Produksi daging sapi dan kerbau di Indonesia baru mencukupi 65% dari kebutuhan dalam negeri dan sisanya dipenuhi melalui impor daging dan sapi bakalan dari Australia dan New Zealand dengan laju sekitar 8% per tahun. Untuk mencukupi kebutuhanya perlu terobosan inovasi teknologi yang tidak biasa digunakan tetapi dapat berdampak langsung pada peningkatan populasi dan produktivitas ternak seperti kelahiran kembar.Upaya peningkatan produksi peternakan sapi potong baik kualitas maupun kuantitas terus diupayakan melalui berbagai program, namun pertumbuhannya belum mampu memenuhi target yang diharapkan yaitu meningkatnya produktivitas usaha tani masyarakat sehingga berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah pemanfaatan potensi genetik sapi lokal (sapi Bali) untuk kelahiran kembar. Walaupun teknologi belum terintroduksi secara umum namun peluangnya ada dan perlu dikaji sebagai alternatif teknologi maupun teknologi utama mendukung peningkatan produktifitas. Adapun sapi yang memiliki potensi kembar diseleksi sebagai berikut : (1) Sapi pernah beranak minimal satu kali, (2) Skor kondisi tubuh sedang s.d baik (5-7), (3) Ovarium normal (kanan dan kiri), (4) Tidak ada gangguan reproduksi (cyste atau kelainan lainnya), (5) Minimal 60 hari post partum, (6) Bebas penyakit reproduksi. Beberapa Cara Agar Bisa Mendapat Kelahiran Pedet Kembar Memiliki Probabilitas Yang Tinggi. 1) Pertama dengan cara seleksi, yaitu mengawinkan sapi berketurunan kembar. Bibit Sapi yang lahir kembar memiliki potensi untuk menghasilkan anakan sapi yang kembar juga, baik jenis sapi betina maupun jantan. Kelahiran ini dimungkinkan kembar karena faktor genetis saja, maka cari sapi yang lahir kembar untuk menghasilkan bibit sapi yang kembar pula. 2) Cara Kedua yaitu manipulasi reproduksi, dengan pemberian hormon pada sapi betina dewasa supaya menghasilkan lebih dari 1 sel telur, dan dapat dibuahi dengan spermatozoa hasil pemisahan kromosom. Tahap berikutnya, embrio hasil pembuahan akan membelah menjadi dua sel dipisahkan dengan micromanipulator, lalu dikultur hingga mencapai stadium matang dan siap dimasukkan di sisi kiri dan kanan rahim, sehingga akan menghasilkan anakan kembar. 3) Cara ketiga, dengan perpaduan kawin suntik atau insemenasi buatan (IB) dan transfer embrio. Secara simultan dilakukan pembuahan dengan kawin suntik dan pembuahan di luar. Sel telur yang sudah dibuahi dengan spermatozoa dalam embrio dari pembuahan luar kemudian dimasukkan ke bagian rahim sapi.Untuk mendukung ketersediaan daging, pemanfaatan teknologi sapi kembar merupakan peluang yang patut diperhitungkan.Secara alamiah peristiwa kelahiran sapi kembar memang sangat jarang terjadi. Peristiwa ini sudah diamati oleh para ahli lebih dari lima dekade yang lalu.Kelahiran kembar secara umum diyakini merupakan peristiwa yang dipengaruhi sifat genetik kembar yang pemunculannya sangat bergantung pada lingkungan dan salah satu faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah lingkungan pakan. Sifat genetik kelahiran kembar atau sifat genetik yang terdapat pada kromosom 19 dimiliki oleh seekor induk maka terdapat peluang 10% dari induk tersebut untuk melahirkan kembar dan jika pada kromosom 5 dan 7 juga terdapat gen bersifat superovulasi maka peluang untuk melahirkan kembar meningkat sampai 13%. Seleksi sifat kelahiran kembar dan perbaikan manajemen pakan dan pemeliharaan terbukti dapat meningkatkan peluang kelahiran. Amerika Serikat merupakan pioner pengembangan program kelahiran kembar. Meat Animal Research Centre Nebraska lembaga penelitian dibawah United State Department of Agricultural(USDA-MARC) memulai program pedet lahir kembar pada tahun 1984 dengan menerapkan seleksi sifat kembar, perbaikan manajemen pemberian pakan dan pemeliharaan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kelahiran kembar dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: 1). Kelahiran kembar dipengaruhi oleh lokasi, bangsa induk serta jenis kelamin pedet. 2) Bangsa sapi induk yang terbanyak melahirkan kembar adalah PO diikuti oleh induk persilangan Simmental-PO dan induk persilangan Brangus-PO, yang ternyata ketiganya membawa sifat sebagai sapi dwiguna (tipe potong dan perah). 3) Faktor paritas berpengaruh secara kuadratik terhadap kelahiran kembar dengan puncak kelahiran kembar pada paritas ke-2 dan 3. Pedet betina kelahiran kembar yang dihasilkan dari paritas ke satu dan yang telah melahirkan lebih dari satu kali kelahiran kembar berpeluang besar membawa sifat kelahiran kembar, sehingga setelah menjadi induk diharapkan akan dapat melahirkan kembar secara beruntun (minimal lebih dari satu kali). 4) Penggunaan pejantan yang berbeda tidak berpengaruh kepada induk untuk melahirkan kembar atau tunggal karena kelahiran kembar adalah kegiatan reproduksi pada induk dan tidak ada hubungannya dengan pejantan yang mengawininya. 5) Pada penelitian ini jenis kelamin yang dominan adalah betina 56% dan jantan 28% yang berasal dari sejumlah 64 pedet kelahiran kembar. Jika ratio jantan dan betina ini dapat digunakan untuk menggambarkan situasi yang sesungguhnya, maka dengan menjaring ternak-ternak kembar dan mengembangkannya secara tersendiri akan dapat menghasilkan jumlah kelahiran betina yang lebih banyak. 6) Pakan dan nutrien yang dikandungnya tidak dapat berdiri sendiri dalam memicu terjadinya kelahiran kembar, tetapi harus berinteraksi dengan lokasi (dalam hal ini lingkungan khususnya suhu dan cahaya pada intensitas tertentu dan hanya pada status fisiologis tertentu saja baru dapat memicu terjadinya ovulasi lebih dari satu yang jika pada saat tersebut terjadi pembuahan barulah dapat berakhir dengan kelahiran kembar pada sapi potong. 7) Diduga sapi PO mengandung gen kelahiran kembar dengan persentase yang lebih besar dari sapi potong umumnya sehingga sebaiknya sapi PO dijadikan prioritas dalam membangun breeding herd sapi kembar di Indonesia.Jadi, pemanfaatan teknologi kelahiran sapi kembar sebagai upaya terobosan untuk meningkatkan produksi sapi dan daging nasional bukanlah hal yang mustahil.Coba saja dibayangkan andaikata semua ternak betina produktif yang memiliki potensi melahirkan anak kembar dibudidayakan maka inilah salah satu alternatif untuk mempercepat perkembangan populasi sapi di Indonesia. (Suwarna –BPPSDMP) Sumber: 1. Prosiding Semnas Teknologi Peternakan dan Veteriner Tahun 20112. http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/fullteks/semnas/pro11-54.pdf3. http://sulsel.litbang.pertanian.go.id4. nad.litbang.pertanian.go.id5. www.sapibagus.com6. http://sumbar.litbang.pertanian.go.id