Dalam budidaya jagung untuk meningkatkan produktivitas, dapat diterapkan komponen teknologi dasar dan komponen teknologi pilihan. Komponen teknologi pilihan merupakan komponen teknologi yang dapat dipilih untuk diterapkan sesuai kemampuan petani agar tanaman jagung tumbuh lebih baik dan dapat meningkatkan kualitas serta produktivitas buah jagung. Komponen teknologi pilihan tersebut meliputi: 1) Penyiapan lahan; 2) Pupuk organik; 3) Pembuatan saluran drainase pada lahan kering; 4) Pembuatan saluran irigasi pada lahan sawah; 5) Pengendalian gulma secara mekanis atau dengan herbisida kontak; 6) Pembumbunan; 7) Pengendalian OPT (Organisme Penggangu Tanaman); dan 8) Panen tepat waktu dan pengeringan sesegera mungkin. Penyiapan LahanLahan yang akan ditanami jagung harus di bersihkan dari sisa-sisa tanaman, gulma/rumput, dan kotoran lainnya. Jika banyak tumbuh gulma dapat digunakan herbisida dosis tergantung ketebalan gulma/rumput, biasanya digunakan dosis 3 liter/ha larutan semprot. Tiga sampai empat hari setelah penggunaan herbisida perlu dilakukan pengamatan gulma yang belum terkena semprotan. Selanjutnya diolah dengan cara dicangkul atau dibajak agar tanah menjadi gembur, sehingga dapat memperbaiki struktur tanah. Jika tekstur tanah ringan atau sedang tidak perlu pengolahan tanah, biasa disebut tanpa olah tanah (TOT). Untuk pembersihan gulma/rumput pada TOT harus menggunakan herbisida sistemik, yaitu herbisida yang mematikan gulma sampai keakarnya. Dosis herbisida bahan aktif per liter air dapat mengikuti anjuran pada label kemasan. Satu minggu setelah penggunaan herbisida baru dapat dimulai tanam jagung. Pupuk Organik Pupuk untuk tanaman jagung, selain pupuk anorganik dapat diberikan juga pupuk organik jika direkomendasikan penggunaannya di daerah setempat. Pupuk organik dapat berupa pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau. Pemberian pupuk organik dilakukan pada saat tanam sebagai penutup benih pada lubang tanam. Ukuran pupuk kandang antara 25 - 50 gram untuk setiap lubang tanam atau setara dengan 1,5 – 3 ton per hektar. Bertanam jagung pada lahan masam diperlukan pupuk kandang berupa kotoran ayam ras atau ayam petelor yang biasanya mengandung kapur yang cukup memadahi. Pembuatan Saluran Drainase pada Lahan KeringJika jagung ditanam di lahan kering pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan tinggi dan pada saat musim hujan berpeluang tergenang, maka perlu dibuatkan saluran drainase di antara baris tanaman yang berjarak tanam lebar. Saluran pembuangan juga harus diperhatikan, dibuat cukup lebar untuk membuang limpasan air hujan. Pembuatan Saluran Irigasi pada Lahan SawahTanam jagung pada lahan sawah tadah hujan, sebelum penanaman dimulai, pertama kali dibuat saluran irigasi di sekeliling lahan dan setiap garis lahan berjarak 2 m. Saluran ini berfungsi untuk mengairi tanaman saat kekurangan air, karena air bagi tanaman jagung dibutuhkan pada awal pertumbuhan untuk perkecambahan dan pada saat pembentukan tongkol. Akibat kekurangan air biji gagal berkecambah dan tongkol jagung menjadi kerdil. Pengendalian Gulma Gulma yang sering tumbuh pada lahan jagung berupa rumput teki, alang-alang, tapak kuda, meniran, dan krokot. Cara penanggulangan gulma ini dapat secara mekanis, yaitu gulma langsung dicabut dengan tangan sampai bersih. Jika banyak tumbuh gulma, dapat digunakan herbisida dengan dosis mengikuti anjuran pada label kemasan. Pembumbunan Pembumbunan adalah penimbunan tanah pada sekeliling tanaman jagung setelah membersihkan rumput liar. Pengendalian OPT Hama utama yang sering mengganggu tanaman jagung meliputi lalat bibit, penggerek batang, dan penggerek tongkol. Sedangkan penyakit tanaman utama yang sering mengganggu tanaman jagung meliputi bulai, hawar daun, dan karat daun. Penanggulangan hama utama jagung tersebut dengan carbofuran (10 kg/ha), sedangkan penanggulangan penyakit utama jagung dengan metalaksil (2,0 g/kg benih. Panen Tepat Waktu dan Pengeringan Sesegera Mungkin Tanda-tanda jagung dapat dipanen, yaitu kulit atau klobot sudah berwarna coklat, biji jagung telah mengeras, terbentuk lapisan hitam minimal 50% di setiap barisan biji. Panenlah tongkol jagung, lalu angin-anginkan atau dijemur sampai kadar air tinggal + 20%. Setelah kering, jagung dipipil dengan alat pemipil jagung. Jangan menyimpan tongkol jagung dalam karung tertutup lebih 2 hari karena akan menurunkan kualitas atau akan cepat busuk. Demikian, uraian tentang komponen teknologi pilihan untuk budidaya jagung. Para petani dapat memilih komponen teknologi pilihan tersebut di atas sesuai kemampuan, untuk melengkapi komponen teknologi dasar, yaitu: 1) Varietas Unggul Baru (Hibrida atau Komposit); 2) Benih bermutu dan berlabel dengan daya kecambah >95%, perlakuan benih dengan metalaksil khusus di wilayah endemik bulai; 3) Populasi 66.000–75.000 tanaman/ha, jarak tanam 70–75 cm x 20 cm (1 biji per lubang) atau 70–75 cm x 40 cm (2 biji per lubang); dan 4) Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Semoga berhasil. (Penulis: Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Amir, MP dan Farida Arief. Teknologi Budidaya Jagung (Zea maize) Tanpa Olah Tanah (TOT). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan. 2012.2. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Jagung. Jakarta: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2015.3. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 2008. Panduan Umum Pengelolaan Tanaman Terpadu Jagung.