Tanaman kapas juga disebut dengan Gossypium sp, memiliki sekitar 39 spesies dan 4 spesies diantaranya yang dibudiayakan yaitu Gossypium herbacium L, Gossypium arberium L , Gossypiumn hirsutum L , dan Gossypium barbadense L. Dari empat spesies yang dibudidayakan tersebut, yang dibudidayakan di Indonesia saat ini adalah Gossypium hirsutum L. Untuk memperoleh hasil yang optimal, kapas membutuhkan tanah yang subur, dan draenasi baik dan daya pegang air tinggi, tekstur tanah lempung liat (silt loams), PH tanah sedikit asam sampai netral dengan (5,5), dan tanah banyak mengandung bahan organik. Pertumbuhan kapas mememerlukan suhu berkisar antara 20-30 derajat celcius. Kapas akan berhenti tumbuh pada suhu kurang dari 15 derjat celcius atau lebih dari 40 derajat celcius. Kapas rentan terhadap cuaca yang berawan. Selama 160 hari pertumbuhannya kapas memerlukan 800-850 jam penyinaran matahari atau 5 jam per hari.Teknologi Budidaya Kapas Di Lahan Sawah Penanaman kapas di Indonesia, dapat dilaksanakan di lahan sawah maupun di lahan kering/ tadah hujan baik secara monokultur, tumpang sari, tumpang gilir maupun secara bergiliran. Varietas yang digunakan adalah varietas kapas yang sudah dilepas pemerintah adalah Kanesia-1, Kanesia-2, Kanesia-3, Kanesia-4, Kanesia-5, Kanesia-7, Kanesia-8, Kanesia-9, Kanesia-10, Kanesia-11, Kanesia-12, Kanesia-13, LRA-566, ISA-2054. Penanaman kapas di lahan sawah pada umumnya dilakukan menjelang musim kemarau yaitu sesudah panen padi, sehingga sisa kelembaban tanah dan sisa hujan di akhir musim bisa dimanfaatkan. Penanaman kapas di lahan sawah, sebagian besar ditanam dengan sistem tumpangsari terutama dengan kedelai (di Jatim dan Jateng) atau dengan kacang tanah (NTB).Penyiapan lahan, penanaman kapas bersama kedelai setelah padi lahan sawah tidak memerlukan pengolahan tanah, namun perlu dibuat saluran drainase sedalam 25 cm dan lebar 25-30 cm dan dibuat bedengan dengan lebar 2-3 m. Perlu diingat bahwa tanaman kapas maupun kacang-kacangan (kedele, kacang hijau, kacang tanah) tidak tahan terhadap genangan air, sehingga untuk lahan-lahan liat, saluran draenasi dibuat agak dalam dan lebih lebar.Penanaman dan pola tanam, dapat dilakukan dengan tiga pola yaitu secara monokultur, tumpang sari dan tumpang gilir. Penanaman secara Monokultur, yaitu penanaman kapas dilakukan dilahan sawah secara monokultur merupakan pergiliran tanam setelah padi. Kapas ditanan diatas bedengan-bedengan yang terbentuk akibat pembuatan saluran-saluran draenasi dengan jarak tanam antar barisan 100-120 cm dan jarak tanam didalam barisan 25-40 cm seperti gambar di bawah ini.() xxxxxx () xxxxxx () Keterangan : () xxxxxx () xxxxxx () () = saluran draenasi ukuran 20 cm x 25 cm() xxxxxx () xxxxxx () x = 6 baris kapas, jarak tanam 100 cm x 25 cm () xxxxxx () xxxxxx () 2 Tn/lb (44.000 ton/ha)Tumpang sari (kapas dan kedele), yaitu kapas dan kedele ditanam bersama-sama diatas bedengan yang terbentuk akibat pembuatan saluran draenasi. Penanaman dilakukaan 5-7 hari setelah panen padi dengan tata tanam seperti gambar di bawah ini.() xx ooo () xx ooo () Keterangan : () xx ooo () xx ooo () () = saluran draenasi ukuran 20 cm x 25 cm() xx ooo () xx ooo () x = 2 baris kapas, jarak tanam 150 cm x 30 cm, 2 tan/lb () xx ooo () xx ooo () (33.000 tan/ha) o = 3 baris kedelai, jarak tanam 25 cm x 15 cm, 2 tan/lb (350.000 tan/ha) Tumpang gilir (kedele – kacang hijau/ kacang tanah), pola ini dilakuka apabila air masih memungkinkan setelah panen kedele. Lahan di jalur eks kedele dilanjutkan dengan menanam kacang hijau/kacang tanah yang merupakan tumpang gilir (kedele – kacang hijau/kacang tanah). Untuk penanaman kacang hijau setelah kedele, perlu dilakukan pengolahan tanah. Contoh pola tanam dapat dilihat seperti di bawah ini : () xx oo () xx oo () Keterangan : () xx oo () xx oo () () = saluran draenasi ukuran 20 cm x 25 cm() xx oo () xx oo () x = 2 baris kapas, jarak tanam 150 cm x 30 cm, 2 tan/lb () xx oo () xx oo () (33.000 ton/ha) o = 2 baris kacang hijau/kedele, jarak tanam 25 cm x 15 cm, 2 tan/lb (275.000 tan/ha) Pemeliharaan tanaman, yang penting dilakukan dalam pemeliharaan tanaman kapas adalah bagaimana cara pengendalian gulmanya, pengairan, pemupukan, penyulaman dan penjarangan, penyiangan dan pembubunan.Pengendalian gulma, dapat dilakukan dengan pemberian mulsa dengan ketebalan 3-5 cm. Pemberian mulsa berfungsi untuk mengurangi evaporasi dan untuk menekan pertumbuhan gulma (terutama rumput-rumputan). Penyiangan dapat juga dilakukan secara mekanis dengan menggunakan cangkul pada saat keadaan kering sebelum pengairan, Selain itu pengendalian dapat pula dilakukan dengan menggunakan herbisida yaitu : 1) herbisida pra tumbuh Goal 2E (Oxyflourfen), 1,25 l/ha diikuti dengan pemberian mulsa dan penyiangan mekanis 3 dan 6 minggu setelah tanam; 2) penyemprotan Goal 2E, yang dilakukan sesegera mungkin 5-7 hari setelah panen padi.Pengairan, pada pengairan tumpang sari kapas dan kedele, sebaiknya mengikuti jadwal pengairan kedele yang dilakukan pada saat awal pembungaan (25-35 hari setelah tanam/HST), pembentukan polong (50-55 HST), pengisian biji (65 HST) dan pemasakan biji kedelai (80 HST). Setelah panen kedele, tanaman kapas perlu diberikan dua kali tambahan pengairan yaitu pada umur 90 hari dan pada 115 hari. Setiap kali melakukan pengairan, perlu diusahakan agar daerah perakaran kapas sedalam 30-40 cm cukup mendapat air. Pengairan dilakukan dengan menggunakan air sumur atau embung dengan cara aliran permukaan ataupun dikocor.Pemupukan, jagung, kacang dan kapas dilakukan dengan waktu dan frekuensi yang tepat, secara rinci dapat dilihat sebagai berikut : 1) Jagung, frekuensi 2 kali, diberikan pada saat satu hari sebelum tanam dengan jenis pupuk TSP, KCl dan Urea, dan pada umur 30 hari diberikan Urea; 2) kacang-kacangan, frekuensi 2 kali, diberikan pada saat tanam dengan TSP dan Urea dan pada umur 20-30 hari dengan jenis pupuk Urea; 3) Kapas, frekuensi 3 kali, diberikan pada saat tanam, 30 dan 60 hari setelah tanam dengan jenis pupuk ZA, TSP, KCl dan Urea; dan 4) Kapas dan kacang-kacangan, frekuensi 2 kali, diberikan pada saat tanam dengan jenis pupuk TSP dan KCl dan 20-30 hari setelah tanam berupa pupuk Urea; Cara pemberian pupuk, dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : 1) pupuk disebar secara merata pada saat pengolahan tanah; 2) disebarkan bersama-sama dalam satu alur menurut baris tanam yang dibuat lebih dulu dengan kedalaman kira-kira 10 cm, yaitu sedikit lebih dalam dari tempat biji akan ditanam. Alur ini kemudian ditutup dengan tanah, alur dapat dibbuat sejajar dekat baris tanaman dengan jarak 7 cm; 3) Diletakkan dalam lubang yang dibuat dengan cara ditugal berdampingan disebelah lubang untuk menanam biji atau dalam baris tanaman dekat pada setiap lubang sedalam 5-10 cm. Penyulaman dan penjarangan, penyulaman dan penjarangan tanaman dilakukan sesuai dengan umur tanaman, sebagai berikut : 1) jagung penyulaman dilakukan pada umur 1 minggu dan penjarangan pada umur 2-3 minggu; 2) kacang tanah penyulaman dilakukan pada umur 1minggu dan penjaranganpadaumur 2-3 minggu; 3) kedelai penyulaman dilakukan pada umur 1 minggu dan penjarangan pada umur 2-3 minggu; 4) kacang hijau penyulaman dilakukan pada umur 1 minggu dan penjaranganpadaumur 2-3 minggu; dan 5) kapas penyulaman dilakukan pada umur 1-2 minggu dan penjarangan pada umur 2-3 minggu.Penyiangan dan pembubunan, penyiangan dan pembubunan dilakukan menurut keadaan. Bila rumput-rumputan dan tanaman pengganggu lainnya dirasakan mengganggu pertumbuhan tanaman maka dilakukan penyiangan dan pembubunan. Penyiangan dianjurkan minimal 2 kali yaitu umur 14 hari dan umur 28 hari. Sebaiknya sampai tiga kali yaitu pada umur 14 hari, 28 hari dan 42 hari tergantung tingkat perkembangan gulma, Untuk penyiangan dianjurkan menggunakan alat siang. Pengendalian penyakitBeberapa penyakit kapas yang sering ditemukan di pertanaman kapas di Indonesia antara lain : 1) penyakit pada benih dan kecambah yang disebabkan oleh Aspergillus, flavus, Culvularia sp, Fusarium sp, Penicillium sp, Rhizopus stolonifer dan Pestalotia sp. Sedang patogen yang menyerang kecambah antara lain Rhizoctoni, Solani, Sclerotium rolfsii dan Fusarium sp, Pythium sp, Thielaviopsis basicole, Gossypii dan Xanthomonas campestris pv malvacearum. Pengendaliannya dengan perlakuan Dithane M-45 denngan takaran 2,5 g/kg benih; 2) penyakit hawar bakteri yang disebabkan oleh bakteri X Campestris pv malcearum. Penyakit ini dikendalikan dengan melakukan: (a) sanitasi areal pertanaman; (b) menggunakan benih yang sehat, (d) menanam varietas yang tahan; 3) penyakit busuk buah, dapat dikendalikan dengan memusnahkan tanaman yang terserang dan menggunakan benih yang sehat dan berkualitas; 4) penyakit busuk arang yang disebabkan oleh macrophomina phaseolina. Pengendalian dilakukan dengan : (a) mengusahakan agar tanaman tidak kekeringan dengan memberikan pengairan yang cukup; (b) tidak menggilirkan tanaman kapas dengan tanaman yang merupakan inang penyakit ini; (c) menggunakan varietas yang tahan. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Pedoman Budidaya Kapas, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, 2011; 2) Pedoman Identifikasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), Dit. Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, 2009; 3) Dihimpun dari berbagai sumber.