Selain sapi dan kerbau, ternak yang paling dikenal dan banyak dipelihara petani adalah kambing. Banyak keuntungan yang diperoleh dari hasil produksi hewan yang takut air ini. Sebutlah daging, susu, kulit, maupun limbah berupa kotoran, urin, sisa pakan dan sebagainya. Pemasaran hasil produksi kambing pun terbilang mudah. Sebab, disamping harganya sudah stabil juga banyak penggemarnya. Terlebih lagi disaat-saat memperingati hari tertentu, seperti Hari Raya Kurban (Idul Adha), Tahun Baru, musim pesta dan sebagainya, harga kambing tiba-tiba jadi meroket karena ternak yang tidak pernah mandi ini merupakan primadona dibandingkan dengan ternak-ternak yang lain. Sebagaimana ternak ruminansia yang lain, kambing juga memerlukan keseriusan dalam pemeliharaannya. Hal ini bertujuan agar hasil yang diperoleh lebih maksimal. Misalnya saja, dalam hal pemilihan bibit, pembuatan kandang, pemberian pakan berimbang, pemeliharaan kesehatan dan penanganan penyakit. Yang tidak kalah pentingnya juga, adalah tindakan dan penanganan khusus pada saat kambing melahirkan. KELAHIRAN ANAK KAMBING Kambing sebelum melahirkan, sudah barang tentu didahului dengan kebuntingan. Kebuntingan terjadi setelah pejantan mengawini kambing betina. Perkawinan dinyatakan berhasil apabila ternak betina tidak lagi tampak birahi. Hal ini dapat dilihat pada siklus birahi selanjutnya. Dengan demikian, berarti sel sperma jantan sudah membuahi sel telur yang sudah diovulasikan. Keberhasilan ini ditandai dengan terjadinya kebuntingan. Berhasilnya perkawinan yang ditandai dengan kebuntingan tentu sangat diharapkan peternak. Namun, agar tidak terjadi kendala dalam proses selanjutnya, sejumlah tindakan penanganan perlu disiapkan. Ini disebabkan ketika kambing betina memasuki bunting tua dan siap melahirkan, masa ini merupakan masa kritis bagi ternak tersebut. Masa inilah yang perlu diperhatikan dengan seksama. Seperti halnya manusia, kelahiran merupakan pertaruhan hidup dan mati, baik bagi induk maupun calon anak di dalam kandungan. Beberapa tahapan dan perlakuan khusus harus diperhatikan dalam mengangani kelahiran pada kambing. Tahap dan perlakuan khusus tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu : pra kelahiran dan pasca kelahiran. Baik penanganan pada saat pra kelahiran maupun pasca kelahiran, hendaklah dilakukan secermat mungkin. Terutama dalam hal pemantauan. Pemantauan ini harus dilakukan secara berkala, terlebih pada saat kambing akan memasuki proses kelahiran. Dengan melakukan penanganan atau perlakuan khusus ini, maka diharapkan proses kelahiran akan berjalan mulus dan lancar tanpa hambatan yang berarti serta keselamatan induk maupun anaknya dapat diandalkan. Secara lebih rinci, perlakuan khusus induk kambing tersebut adalah sebagai berikut : 1) Penanganan menjelang kelahiran. Pada saat induk kambing sudah nampak bunting tua dan diprediksi sudah siap melahirkan, segera masukkan ke dalam kandang khusus kelahiran. Pemisahan dan perlakuan khusus di kandang tersendiri ini bertujuan agar induk kambing menjadi tenang dan nyaman menanti saat-saat terjadinya kelahiran. Pemisahan ini pun berguna untuk memudahkan peternak melakukan pemantauan terhadap ternak dan dapat sigap saat mengatasi situasi darurat. Penanganan selanjutnya adalah melakukan control dan pemantauan secara ketat. Kontrol dan pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan ternak yang akan melahirkan. Bila perlu peternak harus sanggup tidak tidur. Hal ini dilakukan karena banyak resiko yang akan timbul dalam proses kelahiran, baik bagi induk maupun anak yang akan dilahirkan. Perlu diperhatikan bahwa keberhasilan penanganan kelahiran lebih banyak ditentukan oleh kesiapan peternak dalam memantau perkembangan ternak. Hal lain yang tidak kalah pentingnya saat menangani ternak sebelum melahirkan adalah menyiapkan obat-obatan dan peralatan. Obat-obatan dan peralatan yang dibutuhkan dalam penanganan kelahiran antara lain antibiotika, vitamin, obat bulus cotrimoxazole, yodium, hormon oxytocin, alat injeksi (suntikan), kapas, gunting, kain lap bersih, telur ayam kampung dua butir dan anggur minuman. 2)Penanganan setelah melahirkan. Pada umumnya, induk kambing melahirkan anak secara normal dan alamiah sehingga tidak perlu penanganan khusus. Saat melahirkan ari-arinya langsung terlepas dan jarang terjadi kalau ari-arinya masih tertahan pada organ reproduksi. Namun demikian, beberapa perlakuan tetap diperlukan pada saat dan sesudah induk melahirkan anaknya (cempe). Setelah kelahiran, anak kambing segera dipisahkan dari induknya. Selanjutnya, induk diberi dua kuning telur ayam kampung yang sudah dicampur anggur minuman sebanyak 50 cc. Pemberian campuran minuman ini dengan cara dicekok (per oral). Selain campuran telur dan anggur, induk segera disuntik dengan antibiotika dan hormon oxytocin, lalu diberi tablet cotrimoxazole kedalam vagina dan dicekok obat cacing. Pakannya cukup separo dari dosis yang biasa diberikan. Pemberian dengan dosis seperti biasa baru dapat dilkukan pada hari ketiga setelah melahirkan. Setelah tiga puluh menit sejak melahirkan, susu kolostrum diperah dari induk. Susu yang baru saja diperah diberikan pada anak kambing (cempe) hanya 50 cc saja. Untuk sehari, pemberian susu kolostrum ini dilakukan hingga lima kali. Kolostrum merupakan susu pertama yang keluar dari ambing induk betina setelah melahirkan. Jumlah susu kolostrum yang diperah cukup 50% dari jumlah susu biasanya. Ini dimaksudkan agar kambing yang baru saja melahirkan tidak mudah terserang penyakit milk fever akibat seluruh produksi susunya diperah. (Inang Sariati) Sumber Informasi: https://www.pertanianku.com/cara-tepat-untuk-membantu-kambing-melahirkan/ https://www.google.com/search?q=kelahiran+anak+kambing