Loading...

TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN KEDELAI DI LAHAN KERING MASAM

TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN  KEDELAI DI LAHAN KERING MASAM
Saat ini upaya untuk meningkatkan produksi kedelai yang paling memungkinkan adalah dengan cara meningkatkan produktivitas dan menambah luasan areal pertanaman kedelai. Dalam kurun waktu 2010 - 2013 lembaga penelitian dan pengembangan yang berada di bawah Kementerian Pertanian ini telah menghasilkan teknologi budidaya kedelai yang Gambar : http://m.tabloidsinartani.comdapat meningkatkan produktivitas dari rata-rata 1,2 t/ha menjadi 1,4 t/ha. Namun, upaya pengembangan kedelai melalui perluasan areal tanam pada kurun waktu tersebut dinilai belum dapat memenuhi target. Hal ini terkendala pada kesesuaian tanaman kedelai dengan agroekologi serta agroekonomi dan juga meningkatnya alih fungsi lahan pertanian di Indonesia. Menghadapi kendala tersebut, Balitbangtan merekomendasikan untuk melakukan budidaya kedelai di lahan kering masam. Beberapa kendala budidaya kedelai di lahan kering masam pada umumnya adalah karena kondisi pH tanah, C organik, kandungan hara N, P, dan Ca rendah serta Al dan Mn tinggi sering menjadi penghambat pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.Teknologi Budidayaa. Waktu tanamKedelai tidak memiliki preferensi terhadap jenis tanah tertentu, sedikit membutuhkan air dan lebih produktif ditanam pada musim kemarau. Pada lahan kering, kedelai ditanam sesudah padi gogo atau jagung. b. Penggunaan varietas toleranVarietas kedelai toleran tanah masam sudah banyak ditemukan Badan Litbang Pertanian. Lahan masam bukan hanya mengandung Al dan Mn tinggi yang meracuni tanaman kedelai, tetapi kandungan hara N, P, K, Ca,Mg, dan hara lainnya rendah. Balitbangtan telah menemukan kunci teknologi untuk meningkatkan produksi kedelai di lahan kering masam Salah satunya dengan menggunakan varietas unggul Tanggamus yang toleran terhadap kemasaman tanah, dengan potensi produksi di lahan kering masam hingga 1,75 – 2 t/ha. Selain itu, pemanfaatan bahan pembenah tanah dan pupuk serta menambah kapur dan bahan organik, pupuk NPK dapat juga memperbaiki kesuburan tanah.c. Ameliorasi tanah masamTanah masam perlu disehatkan dengan meningkatkan pH dan menaikkan kejenuhan basa, serta pengkayaan unsur haranya. teknik ameliorasi tanah masam sebagai berikut:• Pengapuran untuk meningkatkan pH dan mengatasi keracunan Al.Dosis kapur disesuaikan dengan pH tanah, umumnya sekitar 3 t/ha, berkisar antara 1-5t/ha. Kapur yang baik adalah kapur magnesium atau dolomit yang dapat sekaligus mensuplai Ca dan Mg.• Ameliorasi pada lapisan tanah bawah (sub-soil) menggunakan gypsum.Pengapuran pada permukaan tanah hanya akan mengoreksi pH pada lapisan olah tanah, sedangkan pada lapisan sub-soil pH masih rendah dan keracunan Al masih terjadi. Oleh karena itu, pemberian gypsum pada lapisan sub-soil dapat memperbaiki pertumbuhan akar menjadi lebih dalam.• Pengkayaan fosfat tanah dengan pemupukan P dosis tinggi.Pada lahan masam dengan kandungan fosfat rendah (sekitar 4 ppm P) yang disertai kapasitas fiksasi P yang tinggi, pengkayaan fosfat dalam tanah (build-up soil P level) merupakan persyaratan mutlak untuk memperoleh produksi kedelai yang tinggi.• Pengkayaan bahan organik.Dengan pengapuran dan pemupukan saja, kandungan bahan organik tanah akan cepat menurun bila tidak diikuti pengembalian residu tanaman ke dalam tanah. Pola tanam yang mengikutkan leguminosa untuk dibenamkan ke tanah, pengembalian residu tanaman, dan pemupukan dengan kompos sangat dianjurkan.• Pengkayaan kalium.Pengkayaan K diperlukan bila ketersediaan K dalam tanah kurang dari 30 ppm dan kandungan liat lebih dari 18%. Takaran pupuk K secara umum adalah 100 kg K2O/ha, dengan cara ditebarkan bersamaan pupuk P dan dimasukkan ke dalam lapisan olah tanah dengan cara bajak.• Pengkayaan hara mikro.Bila tanah diduga kahat unsur mikro terutama Zn, Fe, S, B, dan Mo, pemberian pupuk mikro dalam bentuk chelat atau fritted trace element (F, T, E) perlu dilakukan. Teknik pengelolaan tanah• Jangka PendekPemberian pupuk organik. Petani menyadari bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah. Menurut mereka, pengaruh pupuk organik dalam memperbaiki kesuburan tanah kurang spontan akan tetapi pengaruhnya lebih tahan lama. Sedangkan pupuk buatan pengaruhnya spontan akan tetapi hanya tahan beberapa minggu atau bulan. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk hijau, kotoran ternak, bagas, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman bahwa pengusahaan tanaman semusim yang sebagian besar biomasanya tidak dikembalikan, lebih cepat menguras zat makanan yang ada di tanah, mereka mulai belajar mengembalikan sisa-sisa panen ke lahan.• Jangka panjangPencegahan erosi. Pada dasarnya petani menyadari pentingnya pencegahan erosi di lahan mereka, terutama pada lahan yang curam. Beberapa usaha yang telah dicoba adalah dengan membuat guludan sejajar kontur atau menggunakan batang pohon yang ditebang pada saat pembukaan lahan sebagai teras-teras akan tetapi karena intensitas curah hujan yang tinggi serta struktur tanah yang kurang mantap menyebabkan guludan tersebut mudah longsor. Sebagian petani ada yang membuat guludan tegak lurus arah kontur, sehingga air limpasan bisa mengalir lebih cepat. Cara ini memang bisa mengurangi kerusakan guludan dan mempercepat pematusan karena tanaman tertentu tidak menyukai tanah yang terlalu basah, tetapi pengikisan tanah (erosi) tetap terjadi.Pengaturan sistem tanamPemberaan. Untuk mempertahankan kesuburan tanah, petani memberakan lahan [Bahasa Jawa: bero] atau membiarkan semak belukar tumbuh di lahan yang telah diusahakan beberapa musim. Menurut mereka, tanaman akan tumbuh lebih baik pada lahan yang sebelumnya diberakan. Bera dengan hanya mengandalkan suksesi alami memerlukan waktu lebih lama untuk mengembalikan kesuburan tanah.Tumpanggilir. pengusahaan satu jenis tanaman semusim saja selama tiga tahun berturut-turut menyebabkan tanah menjadi "kurus" dan "cepat panas". Menurut pengamatan petani, jenis tanaman pangan yang banyak menguras zat makanan dalam tanah [Bhs.Jawa : ngeret lemah] adalah ubikayu, ketela rambat dan kacang tanah.Tumpangsari. Beberapa petani juga melakukan tumpangsari di lahan mereka. Pada umumnya dasar keputusan petani untuk memilih sistem tumpangsari adalah karena alasan ekonomi, bukannya kesadaran untuk mempertahankan kesuburan tanah. Misalnya pendapatan petani dari hasil tumpangsari jagung dan padi ternyata lebih besar dari hasil jagung atau padi monokultur. (Di tulis kembali oleh Suwarna Penyuluh Pertanian Pusat ) Sumber: 1. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Balitbangtan.2. https://fandicka.wordpress.com/page/3/ (Upload tanggal 7 Nopember 2016)