Dalam rangka swasembada pangan yang berkelanjutan salah satunya adalah peningkatan produksi kedelai, pemerintah melalui Badan Litbang Pertanian telah meluncurkan perakitan varietas kedelai ditujukan untuk menghasilkan varietas unggul dengan berbagai sifat yang menguntungkan, antara lain toleran kekeringan, toleran jenuh air, berumur genjah, dan tahan hama utama. Pada sebagian sentra produksi, kedelai ditanam di lahan sawah setelah padi. Penanaman kedelai varietas genjah memberikan peluang baik untuk memanfaatkan sisa air dari pertanaman padi musim kemarau.Varietas Genjah dan Toleran Kekeringan, Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan empat varietas kedelai genjah yaitu Argomulyo, Grobogan, Tidar, dan Gema masing-masing dengan umur panen 73-82 hari dan potensil hasil 2,0-3,4 t/ha. Varietas-varietas unggul kedelai umur genjah dan agak toleran kekeringan yakni : Argomulyo (umur panen 82, potensi hasil 2,00t/ha), Grobogan (umur panen 76, potensi hasil 3,40t/ha), Tidar (umur panen 78, potensi hasil 2,29t/ha), Gema (umur panen 73, potensi hasil 2,48t/ha).Selain genjah, keempat varietas juga relatif toleran terhadap kekeringan. Pengembangan varietas unggul ini diperlukan untuk mengantisipasi ancaman kekeringan pada pertanaman kedelai di lahan sawah, terutama dalam pola tanam padi-padi-kedelai.Varietas genjah dan toleran jenuh air, digunakan untuk mengantisipasi tanah jenuh air dan genangan akibat hujan berkepanjangan atau kebanjiran, telah teridentifikasi dua varietas toleran genangan, yakni Grobogan dan Kawi dengan potensi hasil masing-masing 3,4 ton/ha dan 2,8 ton/ha pada umur panen 76 dan 83 hari. Badan Litbang Pertanian juga telah mengidentifikasi tiga galur harapan toleran kondisi basah, yaitu Nan/rob-R172-2-409 (75 hari), Tgm/ Anjs- T205-1-750 (80 hari), dan Sib/Grob-V61-5-127 (78 hari) dengan potensi hasil masing-masing 2,4 t, 2,9t, dan 2,6 t/ha. Varietas – varietas dan Galur kedelai toleran kondisi basah pada fase vegetatif terdiri dari : Grobogan (umur panen 76, potensi hasil 3,40 t/ha), Kawi (umur panen 83, potensi hasil 2,79 t/ha), Nan/ Grob-R172-409 (umur panen 75, potensi hasil 2,39t/ha),Tm/ Anjs- 1-750 (umur panen 80, potensi hasil 2,87 t/ha), dan Sib/ Grob-V61-5-127 (umur panen 78, potensi hasil 2,59 t/ha). Perubahan iklim akan mendorong petani untuk mengubah pola tanam mereka pada lahan sawah dari padi-padi-kedelai menjadi padi-padi-padi, bila air cukup tersedia. Hal ini terutama disebabkan oleh harga kedelai yang relatif rendah sehingga petani lebih memilih padi karena memberi keuntungan yang relatif lebih tingi.Varietas toleran naungan salah satu peluang dalam pengembangan kedelai adalah memanfaatkan areal di kawasan hutan tanaman industri. Dalam hal ini diperlukan varietas toleran naungan. Pengujian menunjukkan varietas Grobogan, Pangrango, Argomulyo, dan Malabar toleran terhadap naungan. Dua galur yang telah teridentifikasi toleran naungan adalah IAC100/ Burangrang x Malabar dan IAC100/ Burangrang x Kaba. Dalam kondisi ternaungi, varietas dan Galur tersebut masih mampu berproduksi 1,1-1,9 ton/ha. Varietas – varietas kedelai dan galur harapan toeleran naungan terdiri dari : Grobogan (umur panen 76, potensi hasil 3,40 t/ha), Pangrango (umur panen 81, potensi hasil 2,75 t/ha), Pangrango (umur panen 82, potensi hasil 2,51 t/ha), Malabar (umur panen 87, potensi hasil 2,37 t/ha), IAC100/ Burangrang x Malabar (umur panen 82, potensi hasil 2,31 t/ha), dan IAC100/ Burangrang x Kaba (umur panen 87, potensi hasil 2,94 t/ha).Budidaya kedelai untuk daerah dengan curah hujan relatif tinggi, pola tanam yang semula padi-padi-palawija bisa berubah menjadi padi-padi-padi. Pada daerah dengan curah hujan relatif rendah, poa tanam yang mestinya padi –palawija-palawija berubah menjadi padi-padi-palawija. Perubahan pola tanam ini berdampak terhadap perkembangan hama yang menyerang tanaman.Pada kondisi tanah jenuh air perlu dibuat saluran drainase yang dalam dan antara saluran tidak terlalu lebar (4-6 m). Namun dalam kondisi kering dan curah hujan lebih renda, waktu tanam perlu dimajukan dan dipilih varietas genjah dan toleran kekeringan ( varietas Tidar, Argomulya, dan grobogan ) dan varietas tahan hama ulat grayak ( varietas Ijen).Oleh : Lilik Winarti/ mblilikwinarti@gmail.com Sumber : Badan Litbang Pertanian, 2015, Jakarta