Loading...

Teknologi Padi Ratoon

Teknologi Padi Ratoon
Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) pada tahun 2015 telah menghasilkan beberapa inovasi dan paket teknologi tanaman padi, seperti menciptakan beberapa varietas unggul spesifik lokasi, Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (GP-PTT) dan lain-lain. Saat ini salah satu teknologi yang diterapkan adalah padi Ratoon. Teknologi ini mulai berkembang di Sumatera Barat, dan diujicobakan diberbagai daerah seperti di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Lain-lain.Teknologi Ratoon (Ratun) yaitu batang/tunggul setelah panen tanaman utama yang tingginya sekitar 5 - 15 cm, dipelihara selama 7 – 10 hari atau dibiarkan hingga keluar tunas baru untuk mengecek potensi daya tumbuh kembali dari batang tanaman tersebut, apabila tunas yang keluar kurang dari 70% maka tidak disarankan untuk melanjutkan budidaya Ratoon. Akan tetapi jika tunas yang keluar atau tumbuh lebih dari 70% maka teknologi Ratoon dilanjutkan dan kemudian dipelihara dengan baik hingga panen.Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan budidaya padi Ratoon adalah: hemat, tenaga kerja, waktu dan biaya, karena tidak dilakukan pengolahan tanah dan penanaman ulang, selain itu menekan kebiasaan petani membakar jerami setelah panen (Erdiman, 2013). Budidaya padi salibu dapat meningkatkan produktivitas padi per unit area dan per unit waktu, dan meningkatkan indeks panen dari sekali menjadi dua sampai tiga kali panen setahun. Jika dibandingkan dengan teknologi lain, padi Ratoon mampu menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak dan seragam, dan produktivitas bisa sama bahkan lebih tinggi dari tanaman utamanya. Penerapan budidaya padi Ratoon dengan memanfaatkan varietas berdaya hasil tinggi, tentu akan lebih memberi semangat aktifitas usahatani, karena dapat diperoleh tambahan hasil yang nyata.Salah satu upaya peningkatan produktivitas dan pendapatan petani adalah dengan memanfaatkan tanaman kedua (Ratoon) pada padi sawah. Ratoon adalah tunas yang tumbuh pada batang tanaman padi setelah dipanen. Pemanfaatan tanaman Ratoon dapat produksi per unit luas dan per unit unit waktu. Waktu untuk berproduksi tanaman ratoon lebih pendek jika dibandingkan dengan penanaman kembali serta memerlukan areal baru (Azis, 2015).Sejalan dengan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka perlu adanya inovasi baru untuk memacu peningkatan produktivitas padi sekaligus peningkatan pendapatan bagi petani melalui pemanfaatan dan optimalisasi lahan pasca panen / panen kedua (Ratoon).Padi salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunas akan muncul dari buku yang didalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplay hara tidak lagi bergantung pada batang lama, tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanam pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibandingkan tanaman induknya (Erdiman, 2012). Padi Salibu berbeda tipis dengan padi Ratoon, ratun adalah padi yang tumbuh dari batang sisa panen tanpa dilakukan pemangkasan batang, tunas akan muncul pada baku paling atas suplay hara tetap dari batang lama.Morfologi dari tanaman Ratoon atau tanaman yang pangkal batangnya dibiarkan tumbuh menjadi tanaman baru setelah dipanen sangat berbeda dengan tanaman non Ratoon. Biasanya, tinggi tanaman sangat rendah dan cabang muda yang efektif lebih sedikit pada Ratoon jika dibandingkan dengan tanaman lainnya. Namun, sebagai tanaman penghasil jenis Ratoon mempunyai total produksi cabang muda yang lebih besar daripada tanaman non Ratoon. Ratoon juga mengembangbiakkan banyak cabang yang tidak produktif dan tunas yang muncul dari ketiak daun yang mengandung aktivitas metabolik saat proses pengisian bulir padi.Tunas yang muncul dari ketiak daun akan berkembang pada bagian cabang, dan akan terus tumbuh hingga menjadi cabang Ratoon. Cabang muda tumbuh dari ruas cabang yang lebih tinggi serta berkembang dan matang lebih cepat. Ruas cabang biasanya juga memiliki jumlah daun yang lebih sedikit. Malai Ratoon berasal dari bongkol yang lebih rendah yang memiliki yang memproduksi lebih banyak butir padi oer malai daripada yang diproduksi oleh ruas cabang yang lebih tinggi, tetapi dengan presentase pengisian yang lebih rendah. Malai yang berasal dari ruas cabang yang lebih tinggi akan memberikan kontribusi lebih banyak terhadap produksi butir pada Ratoon jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh ruas cabang yang lebih rendah.Penggunaan varietas yang berbeda dapat menghasilkan produksi Ratoon yang berbeda, hal ini dipengaruhi karakteristik dari varietas itu sendiri. Menurut Krishnamurthy (1988), budidaya Ratoon telah lama dilaksanakan dibeberapa negara seperti India, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Keuntungan utama membudidayakan Ratoon, antara lain, ongkos produksi yang rendah, tidak memerlukan waktu dan lahan untuk persemaian, efisien dalam pemanfaatan musim dan umur tanaman lebih pendek.Varietas Padi anjuran paket teknologi peningkatan produksi pangan oleh Kementerian Pertanian yang erat kaitannya dengan hasil budidaya padi Ratoon adalah penggunaan benih bermutu dan bersertifikat. Tanaman yang berasal dari benih yang bermutu dan akan mampu menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik termasuk sistem perakaran yang akan menjadi karakter utama dari kelangsungan tanaman padi Ratoon. Selain itu secara genetik diketahui juga ada beberapa varietas padi yang mempunyai potensi Ratoon tinggi dan dapat dijadikan acuan untuk menghasilkan anakan padi Ratoon yang banyak dan baik.