Belajar dari upaya yg dicanangkan sebuah yayasan pendidikan Islam di Bogor untuk pembentukan karakter anak didiknya, dan tanpa bermaksud menggurui, saya merasa tidak ada salahnya untuk menyampaikan juga prinsip yg cukup sederhana ini kepada teman teman, bapak dan ibu yg juga melakukan pembinaan kepada setiap insan pertanian. Setiap dr qt adalah pemimpin, memimpin dirinya dan keluarganya. Dg menerapkan prinsip ini, saya rasa performa qt semakin lebih baik. Prinsip tsb meliputi: Menjadikan Tuhan YME sbg tujuanSetiap agama mengimana Tuhan Yang Maka Kuasa sbg Sang Pencipta, sehingga ketaatan kepada Tuhan adalah mutlak dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas. Pembiasaan ini bisa qt lakukan dengan selalu berdoa sebelum dan sesudah pada setiap aktivitas qt dengan penuh kesadaran. Memperhatikan perkembangan akal rasionalPendidikan karakter tidak akan membawa kesuksesan apabila qt tidak memahami makna perilaku dalam kehidupannya. Perlu upaya integrasi tentang pemahaman aspek duniawi dan ukhrowi (mengenai akhirat) yg merupakan satu kesatuan tak terpisah. Misalnya: bekerja untuk apa sih? Apakah manfaat semua ilmu dan pengetahuan yg qt pelajari? Adakah spiritual value untuk pembinaan dan pendampingan yg qt berikan? Sudah tepatkan kecanggihan IT yg qt gunakan?Dengan begitu, tidak hanya sebuah indikator ekonomi yg perlu terus diwujudkan seperti tingginya penghasilan atau pendapatan, luasnya lahan, peningkatan produksi, melek IT, dll...namun bagaimana membawa pelaku utama pertanian, pelaku usaha pertanian dan aparat pertanian menjadi SDManusia Insani, memiliki perilaku terpuji atau adab mulia sekaligus cendekia. Pintar dan menyejukkan.Seorang petani menerapkan cara bertani yg benar, menggunakan cara yg benar untuk menghasilkan produk yg sehat dan aman, dan lingkungannya terjaga.Seorang penyuluh senantiasa gigih mendampingi petani dg memberikan motivasi dan semangat, serta memberikan informasi yg benar.SDM milenial bukan berati tidak bisa menjadi SDManusia Insani, justru karakter milenial adalah karakter yg menyatukan pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran, kasih sayang dan keikhlasan sbg landasan berpikir, bertutur kata, berperilaku dan bertindak, dengan berbagai instrumen yg skrng sdg berkembang. Praktek melalui keteladanan dan pembiasaanMenurut Narvaesz (2008) keteladanan dan pembiasaan merupakan faktor utama dalam mengasah kecerdasan emosi. Budaya saling menasihati dengan santun dan lembut perlu dibangun pada setiap institusi/lembaga. Pemimpin perlu mengingat tim nya dan anggota tim pun boleh mengingatkan pemimpinnya. Kerja tim.....menjadi pilihan banyak organisasi u mencapai sebuah tujuan. Disinilah dibutuhkan saling mendukung, saling menguatkan, saling mengisi dan saling melengkapi. Alangkah indahnya jika sebuah tim kerja dapat menjalankan fungsinya scr sadar, tidak dalam tekanan sehingga muncul banyak sekali kreativitas. Tidak ada nahkoda tanpa bahteta, tidak akan ada nilainya sebuah bahtera tanpa nakoda. Semoga, apa yg saya tulis ini bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bapak dan ibu. Mohon maaf apabila terdapat hal yg kurang berkenan. Terima kasih.Tetap semangat!!! Bogor, 12 Okt 2019S. Pradini