PendahuluanPadi (Oriza sativa) adalah salah satu komoditi utama di Indonesia, pada waktu revolusi hijau pada era 1960-an berhasil meningkatkan produktivitas Padi secara spektakuler, luas panen bertambah, dan kehilangan hasil menurun sehingga berdampak terhadap kecukupan pangan dunia. Revolusi hijau berhasil mengembangkan berbagai teknologi, baik teknologi budidaya, teknologi kimiawi maupun mekanisasi pertanian.Diketahui bahwa rata-rata produktivitas padi masih rendah berkisar 4.40 ton/ha, sedangkan negara seperti Ausralia, cina dan jepang berkisar 9,50, 6,3 dan 6.65 ton. Rendahnya produktivitas nasional disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu 1). alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian (perumahan, industri), 2). tenaga kerja muda makin enggan bekerja disektor pertanian. 3). peningkatan produktivitas makin stagnasi. 4). Adopsi inovasi teknologi pertanian dan manajemen agribisnis berjalan lambat Beberapa faktor kunci yang berperan dalam mengembangkan usaha tani tanaman pangan khususnya padi adalah; menjadikan pertanian sebagai basis pembangunan ekonomi pedesaan, membangun usaha tani modern berbasis agribisnis, koperasi dan karakteristik potenis sumberdaya lokal derah, mengembangkan sistem informasipembangunan pertanian untuk meningkatkan akses petani terhadap sumber informasi.Selanjutnya artikel ini akan fokus pada salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi pangan, terutama padi, adalah adopsi inovasi teknologi pasca panen.Proses pembudidayaan padi dilakukan oleh petani secara konvensional maupun modern dengan menggunakan alat dan mesin pertanian. Penanganan padi dari mulai panen hingga menjadi produk akhir yang siap didistribusikandinamakan pasca panen padi. Pasca panen padi merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang meliputi pemungutan (pemanenan), dan perontokan gabah, penampian, pengeringan, pengemasan, penyimpanan, dan pengolahan sampai siap dipasarkan atau dikonsumsi Proses Pasca Panen Pemanenan Padi yang penentuan pelaksanaanya didasarkan pada umur tanam dan pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu varietas, iklim dan tinggi tempatsehingga umur panen padi bervariasi dan perbedaannya berkisar 5-10 hari. Ciri-ciri padi siap panen yaitu ketika 90-95 % dari bulir padi sudah bernas atau sudah berubah warna dari kuning hingga keemasan. Umur panen adalah 30-35 hari setelah berbunga merata atau setelah 135-145 hari setelah tanam, dengan kadar air bulir pada musim panas berkisar 22-23% dan 24-26% di musim hujan. Setelah padi masak maka petani akan memanen baik secara tradisional maupun secara modern dengan peralatan; seperti combine harvester. Selanjutnya setelah dipanen akan dilakukan perontakan (mesin; power tresher). setelah didapatkan gabah, proses selanjutnya pembersihan sampai pengeringan sampai kadar air 14%. Gabah yang bersih dan kering kemudian disimpan baik dalam keadaan curah hujan (tanpa dikema) atau dikemas. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih kemasan yaitu kemasan harus dapat melindungi gabah dari efek pengankutan dan penyimpanan, kemasan tidak boleh mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari gabah dan tidak boleh membawa organisme penganggu (hama). Oleh ; JONI PARDILO, SP NIP 19791112010011021 Jabatan Penyuluh Pertanian Muda GOL III.c (penata) ReferensiRangkuti, A.P. 2009. Strategi Komunikasi membangun kemandirian Pangan. Fakultas Pertanian tekonologi pertanian, Institut Pertanian Bogor. Jurnal litbang Pertanian, 28 (2).Teknik pasca panen padi. UGM.ac.id