Loading...

TUMPANG SARI (MULTIVEL CROPING) TANAMAN PADI SAWAH SISTEM JAJAR LOGOWO DENGAN TANAMAN GONDA DI SUBAK PENARUNGAN (MUNDUK UMADESA) DESA PENARUNGAN KECAMATAN MENGWI

TUMPANG SARI (MULTIVEL CROPING) TANAMAN PADI SAWAH SISTEM JAJAR LOGOWO DENGAN TANAMAN GONDA DI SUBAK PENARUNGAN (MUNDUK UMADESA) DESA PENARUNGAN KECAMATAN MENGWI
Sistem tanaman jajar logowo merupakan pola tanam yang berselang seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau lebih) baris tanaman padi dan satu baris kosong yang merupakan rekayasa teknologi yang meniru tanaman pinggir yang mampu berproduksi tinggi .Adapun manfaat dan tujuan dari system jajar logowo antara lain : Menambah popolasi tanaman padi Mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian Hama dan Penyakit. Menghemat pemupukan Baris tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dalam memanfaatkan sinar matahari. Disisi lain ada kelemahanya salah satunya banyaknya tumbuh gulma yang tumbuh diantara barisan yang kosong. Untuk mengatasi kelemahanya tersebut dapat di tumpang sarikan dengan tanaman Gonda, yang mempunyai umur tanaman pendek dan nilai ekonomi tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani. Tanaman Gonda secara umum lebih dikenal sebagai gulma pada tanaman padi. Menurut USDA, tanaman gonda sangat invasif bahkan dilaporkan dapat menyebabkan pengurangan hasil panen padi hingga 25 -50 persen. Namun jika pengelolaan tanaman gonda dilakukan dengan baik apalagi gonda memiliki umur tanaman yang pendek maka dapat dimanfaatkan sebagai tanaman yang bisa ditumpangsarikan dengan tanaman padi. Bahkan beberapa hasil penelitian disebutkan bahwa tumpangsari padi – gonda diawal pertumbuhan pertanaman padi berpengaruh tidak nyata terhadap hasil padi. Sehingga penggunaan gonda sebagai tanaman tumpangsari pada tanaman padi sawah dengan sistem tanam jajar legowo diawal pertanaman padi menjadi rekomendasi petani padi di Desa Penarungan. Gonda adalah jenis sayuran yang cukup digemari oleh masyarakat Bali. Penggunaan utamanya sebagai sayuran baik sebagai pelengkap menu plecing, tumis maupun lalapan. Setiap 100 gr sayuran gonda mengandung lemak (4,47%), Protein kasar (18,27%), karbohidrat (70,30%), abu (6,69%), dan air (0,27%). Menurut Kementerian Pertanian AS kandungan protein pada gonda lebih tinggi dibandingkan kangkung dan kacang panjang masing-masing sekitar 5 persen. Panen gonda bisa dilakukan pada umur padi 20 hari setelah tanam. Di pasar tradisional desa, setiap satu ikat sayur gonda yang terdiri sekitar 12 – 15 batang gonda dijual dengan harga Rp 1.500,- - Rp 2.000,-. Dengan demikian penggunaan gonda sebagai tanaman tumpangsari dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani padi. Oleh : I Made Sudiana, SP (PP Pertama)