Tumpangsari Jagung-Kedelai Untuk Meningkatkan Produksi di Lahan Terbatas Permintaan Jagung dan Kedelai sangat tinggi. Untuk itu, peningkatan produksi Jagung dan Kedelai diharuskan. Hal ini bertujuan agar Indonesia mampu swasembada pangan. Kementerian Perindustrian (Liputan6.com, 10/11/2015) mengemukakan bahwa kebutuhan Jagung di Indonesia sebesar 13,8 juta ton pada tahun 2016. Jumlah ini merupakan gabungan kebutuhan untuk industri pakan maupun pangan. Industri pakan membutuhkan 8,6 juta ton dan pangan sejumlah 5,2 juta ton. Komoditas lainnya adalah Kedelai yang masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat disebabkan produksinya masih belum dapat memenuhi kebutuhan permintaan. Disisi lain, laju alih fungsi lahan semakin sulit untuk ditahan. Sementara itu, jumlah penduduk yang tinggi sangat membutuhkan untuk dapat mengkonsumsi makanan dengan baik. Pada umumnya kedelai dan jagung ditanam pada bekas lahan sawah dengan pola tanam padi-padi-palawija, padi-palawija-palawija, padi-palawija. Untuk mengatisipasi keterbatasan lahan maka dapat dikembangkan tumpangsari tanaman Jagung dan KedelaiHal ini sangat mungkin dilakukan mengingat tumpangsari juga bertujuan untuk meningkatkan keragaman tanaman, mestabilisasi produksi tanaman serta membantu mengurangi terjangkitnya tanaman dari hama dan penyakit yang menyerang. Adapun manfaat lainnya adalah melalui tumpang sari maka pemeliharaan tanaman dalam melaksanakan membubunan dan penyiangan menjadi lebih mudah. Dengan beberapa kemudahan tersebut, makan terdapat efisiensi biaya dan waktu bila jagung dan kedelai ditumpangsarikan. Pada budidaya jagung dan kedelai yang ditumpangsarikan, tanaman kedelai memiliki tinggi lebih rendah dibandingkan dengan jagung, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: (1)pengaturan jarak tanam; (2) jumlah baris tanaman kedelai; (3) waktu tanam kedelai dan jagung; serta (4) jenis varietas kedelai.Jarak tanam perlu diatur sehingga tidak terjadi kompetisi unsur hara sehingga produksi tanaman kedelai dapat terjaga. Hal lain yang perlu dilakukan adalah varietas kedelai yang dipilih merupakan tanaman yang tahan naungan. Sebab terbatasnya tanaman kedelai mendapatkan sinar matahari dapat menjadi masalah tersendiri. Tumpangsari jagung-kedelai dapat diterapkan pada sistim tanam legowo 2 : 1 dimana dua baris tanaman dirapatkan (jarak tanam antar baris).Dengan tanam legowo maka diantara setiap dua baris tanaman terdapat ruang untuk pertanaman kedelai. Tingkat produktivitas jagung diperoleh pada pertanaman legowo tidak berbeda bahkan cenderung lebih tinggi (karena adanya pengaruh tanaman pinggir/border) dibanding pertanaman baris tunggal (tanam biasa).Pada tanam legowo akan menyisakan ruang kosong sehingga dapat ditanami 2 baris tanaman kedelai tanpa menurunkan produktivtass jagung sehingga terjadi peningkatan indeks penggunaan lahan dan pendapatan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelai yang ditanam di antara tanaman jagung akan diperoleh 50% dari hasil kedelai yang ditanam sistem monokultur. Penanaman tanaman kedeai sebagai tumpangsari pada tanaman jagung juga dapat memperbaiki kesuburan lahan karena adanya fiksasi N dibanding sistem monokultur jagung Cara Budidaya Tumpangsari Jagung dan KedelaiA. Penanaman jagung1. Gunakan varietas hibrida bertipe tegak, Bima-2, Bima-4, Pioner-21, Bisi-16 dll.2. Pastikan bahwa benih yang ditanam mempunyai daya berkecambah (>90%).3. Tanah diolah sempurna4. Tanaman jagung ditanam 1 biji per lubang dengan sistem tanam legowo/double row, kemudian ditutup dengan pupuk organik 1 genggam5. Jarak tanam untuk tanaman jagung sistem legowo adalah (100-50) cmx 20 cm atau (110-40) cm x 20 cm.6. Dosis pemupukan yang digunakan adalah: (1) Lahan sawah menggunakan takaran 350 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian diberikan 2 kali, pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar. Pemupukan kedua dilakukan pada 35-45 hst dengan takaran 250 kg urea per hektar. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah; (2) Lahan kering menggunakan takaran 325 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian diberikan 2 kali, pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar. Pemupukan kedua pada umur 35-45 hst dengan takaran 20 kg urea + 100 kg phonska/pupuk majemuk lannya. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman di tutup dengan tanah.7. Penyiangan dan pembumbunan dilakukan dengan cangkul. 8. Penen dapat dilakukan apabila kelobot sudah kering dan lapisan hitam pada pangkal biji (black layer) telah terlihat. Sisa batang tanaman (biomas) dijadikan kompos atau dapat digunakan sebagai mulsa diantara baris tanaman untuk pertanaman berikutnya.B. Penanaman kedelai1. Gunakan varietas kedelai yang toleran naungan, diantaranya Wilis. Jumlah benih yang dibutuhkan 15- 20 kg/ha2. Benih dicampur dengan inokulan Rhizobium sp (nodulin, rhizogin dll) 5 kg benih per 10 g (1 saset), caranya adalah benih dibasahi kemudian ditiriskan, inokulan ditaburkan dan diaduk merata hingga merekat dan diperkirakan semua benih mendapatkan inokulan, kemudian segera ditanam. Hindari terkena cahaya matahari langsung pada benih yang telah dicampur dengan nodulin3. Benih ditanam di antara barisan legowo pada tanaman jagung dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, sehingga terdapat 2 barisan tanaman kedelai antara setiap barisan legowo jagung. Penanaman kedelai dapat bersamaan dengan penanaman jagung atau 1-7 hari setelah penanaman jagung. 4. Dosis pupuk yang digunakan adalah 50 kg urea + 50 kg phonska/ha 7- 10 hst (bersamaan dengan pemupukan pertama jagung apabila tanamnya bersamaan).Kedelai di panen sebelum polong pecah, yaitu saat polong berwarna coklat. Kedelai sebaiknya dipanen lebih awal dari jagung. Biomas tanaman dapat dijadikan kompos. Sumber: Balikabi dan Balitsereal, Badan Litbang Pertanian, liputan6.com dan sumber lainnya. Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.comPenyuluh Pertanian BBP2TP