dan perbaikan sistem perakaran tanaman salibu. g. Panen dan Produktivitas Panen padi salibu dilakukan saat warna gabah menguning (95%) dan batang masih hijau Panen menggunakan thresher atau sabit (sisa tanaman maksimal 25 cm dari permukaan tanah). Teknologi padi salibu dapat menghemat waktu pertanaman sekitar 40 hari dibanding dengan tanam pindah. Tingkat produksi tanaman salibu sesuai input yang diberikan,diharapkan mampu berproduksi minimal sama dengan tanaman induknya. Oleh : Tri Macripah (Penyuluh Pertanian BPP Plumbon) Sumber : Panduan Teknologi Budidaya Padi Salibu, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian 2015