Kebutuhan pakan di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya kebutuhan produksi peternakan. Poduksi pakan ternak ayam yang terdiri dari jagung, bungkil kedelai, tepung ikan tepung ungas, tepung daging, tepung tulang, asam amino sintetis dan campuran vitamin mineral saat ini sebagian besar berasal dari impor. Untuk itu diperlukan bahan pakan alternatif non konvensional untuk mengurangi bahan pakan ternak dari impor. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi kekurangan bahan pakan ternak khusunya ayam di Indonesia. Salah satu usaha tersebut diantaranya dengan mencoba memanfaatkan bahan pakan non konvensional yang belum lazim digunakan seperti limbah industri pertanian atau perkebunan. Dari berbagai industri perkebunan, kelapa sawit merupakan salah satu produk yang mempunyai perkembangan cukup besar. Perkembangan industri minyak sawit akan meningkatkan jumlah limbah yang dihasilkan diantaranya bungkil inti sawit atau palm kernel cake (PKC) dan limbah cair industri atau Solid Heavy Phase (SHP).Banyak penelitian sudah dilakukan untuk pemanfaatan bungkil inti sawit sebagai pakan ternak, terutama dari aspek kandungan zat gizi, kecernaan gizi, faktor-faktor penghambat dalam penggunaannya serta upaya untuk meningkatkan kualitas gizinya (Supriyati dkk. 1998). Salah satu faktor yang menyebabkan penggunaan bungkil inti sawit kurang diminati oleh pabrik pakan ternak adalah adanya kontaminasi cangkang atau batok yang terikut didalam bungkil inti sawit. Jumlah cangkang dalam bungkil biasanya bervariasi antara 10 hingga 20%, tergantung dari proses pemisahan cangkang dari inti sebelum pengambilan minyak dari inti sawit.Pakan alternatif berupa PKC dan SHP diharapkan dapat menggantikan kebutuhan terhadap bungkil kedelai sebagai pakan ayam. 1. Palm kernel cake (PKC). Bungkil inti sawit atau PKC adalah bahan yang diperoleh dari pengolahan kelapa sawit. PKC mempunyai peluang untuk menggantikan bungkil kedelai walaupun memiliki asam amino yang lebih rendah dibandingkan bungkil kedelai. Diperlukan teknologi sebagai upaya untuk meningkatkan kandungan protein dan asam amino dalam PKC diantaranya melalui proses fermentasi menggunakan Aspergillus niger. Pembuatan fermentasi PKC (FPKC) dilakukan dengan cara melakukan pengayakan dan penyaringan bungkil inti sawit dengan menggunakan alat penyaringan mesh 2 mm, selanjutnya dilakukan fermentasi menggunakan Aspergillus niger. Selanjutnya FPKC ditambahkan dengan enzim BS4 (E-FPKC) sebanyak 20% untuk meningkatkan kecernaan asam amino dalam saluran pencernaan. Menurut Arnold P Sinurat dkk, FPKC dengan tambahan enzim BS4(E-FPKC) dapat mengurangi kandungan serat kasar, meningkatkan protein kasar, serta meningkatkan sebagian besar asam amino. Penggantian bungkil kedelai dengan E-FPKC tidak mempengaruhi ketebalan kulit telur, (0,34 mm dan kekentalan putih telur, bahkan meningkatkan skor warna kuning telur menjadi 8,2. Bungkil kedelai dalam ransum pakan dapat digantikan oleh E-FPKC sebanyak 25% - 50% tanpa efek merugikan pada kinerja ayam petelur.2. Solid Heavy Phase (SHP) adalah limbah cair industri sawit yang banyak dihasilkan di Indonesia. SHP-fermented merupakan pengolahan SHP melalui proses fermentasi dengan Aspergillus Niger serta SHP dengan enzimatis BS4 yang dapat meningkatkan gizi. SHP yang sudah dikeringkan mengandung bahan kering 92,4%, protein kasar 10,04%, lemak 15,07%, abu 12,7% dan GE 4400 kkal/kg. Menurut Arnold P Sinurat dkk, rataan konsumsi pakan terbaik (109,1gr/ekor/hari) diperoleh dari ayam yang memperoleh pakan 50% SHP dan BS4 (enzim manannase produk Balitnak). Komposisi ransum terdiri dari jagung, bungkil, kedelai, dedak, dikalsium fosfat, tepung kapur, DL methionine, garam dan vitamin mineral premix dengan 50% penggunaan jagung digantikan oleh SHP. Sedangkan rataan produksi telur lebih tinggi (88,4%) diperoleh dari ayam yang mendapatkan pakan 25% SHP dan enzim BS4 dibandingkan produksi telur ayam yang memperoleh pakan standar (79,3%). Rataan bobot telur ayam yang memperoleh pakan SHP (59,83 gram) sama dengan bobot telur ayam dengan pakan standar (60,07% gram). Perbandingan jumlah pakan yang dihabiskan dan produksi telur tidak berbeda antara ayam yang memperoleh pakan dengan SHP (3,005 gram pakan/ gram telur) dibanding dengan pakan standar (2,544 gram pakan/ gram telur). Skor warna kuning telur dari ayam yang memperoleh pakan dengan SHP (6,0) tidak berbeda dengan pakan standar (5,4). Penggantian jagung dengan SHP-fermented dapat dilkukan maksimal 25% dari penggunaan jagung. Sedangkan peggantian jagung dengan SHP hasil proses enzimatis dapat dilakukan sebanyak 25% -50%.Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan)Sumber:Sinurat.A.P., T.Purwadaria, P.P. Ketaren, DZainudin dan I.P. Kompiang. 2000. Pemanfaatan Lumpur Sawit Untuk ransum Unggas: 1. Lumpur Sawit Kering dan Produksi Fermentasinya Sebagai Bahan pakan Ayam Broiler.Balai Penelitian Ternak.Sinurat.A.P., Tresnawati, Pius.K dan Tiurma.P 2016. Enzim BS4 Pada Bungkil Inti Sawit Terfermentasi Untuk Meningkatkan Produksi Telur Ayam. IAARD Press.Sinurat.A.P., T Purwadaria, I A K Bintang dan Tiurma P. 2016. Solid Heavy Phase (SHP) Sebagai Pengganti Jagung Dalam ransum Ayam. IAARD Press.Supriyati, Pasaribu T, Hamid H, Sinurat A. 1998. Fermentasi Bungkil Inti Sawit Secara Substrat Padat Dengan Menggunakan Aspergillus niger. JITV. 3:165-17