Loading...

TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENYAKIT MATI MERANGGAS DUKU (MMD) KANKER BATANG DUKU

TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENYAKIT MATI MERANGGAS DUKU (MMD) KANKER BATANG DUKU
Buah duku merupakan buah buni berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang dengan kulit buah berukuran sekitar 6 mm. Biji berwarna hijau terbungkus salut biji berwarna putih bening dan tebal, berair dan memiliki rasa masam hingga manis. Buah duku hampir sama dengan buah langsat, celoring, dan lainnya dengan berbagai variasi. Tanaman duku berasal dari Asia Tenggara sebelah barat. Pohon duku dapat tumbuh dan berkembang hingga mencapai ketinggian sekitar 30 meter. Batang pohon ini biasanya beralur dengan banir pipih muncul ke permukaan tanah. Kulit kayunya berwarna kelabu dengan bintik gelap dan jingga serta mengandung getah kental. Penyakit kangker batang duku disebabkan oleh jamur Phytopthora palmivora. Serangan penyakit ini pertama kali di laporkan terjadi di Kabupaten Batanghari pada tahun 2004. Di Jambi penyakit kangker batang duku ini disebut juga penyakit Mati Meranggas Duku (MMD). Gejala serangan : Kulit batang yang terserang setelah kering mengelupas dan tampak adanya bercak-bercak kecoklatan tidak teratur yang menunjukkan bagian batang yang busuk dengan batas yang jelas. Penyakit kangker batang duku dapat dikendalikan melalui beberapa Rekomendasi: ï‚· Pengendalian secara kultur teknis ï‚· Pengendalian secara biologi ï‚· Pengendalian secara kimia. Cara mengendalikan secara Kultur teknis Cara mengendalikan penyakit kangker batang duku secara kultur teknis adalah sebagai berikut; Mengatur drainase dilahan usaha tanaman duku bertujuan agar tidak terjadi genangan. Agar tanaman duku dapat tumbuh sehat, subur dengan baik maka perlu melakukan pemupukan berimbang (pupuk kompos/kandang/urea). Sebaiknya dilahan pertanaman duku diberi mulsa menggunakan mulsa untuk merangsang pertumbuhan akar, meningkatkan masukkan nutrisi, mengurangi evaporasi tanah, mengatur suhu tanah, menyediakan nutrisi bagi mikroba tanah. Usahakan pada waktu pemeliharaan dalam mengemburkan tanah maupun mengendalikan gulma sedapat mungkin menghindari terjadinya pelukaan terhadap akar maupun pangkal batang. Perlunya menjaga kebersihan kebun dari persaingan pertumbuhan lainnya. Mencegah masuknya inokulum ke kebun. Cara mengendalikan secara cara Biologi Pemberian Mikoriza. Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman, berguna untuk mengeluarkan senyawa yang dapat menstimulasi ketahanan tanaman terhadap pathogen, membantu penyerapan unsur hara serta mempertebal epidermis akar. Cara aplikasi memberikan Mikoriza: Untuk tanaman dewasa buat lubang melingkar sedalam 30 cm radius 1 meter dari pangkal batang duku, lalu taburkan mikoriza dengan dosis 30-50 gr/pohon, lalu tutup dengan tanah dan kemudian disiram. Untuk penanaman baru/ rehabilitasi yaitu dengan perlakuan bibit dengan mikoriza sebanyak 15 gram/ bibit langsung dekat perakaran. Pemberian Trichokompos dari pupuk kandang yang telah difermentasi dengan agens hayati “Trichoderma”. Cara aplikasi : pada pangkal batang diberi Trichokompos ini sebanyak 10-20 kg dan ditutup mulsa serasah daun kering. Timbunan campuran trichokompos dan serasah daun ini setinggi 50 cm. Penyiraman hasil fermentasi serbuk gergaji bulian pada lubang bekas pembongkaran. Cara aplikasi : Lubang bekas pembongkaran disiram fermentasi serbuk gergaji bulian sebanyak 100-150 ml perlubang. Fermentasi serbuk gergaji bulian dihasilkan dari perendaman 1 kg serbuk gergaji dengan 5 liter air selama 3-5 hari. Cara mengendalikan secara Kimia Menggunakan bubur bordo/ bubur California Bila baru terjadi serangan awal / ringan, cukup dipotong cabang yang mendekati cabang utama, kemudian diolesi dengan bubur bordo satu kali seminggu selama 3 minggu berturut-turut. Siramkan bubur bordo lebih kurang 1,5 meter dari pangkal batang sebanyak 3-5 liter. Pemberian dapat diulang 6 bulan sekali. Sterilisasi alat-alat pertanian dengan menggunakan carbolineum plantarum 50%, klorox atau formalin 5%, alcohol 70% atau bayclin sebelum digunakan pada tanaman lain. Penginfusan dengan menggunakan asam fosfit. Ditulis ulang oleh : Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber : Balitbangtang, BPTP Jambi dan Berbagai sumber media elektronik (Internet) Gambar : Balitbangtang BPTP Jambi